TUHAN, gembalaku yang baik

LorenMazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku,  takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak;  pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa. (Mzm 23:1-8)

Satu kali saya hendak pergi ke suatu tempat di daerah sekitar kantor tempat saya bekerja. Karena hari itu saya tidak membawa kendaraan maka seorang teman kantor menawarkan diri untuk mengantarkan dengan sepeda motornya. Hmm…tawaran yang sangat tepat ditengah kebutuhan namun juga mengkuatirkan hati karena secara pribadi saya tidak terbiasa naik motor. Selama ini saya lebih memilih untuk naik angkot atau bus untuk pergi ke tempat tujuan jika kendaraan pribadi tidak tersedia.

Bagi saya, pengemudi motor di Jakarta sangat tidak tertib dan seenaknya saja kalau di jalan raya. Hal ini yang membuat saya tidak pernah kepengen naik motor. Berbahaya. Menyeramkan.

Akhir cerita, tawaran teman ini saya terima karena dia berjanji untuk berhati-hati menyetir motornya. Walaupun hati masih agak kuatir namun saya percaya bahwa ia pasti akan berhati-hati. Dia juga bercerita bagaimana dia mengajak anaknya yang masih kecil pergi ke tempat yang jauh dan betapa anaknya senang setelah bepergian dibonceng motor. Dalam hati saya berkata, “Tentu saja anaknya senang dibonceng kan mamanya yang nyetir motor.”

Tiba-tiba… Wah! Saya seperti terjaga! Tentu saja, she is with her mother. She trust her 100%. Anaknya kan bersama mamanya. Dan anaknya pasti percaya sama mamanya 100%!

Pertanyaan ini pun muncul dalam hati: “Dalam hidup ini, siapakah yang kita percayai? Sudahkah kita percaya kepada Tuhan?”

Hmm… Yuk kita cek hati masing-masing. Seberapa dalamkah rasa percaya kita kepada Tuhan? Pada saat apakah kita percaya kepadaNya? Saat susah saja? Atau saat senang saja? Adakah dalam hidup sehari-hari kita merasa dipimpin, dijagai dan diberkati oleh Tuhan? Ataukah Tuhan terasa asing, jauh di atas dan tidak mungkin dekat dengan kita?

Mari belajar dari Daud. Hatinya, pikirannya senantiasa tertuju kepada Tuhan. Sehingga dia dapat berkata seperti yang tertulis dalam Mazmur 23. Tuhan adalah Gembalaku. (Loren Sartika-INSIDE)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: