“Letusan Gunung Kemarahan”

JuliantoMarah adalah emosi yang wajar. Marah itu manusiawi. Hanya saat diungkapkan, ada kemarahan yang membangun, ada yang bersifat merusak. Tergantung cara si Pemilik mengelola emosi marahnya. Ada yang suka mengumbar kemarahan, ada pula yang cenderung menyimpan. Tapi ada pula yang cakap mengemukakan kemarahannya secara asertif. Yakni, menyampaikan rasa marah pribadi tanpa menyerang atau menyakiti orang lain.

Jika kemarahan atau luka Anda tumpuk terlalu dalam dan terlalu lama, kelak dia bisa “meletus”. Material yang keluar bisa berupa lava gosip hingga abu vulkanik caci maki yang merusak dan menghancurkan nama baik orang lain, menyakiti orang di sekitar dan membuat mereka menjauhi si Pemarah. Kerusakannya bisa hingga ratusan kilometer dari “letusan” kemarahan tadi. Sebab gosip akibat kemarahan yang Anda pancarkan bisa di bawa angin ke barat dan ke timur, ke selatan dan utara. Yakobus berkata, lidah saat tidak dikuasai bisa membakar dan merusak dengan sangat dahsyat

Seperti Gunung Kelud yang awalnya indah dan baik sebelum meletus‎, demikian juga penampilan kita yang cakap menyimpan kepahitan dengan rapat-rapat. Tampak oke-oke saja.

Tapi berapa lama bisa bertahan? 

Janganlah menyimpan luka, jangan berpura-pura tidak marah. Cari seseorang untuk bisa berbagi sebelum kemarahan itu memuncak.

Temukan cara yang baik untuk mengeluarkan emosi marah dan berbagi kekecewaan. Jika memungkinkan, segera temui orang yang membuat Anda merasa tersakiti. Ungkapkan secara asertif, dan mencari solusi bersama. Bukannya dengan cara gosip, marah-marah tidak karuan, apalagi sampai menghina dan memaki ciptaan-Nya.

Seperti Firman Tuhan menegaskan, biarlah kemarahan kita bersifat harian. Sebelum padam matahari, selesaikan kemarahan.‎ Alangkah baik jika family altar atau ibadah keluarga juga dipakai untuk menyelesaikan emosi-emosi negatif sepanjang hari, antara kita dengan pasangan atau anak terhadap orang tua. Perhatikan juga wahai orang tua, janganlah membiarkan anak-anak tidur dalam kemarahan. Sebab itu akan merusak emosi mereka.

Saudara, mengelola kemarahan adalah skill yang bisa dipelajari, supaya kita tidak bersalah terus menerus dalam kemarahan. Sebab a‎marah manusia yang dibungkus kebencian membuat banyak orang jadi tersandung. Membuat hati pemiliknya berwajah mendung.

Sebaliknya kita perlu membangun “kemarahan Ilahi” (divine anger). Marah saat melihat kebenaran diinjak-injak. Marah melihat ketidakadilan yang merajalela. Marah saat anak atau pasangan serta orang yang kita cintai terus hidup dalam kesalahan mereka. Ini adalah kemarahan yang didorong rasa sayang mendalam, bukan karena benci atau sentimen pribadi. Kemarahan demikian membangun, dan membawa orang kembali pada jalan yang benar.

Tulisan ini telah meminta ijin dari penulisnya Bpk Julianto Simanjuntak. Beliau adalah Pendiri Pelikan, Penulis dan Pengajar Konseling di STT Jaffray. Twitter: @PeduliKeluarga. Web: www.juliantosimanjuntak.com. Ebook: Bagi pengguna Ipad dan Iphone bisa mengunduh Buku Julianto dan Roswitha via www.juliantobooks.mahoni.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: