Bos Tidak Kompeten?

Bagaimana caranya menghadapi seorang bos di kantor yang hanya menjadi bos karena status “anak” dari pemilik perusahaan, sementara dia sama sekali tidak mengerti apa yang harus dikerjakan? Bahkan banyak keputusan yang akhirnya dikembalikan kepada staf untuk diputuskan sendiri. Dan tanpa sadar, kadang stafnya jadi “memutuskan”, padahal seandainya keputusan itu salah, tentu staf itu yang akan terkena getahnya/dipersalahkan, walaupun memang belum pernah kejadian. (LS, 35, Jkt)

JAWAB:

Data yang diberikan sangat sedikit sekali sehingga saya melihat dengan sudut kemungkinan saja.
Kalau melihat akan permasalahan yang LS sampaikan (dengan data yang terbatas), maka ada beberapa hal yang mungkin bisa dilihat:

  1. Ada pemikiran dan perasaan yang LS tidak suka akan Bos sendiri yang terlihat dari kurangnya rasa hormat akan Bos sebagai anak dari owner. Mungkin di mata LS, anak owner ini tidak bisa perform dengan baik dan hebat, mungkin terlalu menuntut, mungkin kurang memperhatikan bawahan, mungkin kurang komunikasi, dan sebagainya. Alasan yang disebutkan LS bisa objektif tetapi bisa juga subjektif. 
  2. Ada perasaan takut dalam diri akan tanggung jawab yang dipikul dan resiko yang akan dilalui kalau melakukan kesalahan. Mungkin bisa sampai dimarahi Bos, mungkin bisa diturunkan jabatannya, atau bahkan mungkin dipecat, dan sebagainya. 
  3. Ada perasaan ambigu dalam diri LS juga; mungkin LS sendiri suka akan pekerjaannya dan bisa membuat LS tampil dan membangun karir, tetapi LS juga butuh Bos yang bisa memimpin, mengajari bawahannya; sementara Bos tidak melakukan hal yang diharapkan LS.

Nah dengan analisa yang terbatas akan LS dan Bosnya, maka jika LS ingin tetap bekerja di tempat yang sama, yang perlu disadari jelas adalah Bos tetaplah Bos, dan bawahan tetaplah bawahan. Jadi kalau LS mengharapkan Bos berubah, hal itu akan sangat jauh dari kenyataan. Tetapi LS tentu bisa memulai dari dirinya sendiri. Misalnya mulai memikirkan: 

  1. Apakah yang LS harapkan dengan bekerja di sana? Hal ini bisa termasuk apa yang diinginkan untuk diperoleh atau apa yang bisa dibagikan.
  2. Apakah LS adalah orang yang tepat untuk pekerjaan di kantor tersebut? Artinya LS menyadari akan kelebihan dan kekurangannya yang akan menolong LS bisa perform dengan baik dan memberikan pencapaian yang baik buat perusahaan atau tpt LS bekerja.
  3. Apakah LS menikmati pekerjaannya selama ini? Artinya LS bekerja dengan bahagia dan merasa cukup (contentment) akan pekerjaan tsb terlepas dari Bos, rekan, atau keadaan apapun, dll. 
  4. Apakah LS sendiri mengalami pertumbuhan selama bekerja di tempat tersebut? Artinya dalam kondisi apapun, LS sebenarnya mengalami proses pendewasaan terus menerus.

Pertanyaan2 yang dipikirkan secara khusus di atas, akan menolong sebagai evaluasi untuk mengenal diri (ke dalam dan ke luar). (Lindawati Martoyo, Dosen UPH)

Ada pertanyaan? Email saja ke: buletininside@gmail.com. God bless!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: