MENGALAMI IMANUEL

Denny PranoloImanuel. Sebagai orang Kristen kita pasti familiar dengan kata ini. Kita menyanyikannya, kita mengutipnya, menggunakannya buat menghibur orang, tapi pertanyaannya sudahkah kita mengalaminya? Sudahkah kita mengalami Dia sebagai imanuel, Tuhan yang beserta kita? Atau Imanuel masih sekadar sebuah istilah rohani buat kita?

Waktu diberi tema bulan ini adalah Imanuel, hal pertama yang terlintas di pikiran adalah saya langsung teringat bukunya brother Lawrence yang sempat heboh beberapa tahun lalu, Practicing the Presence of God. Di bukunya itu brother Lawrence menceritakan bagaimana dia melatih dirinya supaya bisa merasakan hadirat Allah dimana saja, kapan saja. Senada dengan brother Lawrence, saya percaya bahwa kita pun harus melatih diri kita agar bisa mengalami imanuel – Allah yang beserta kita.

Waktu Alkitab mengatakan bahwa Yesus akan disebut imanuel (Matius 1:23) itu bukan sekadar gelar tapi fakta, kenyataan, bahwa Allah memang ada di tengah kita. Dan fakta itu tidak berubah sampai sekarang karena firman Allah tidak berubah.

How?

Pertanyaan berikutnya pasti selalu adalah bagaimana caranya. Kita selalu ingin tahu bagaimana cara kerja semua hal yang berhubungan dengan Tuhan. Kita selalu ingin tahu cara praktis mengalami Tuhan. Kita selalu bertanya bagaimana caranya berdoa, bagaimana caranya baca Alkitab, bagaimana caranya tahu kehendak Allah, bagaimana caranya dapat pasangan yang benar, dan segudang bagaimana caranya lainnya. Dan kita puas ketika kita mendapatkan jawaban berupa langkah-langkah yang sistematis, dari nomor satu sampai nomor sekian. Tapi Tuhan tidak bisa kita alami dengan segudang formula dan cara. Dia bukan Allah “matematika” yang bisa kita dekati dengan berbagai formula atau langkah-langkah tertentu. Dia Allah yang tidak bisa kita tebak. Dia terlalu besar untuk kita mengerti.

Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu (Yesaya 55:9)

Kita tidak bisa mengalami Dia dengan menggunakan patokan tertentu, langkah pertama harus begini, langkah berikut harus begitu. Kita akan jadi orang bodoh kalau kita melakukan hal itu. Seandainya Allah kita bisa didekati dengan cara seperti itu, maka Dia bukan Allah. Justru yang membuat Dia menjadi Allah dan menjadi kemuliaan-Nya adalah “merahasiakan sesuatu” (Ams 25:2). Ada rahasia dalam diri Allah yang tidak bisa kita mengerti. Dan rahasia itu Allah sediakan bagi orang-orang yang takut akan Tuhan dan yang mau “bergaul karib” (Mazmur 25:4) dengan Dia.

Kalau begitu bagaimana kita bisa mengalami Dia? Puji Tuhan buat anugerah-Nya, Dia – Allah yang begitu besar itu – membiarkan diri-Nya ditemui oleh kalau kita sungguh-sungguh merindukan Dia (1 Taw 28:9).

Ya, benar, yang kita perlukan untuk bisa mengalami Dia bukan formula atau langkah tapi hati yang merindukan-Nya. Hati yang ingin melihat-Nya nyata dalam hidup kita. Bagaimana kalau kita tidak punya hati seperti itu? Mintalah kepada Tuhan agar memberikannya pada kita. Bukankah Dia berjanji akan memberi apa yang kita minta? Jadi jangan takut untuk meminta. Kita malah tidak akan dapat apa-apa kalau kita tidak minta (Yakobus 4:2b)

Kembali kepada imanuel, kalau kita ingin melihat Allah imanuel itu nyata di hidup kita dan bukan hanya sekadar istilah saja, datanglah pada Tuhan dengan hati yang rindu mengalami Dia dan biarkan Dia membawa kita ke dalam sebuah pengalaman nyata hidup bersama-Nya. (Denny Pranolo-INSIDE)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: