Partner Memutuskan Sepihak

Andry LesmonoSaya berpartner dengan seorang teman, sebut saja A, dan baru berjalan sekitar 2 tahun. Teman mengeluarkan modal/uang, saya menjalankan operasional, termasuk marketing, dan keuangan. Tetapi karena bisnis ini masih belum memberikan keuntungan, tiba-tiba A mengajak meeting. Intinya akan merekrut SDM baru, dan juga manajemen baru, yang ternyata artinya akan ada struktur baru dimana posisi saya bukan lagi “partner” melainkan staf. Sempat juga disebut supaya saya ikut menanam modal, dengan “manajemen baru” yang tetap akan dijalankan. Saya merasa tidak pernah diajak bicara serius sampai hari itu, tiba-tiba saya seperti dipaksa untuk menerima semuanya. Keputusan apa yang sebaiknya saya buat menyikapi ini?

JAWAB:

“Dalam sebuah partnership/kerja sama bisnis, hal mendasar yang sangat penting antara lain adalah keterbukaan dan kepercayaan. Selain itu juga perlu ditunjang dengan sebuah sistem manajemen yg terpadu untuk menjaga kelangsungan proses bisnisnya.

Melihat situasi yg sedang Bapak hadapi, sebaiknya Bapak mengambil waktu untuk menenangkan diri terlebih dahulu sebelum membuat keputusan. Saat pikiran dan perasaan dipenuhi dengan asumsi dan kekuatiran, biasanya kita akan menjadi panik dan kehilangan arah. Seringkali pikiran tidak sejalan dengan perasaan atau sebaliknya. Akhirnya kita menjadi sangat stress dan tidak berani mengambil keputusan, atau sebaliknya menjadi sangat nekat.

Dalam proses menenangkan diri tersebut, lakukan beberapa hal sebagai berikut:

1. Menenangkan pikiran dan perasaan

2. Membaca Firman Tuhan

3. Berdoa

Kita tidak boleh membuat keputusan saat perasaan kita sedang tidak stabil (emosional atau galau). Sebaliknya, dalam proses membuat keputusan kita perlu memikirkan setiap kemungkinan yg ada dengan pertimbangan (pola pikir) yang matang. Ini diperlukan ketenangan dan kedewasaan berpikir.

Keputusan yg kita ambil biasanya sangat dipengaruhi oleh apa yg sedang mendominasi pikiran. Misalnya kalau yg dominan dalam pikiran kita adalah uang, maka segala hal yg akan kita putuskan dan lakukan akan selalu mengarah pada uang.

Jadi hal penting yg harus melandasi pengambilan keputusan kita adalah keseimbangan pikiran yg matang dan perasaan yg tenang disertai iman yg berlandaskan kebenaran Firman Tuhan.

Titik kritisnya adalah Tuhan tidak dapat bekerja dalam diri kita bila kita tidak dapat mengelola pikiran dan perasaan untuk tetap dalam keadaan tenang. Di sana kita tinggal tenang, di situlah Tuhan dapat menunjukkan kebenaran dan jalan yg harus kita lalui.

Saya percaya di saat Bapak menenangkan pikiran dan perasaan di dalam Tuhan, Dia akan memberikan hikmat untuk menemukan keputusan yg tepat di setiap permasalahan. Tuhan memberkati. (Andry Lesmono-CBC Certified Behavior Consultant & Character Coach, Director of Power Character)

 

Ada pertanyaan? Email saja ke: buletininside@gmail.com. God bless!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: