WARNA-WARNI KEHIDUPAN

Pelangi Hidupku

NitaTahun 2014 tinggal beberapa hari lagi, and I’m thankful for so many things but mostly God, without Him I’d have nothing else to be thankful for.

Begitu banyak hal terjadi dalam hidup saya, baik dan buruk. Tahun ini saya diizinkan Tuhan mengalami kehilangan Tante saya yang sudah seperti mama sendiri, yang dipanggilNya lebih dulu dengan sangat mendadak. Sedih dan tidak rela ketika mengetahuinya, begitu juga dengan papanya pacar saya yang juga dipanggilNya dengan begitu tiba-tiba. Lagi-lagi sedih dan sangat tidak rela. Tapi hal yang selalu saya pegang dan mengingatkan saya kembali adalah bahwa rencana Tuhan adalah rancangan damai sejahtera dan bukan kecelakaan.

Bukan hanya itu, tahun ini Tuhan izinkan saya untuk bekerja di divisi yang baru, yang totally different dengan apa yang saya kerjakan selama beberapa tahun belakangan, dan saya sangat bersyukur karna biarpun sangat sulit buat saya, tapi Tuhan menyertai langkah saya. Melalui pekerjaan ini TUHAN membuat saya bisa melihat dunia luar sehingga setiap perjalanan yang saya lakukan terasa begitu menyenangkan dan hidup saya terasa lebih hidup. Tuhan mengingatkan saya untuk kembali berserah penuh padaNya dan bukan pada kekuatan sendiri. Tuhan membuat saya mampu melawan ketakutan saya yang selama ini sulit untuk saya kalahkan. Tuhan membuktikan bahwa Dia mau dan mampu membawa saya dari kemenangan yang satu kepada kemenangan berikutnya.

Tahun 2015 nanti, ada beberapa hal yang Tuhan ingatkan kembali untuk saya pribadi :

  1. I am not lucky, I am blessed! He loves me beyond words! Each day His mercies are new and His promises await me!
  2. Just focus on Him. He has prepared great things in store for me! He loves-and longs-to make impossible things possible for me!
  3. Place my trust in God alone and His promises. Always believe that there’s always something better up ahead for me!
  4. Don’t be moved by fear, my faith can take me beyond it!
  5. Never give up on something you really want, it’s difficult to wait but worse to regret!
  6. Life is like an elevator, on your way up, sometimes, you have to stop and let some people off
  7. The beginning of each new year represents a special opportunity. Be wise!

Mungkin hal yang sama yang Tuhan juga ingatkan buat teman-teman sekalian. Akhir kata saya ucapkan Merry Christmas and Happy New Year!!! God bless! =) (Nita-INSIDE)


Kasih KaruniaNya adalah Hadiah bagiku

LorenTahun 2014 adalah tahun yang membuatku sungguh menyadari bahwa semuanya yang ada dalam hidupku semata-mata karena kasih karunia Tuhan. Sepanjang perjalanan ini, bersama dengan Tuhan tidak pernah mengecewakan. Each day is a gift.

                Sobatku bilang moment itu penting karena tidak akan pernah terulang kembali. Aku dulu tidak menyadarinya namun perlahan mulai mengerti maknanya. Awal tahun selalu dilalui dengan penuh harapan dan sukacita yang baru. Namun pada akhirnya yang penting bagiku adalah perjalanan hidupku beserta denganNya.

Air mata haru dan Sukacita (Full of surprises)

Suka cita yang Tuhan nyatakan melalui teman-teman dan sahabatku.

Rekonsiliasi dengan seorang sahabat

Akhirnya…. Kami rekonsiliasi. Thanks to both of my friends. Aku malu untuk cerita tapi tidak mengapalah…aku ceritain ending-nya aja🙂.  Akhir yang benar dari suatu konflik adalah pemulihan hubungan. Tidak selalu mudah namun sungguh berarti. Apapun yang terjadi biarlah jadi pelajaran yang berharga. Kasih Tuhan memulihkan.

                Kisah selanjutnya….

Yes! Dapat buku autobiografi-nya Mr. Clinton dari seorang kawan. Tidak pernah menyangka bisa kebagian karena jumlah buku yang tersedia untuk dibagi sangat terbatas. Surprise rasanya ketika aku yang pengen malah aku yang ditanyain bukan aku yang memohon supaya kebagian jatah hehehe… Beneran deh, saat itu jadi berasa banget kayak Tuhan sendiri yang nanyain. Tuhan selalu menyediakan bagiku. Tuhan ingetin kalo Tuhan itu ngga pernah lupa sama aku. Yang perlu aku lakukan hanya minta, ngomong sama DIA. Yang aku perlukan sudah tersedia. God is my provider. ( thanks to Mr. “Oprah” :))

                Dapat ticket nonton konser Don Moen. Siapakah aku ini jika bukan karena sobatku maka yang seperti ini bisa terlewatkan. Hal-hal yang ajaib dalam hidupku itu datangnya dari Tuhan karena Tuhan Yesus bilang bahwa DIA sahabatku. Amin!!  Bersyukur banget Tuhan ingetin melalui hal ini. God is my best friend.

Kisahku dengan sahabat-sahabat lama dari Bible Study Group juga membuatku menangis terharu. Sama sekali tidak menyangka bahwa setelah bertahun-tahun kami berteman, mereka tetap mengasihi dengan berdoa dan memberikan dukungan yang menguatkan dan meneguhkan hati. Sungguh melalui mereka aku diingatkan bahwa Tuhan tahu aku butuh diperhatikan, disayang dan dikuatkan. God is my strength. 

                Lalu ada kisah yang lain lagi…

Tentang kabar yang kurang baik mengenai kesehatanku. Yah…kata dokter perlu observasi. Belum tentu sakit itu. Aduh…sedih rasanya mendengar kabar yang model begini. Entah besar atau kecil tetap aja judulnya sakit and I don’t like to hear it. But again… I know I have to believe that everything in my life is come from Him alone.

God is my healer. Bukan hanya soal sakit jasmani tapi lebih dari itu adalah how much I put my trust in Him.  Menyadari benar bahwa semua hanya karena kasih anugerahNya, aku berdoa pada akhirnya kehendak Tuhan yang jadi. Aku percaya rancanganNya adalah rancangan damai sejahtera bukan kecelakaan.

                Every moments count.

Hidup itu sebuah perjalanan. Dalam perjalanan itu ada banyak moment terjadi. Setiap moment itu Tuhan yang berikan. Aku tidak bisa mengatur kapan moment itu datang. I can only embrace it and receive it with a grateful heart. Karena aku tahu dan aku percaya bahwa Tuhan selalu ada disana besertaku.

                I just want to say, “thank you, Lord for your everlasting grace.” Selamat tinggal tahun 2014 dan selamat datang tahun 2015. Tahun yang baru dengan Kasih KaruniaNya yang selalu baru. God bless you all! (Loren Sartika-INSIDE)


The Journey So Far

Denny PranoloBiasanya saat kita semakin tua, kita akan melihat ke belakang, ke hari-hari yang sudah lewat dan tertawa sendiri atau malu sendiri dengan apa yang kita pernah lakukan di masa lalu. Hal yang sama saya rasakan ketika mendapat tugas menulis artikel untuk bulan ini: pengalaman perjalanan bersama Tuhan sampai sejauh ini. Saya tidak merasa saya sudah lebih dewasa dalam Tuhan, hanya saja tema bulan ini mengharuskan saya kembali melihat ke belakang, ke masa yang sudah lalu dan sebagai akibatnya saya jadi tertawa sendiri dan malu sendiri mengingat apa yang saya lakukan di masa lalu.

Sejak lahir baru sampai sebelum menikah, saya dibesarkan dalam sebuah komunitas yang sangat “nge-roh”. Di mana karunia rohani menjadi praktik umum dalam setiap pertemuan, doa dan penyembahan berjam-jam bukan sesuatu yang asing, dan mujizat menjadi seperti begitu mudah. Dibesarkan di komunitas seperti ini membuat saya menjadi tinggi hati, sombong, arogan, merasa diri paling baik dan merendahkan orang Kristen lain, bahkan hamba-hamba Tuhan .Seringkali saat melihat hamba Tuhan – yang sudah punya nama bahkan – saya bisa menyerangnya habis-habisan hanya karena ia tidak berada di sisi yang sama dengan saya. Untunglah saya tidak melakukannya secara publik, tapi cukup dalam hati atau dalam pembicaraan pribadi dengan orang-orang tertentu saja.

Bahkan ada satu hamba Tuhan yang saya tidak suka, bukan karena kepribadiannya, atau ada masalah dengan pelayanannya, tapi karena ia konsisten membawakan pesan yang berbeda dengan yang selama ini saya anggap sebagai “kebenaran” dalam komunitas saya. Tapi Tuhan selalu punya cara mengubahkan orang. Istri saya ternyata adalah fans hamba Tuhan itu dan ia senang mendengarkan khotbahnya. Sebagai suami yang baik, mana mungkin saya melarang orang mendengarkan khotbah kan? Dan sambil ia memasang khotbah hamba Tuhan itu saya ikut mendengarkan.

Awalnya, seperti biasa saya tidak suka, tapi lambat laun, saya mulai bisa melihat panggilan khusus Tuhan dalam hidupnya. Dan sekarang, walaupun saya tidak menjadi fans hamba Tuhan itu, tapi saya lebih bisa menerima pesan-pesannya. Saya tidak lagi menyerangnya seperti dulu. Atau tidak menyukainya seperti dulu. Apa yang saya pelajari dari perjalanan saya mengikut Tuhan adalah: tidak apa jika kita berakar, memperdalam suatu aspek kebenaran spesifik, bahkan menjadi ahli di dalamnya. Seperti ada beberapa aliran gereja yang memang terkenal dengan pengajaran-pengajaran tertentu. Tapi untuk merasa bahwa aspek kebenaran spesifik yang kita mengerti itu sebagai seluruh kebenaran, adalah suatu kesalahan besar. Apa yang kita mengerti hanyalah satu aspek kecil dari seluruh aspek kebenaran Allah.

Seringkali kita merasa dengan mengerti satu aspek kebenaran kecil saja, kita sudah menjadi master dan berhak menilai, bahkan menghakimi orang lain yang tidak sepaham dengan kita. Padahal kita baru jadi master di bidang yang kita mengerti saja. Dan orang yang kita hakimi juga master di bidang yang ia mengerti juga. Jadi kita sama-sama master, hanya saja di dua bidang yang berbeda. Dan konyol kalau kita menilai orang lain berdasarkan bidang yang kita kuasai. Sama saja seperti seorang pemain bola menilai seorang petinju. Tidak mungkin. Penilaiannya pasti tidak sahih, karena memang beda dunianya. Perjalanan ini memang belum berakhir, saya tidak tahu apa yang akan dihasilkan oleh perjalanan ini. Mungkin suatu hari nanti saya bisa membagikan apa yang saya alami setelah ini. (Denny Pranolo-INSIDE) 


KASIH KARUNIA TUHAN SAJA

ErnaDua ribu empat belas, angka tahun yang menurutku berjalan amat sangat cepat! Mungkin saja 2015 juga akan berjalan jauh lebih cepat.

Hmm… hidup ini sesungguhnya adalah masa pembelajaran, yang hanya akan berhenti ketika nafas ini sudah tak lagi berhembus. Selama itu pula, aku banyak diijinkan Tuhan mengalami bermacam hal, yang tidak semuanya baik. Dan tidak semuanya mendatangkan bahagia. Tidak melulu cuma ada tawa. Tidak juga terus menerus bisa sumringah senantiasa.

Masih segar di memoriku ketika pada akhir 2010, aku, orangtuaku, kakak dan adik-adikku, harus terpisah selamanya dengan kakakku yang pertama. Dia cantik. Pintar. Dan jadi kebanggaan orangtua khususnya ayahku. Hanya dalam waktu kurang dari 4 bulan, ia harus menghembuskan nafasnya yang terakhir karena tidak lagi kuat melawan sel ganas bernama kanker. Yang mengenaskan buat kami adalah, usianya yang masih amat sangat muda, 44 tahun.

Satu minggu terakhir kemunduran fisiknya yang menyayat hati siapapun yang melihatnya, semakin tampak nyata. Tapi aku justru sengaja merekam setiap detil. Aku menyaksikan semuanya. Kondisi badannya yang hanya tinggal tulang. Badannya yang mulai tidak bisa digerakkan. Suaranya yang mulai hilang. Dia tidak bisa bicara. Tidak bisa menatap dengan baik. Tidak bisa menelan. Dan seterusnya.

Satu kali di kamar, ketika aku berbaring di sebelahnya, aku tatap lekat-lekat tulang hidungnya yang tinggi. Pada waktu itu semangat hidupnya masih sangat tinggi walau fisiknya sudah membuatku tidak tahan untuk tidak meneteskan air mata.

“Kenapa?” tanyanya yang tiba-tiba membuka mata. Aku terkejut.

“Tidak apa-apa…” jawabku sambil tersenyum.

Padahal aku sedang mengagumi bentuk wajahnya yang tercipta sempurna.

Aku sengaja memperhatikan detil demi detil… ketika fisiknya drop, ketika ia menghembuskan nafasnya yang terakhir, ketika dalam kesedihan yang dalam aku tetap harus menelepon Rumah Sakit untuk mengabarkan kematiannya, ketika tubuhnya yang mulai agak kaku dibawa pergi keluar oleh beberapa petugas dari penyedia jasa kematian dari kamar tempat peristirahatan terakhirnya di rumahnya, ketika ia disemayamkan, aku yang harus mengiringi musik untuk melepas kepergiannya sambil menahan tangis. Semua itu tanpa sadar membuatku sulit untuk melangkah maju. Selama 2 tahun aku baru bisa menerima sebagian dari pemberontakan hatiku, dan menerima bahwa TUHAN sudah merancangkan dan memberikan yang terbaik untuk kakakku yang pertama.

Pada Oktober 2013, aku nyaris kehilangan ibuku. Malam itu benar-benar mencekam. Aku tidak ingin hidup rasanya. Rumah menjadi terasa amat sangat sepi tanpa kehadiran ibuku. Ya, beliau harus menginap di ruang ICCU malam itu, karena gagal jantung, selama berminggu-minggu.

Tapi Tuhan selalu punya cara.

Aku yang putus asa merasa terhibur dan dikuatkan dengan kata-kata adikku yang paling kecil.

“Ini semua sudah mujizat Tuhan yang terjadi. Coba bayangkan, kalau Mama sesak nafas ketika sedang dalam perjalanan ke Rumah Sakit, apa yang bisa kita lakukan? Bukankah Tuhan sudah menolong Mama, karena semua begitu amat sangat tepat. Selesai giliran periksa dokter, Mama langsung dilarikan ke ICCU. Bahkan ketika dipasangi begitu banyak selang, Mama sudah tidak lagi bisa bernafas! Tapi Tuhan masih tolong. Suster dengan sigap memasangkan alat bantu pernafasan. Dan nyawa Mama tertolong malam itu!” katanya. Aku pun tersadar, pertolongan Tuhan sedang terjadi, hanya aku begitu tercekam dengan rasa takut dan tidak bisa melihat mujizatNya.

Aku masih ingat ketika fisik ibu berangsur membaik, setiap kami yang “gantian” mendapat “serangan”. Kami tidak tahu harus membayar uang Rumah Sakit yang begitu mahal dengan uang apa. Maksud hati tidak ingin berhutang tentu. Itu sebabnya aku bingung. Dalam kegundahan yang sangat dalam, hari itu aku menangis. “Tuhan tolong kami!!” teriakku di dalam mobil sambil bercucuran air mata. Dan Tuhan menjawab doa yang begitu singkat. PertolonganNya kami alami secara ajaib dan tepat waktu! Biaya Rumah Sakit “tahap pertama” (pemasangan pace maker dan ICCU beberapa minggu) tertutupi oleh kebaikan hati dua pasang kerabat yang digerakkan oleh Tuhan. Semua berjalan seperti merambat, begitu perlahan… tapi pasti! Tahap kedua pun terlewati. Aku, kakak dan kedua adikku bersama-sama menanggung biaya operasi bypass. Puji Tuhan, pada akhirnya Mama bisa kembali ke rumah dan beraktivitas dengan baik, walaupun memang tidak boleh terlalu lelah. Sungguh tidak kusangka, semua bisa kami lewati. Tuhan yang memberi kekuatan untuk dapat menjalani masa-masa kesesakan ini dalam sukacita.

Akhir tahun 2014, giliran ayahku yang harus masuk ruang operasi. Di tempat yang sama, dimana ibuku dioperasi “bypass” aku dan kakak keduaku menunggui ayah. Walau meleset dari perkiraan waktu operasi yang kami harapkan, tapi kami bersyukur kepada Tuhan Yesus. Tumor seukuran lebih besar dari telur bebek berhasil dikeluarkan dari bagian leher sebelah kiri.

“Operasinya berjalan dengan baik!” kata dokter.

Selama masa pemulihan, bekas selang darah di bagian leher sempat merembes beberapa hari. Tapi akhirnya ayahku kembali pulih.

Hmm… begitulah kehidupan. Tidak terus menerus membawa kebahagian dan tawa. Tidak jarang aku harus menangis karena berduka. Namun selama tahun berjalan, kasih karunia Tuhan sajalah yang memampukan melewati semuanya. Hal yang buruk membuatku belajar untuk bisa berempati kepada orang lain. Aku juga tersadar bahwa aku bukanlah orang yang paling malang ketika melihat banyak orang bahkan kerabat dekat mengalami problemanya masing-masing. Sehingga aku tidak perlu mengasihani diri sendiri dan terus menangis. Tuhan mengajarku bersyukur dalam segala hal. Tuhan juga mengajarku untuk menerima kenyataan bahwa inilah kehidupan. Sebuah masa dimana setiap manusia belajar untuk menjadi lebih mengenal pribadiNYA. (E-INSIDE)


Pelangiku akan datang dengan senyuman terindahnya

LinaJudul di atas adalah harapan baikku untuk tahun 2015. Amin!!

Pelangi bisa diartikan sebagai Janji Tuhan ataupun Penggenapan Janji Tuhan. Seperti kisah Nabi Nuh (Air Bah) di Kejadian 9:1-17.  

I have set my rainbow in the clouds, and it will be the sign of the covenant between me and the earth (Genesis 9:13).

Alkitab penuh dengan janji-janji Tuhan, yang ingin kuhidupi melalui pengalaman nyata bersama Tuhan, menjadi kesaksian untuk kemuliaan Tuhan. Bagianku berpegang pada Janji Tuhan & melakukan Firman, Bagian Tuhan menggenapi perjanjianNya.

Saya diberkati dengan lagu “Rainbow” dari Hillsong Kids dimana reff-nya berbunyi: ”The rainbow in the sky  to show God’s promises are true. The rainbow in the sky to show the world HE’s the only way for your everyday”. Mendengar SHARING atau KESAKSIAN teman seiman, setiap orang punya masalah yang harus dihadapi. Malam Natal terkena serangan jantung mendadak, hampir satu tahun sulit tidur dan tanpa tahu apakah besok masih bisa bangun/hidup. Seorang Istri dengan 2 orang anak yang ditinggal suami/papa secara tiba-tiba. Anak yang hiperaktif. Dipecat dari pekerjaan. Kesulitan keuangan dan lain-lain. Walaupun hari-hari dilalui dengan berat tapi mereka mengambil respon bersyukur dan berpegang terus pada Janji-Janji Tuhan. Itulah yang membuat mereka kuat!   

Selama tahun 2014 aku berpegang pada pengharapan: 1. expecting the best and 2. refusing to give up (INSIDE edisi Jan’14: New Year, New Hope). Saat iman goyah, maka dua sauh pengharapan itu yang aku pegang. Janji-janji Firmannya itulah yang meneguhkanku, mengambil sikap: I still believe attitude. Mengalami Kasih, Kuasa dan Kebenaran Tuhan:

Pelangi KasihNya

Mengalami kasihNya melalui perhatian dalam hal-hal kecil, seperti waktu itu di kantor seorang rekan membagikan kue rasa strawberry. Tentu saja aku sangat senang, namun dalam hati, aku lebih mengharapkan mendapatkan yang rasa keju. Aku tahu itu mustahil. Tapi … ketika aku tiba di rumah, guess what?? Kue yang sama dengan rasa keju terlihat di atas meja makan! Ternyata seorang keponakan membawakan oleh-oleh sepulangnya ia dari Medan!!

Pelangi KuasaNya

Mengalami kuasaNya melalui pertolongan dan penyertaan Tuhan.

Dalam satu perjalanan dinas ke luar kota, aku dan rekan kerjaku tiba di hotel sudah agak malam. Setelah check-in, saya dan beberapa rekan diajak duduk-duduk sebentar di LOUNGE hotel. Malam itu memang hotel tersebut sangat ramai, karena keesokan harinya akan diadakan sebuah acara. Karenanya kami tidak terlalu lama duduk di Lounge. Setelahnya kami naik ke kamar untuk beristirahat.

Keesokan pagi, ketika aku ingin mulai bekerja, aku baru sadar bahwa tas laptopku hilang! Dengan sangat panik, aku bergegas turun ke Lounge Hotel, mencari-cari di sekitar tempat yang kami pakai kemarin malam. Karena tidak ada, aku melaporkan kehilangan ke Front Desk. Lalu diminta menunggu kabar dari petugas CCTV. Aku kembali ke kamar dan berdoa.

Puji Tuhan, selang 1-2 jam, pihak hotel memberi kabar, laptop sudah ditemukan! Ternyata memang tertinggal di Lounge, dan disimpan oleh staf Lounge tersebut. Thank you God!  

Pelangi KebenaranNya

Aku suka saat “kodak moment” alias foto-foto, salah satu alasannya adalah setiap momen tidak mungkin bisa diulang lagi, jadi layak diabadikan. Atas dasar itu, aku sering menawarkan diri untuk memfoto jika ada SEKELOMPOK atau SEKELUARGA yang kebetulan membutuhkan bantuanku untuk memfoto.

Satu waktu, ketika sedang menghadiri festival makanan dan fashion di sebuah mall, aku melihat satu stand dengan background gambar yang kreatif, seni mural. Spontan aku ingin berfoto ria. Dan ketika masih “repot” seting kamera, tiba-tiba seorang wanita menghampiriku dan bertanya, “mau difotoin?”. Waaaah jadi terharu… Seolah apa yang pernah kulakukan untuk orang lain mendapatkan balasan dari Tuhan!  

Jangan jemu-jemu kita berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah (Galatia 6:9)

Aku percaya di tahun 2015: “PELANGIKU AKAN DATANG DENGAN SENYUMAN TERINDAHNYA”. Amin! Merry Christmas and Happy Rainbow New Year 2015, Sahabat INSIDE! (Lovina Linawati Santoso-INSIDE)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: