MY SUCCESS

Denny PranoloWaktu saya masih kuliah, sukses bagi saya adalah berhasil membiayai kuliah saya sendiri dan saya berhasil melakukannya. Saya sukses. Setelah lulus, sukses bagi saya adalah bisa menabung sejumlah uang, membeli barang-barang dengan uang sendiri, membantu biaya sekolah adik-adik. Dan saya berhasil. Jadi saya sukses. Setelah menikah sukses buat saya adalah bisa memenuhi kebutuhan keluarga saya. Dan untuk yang ini saya belum bisa menilai saya berhasil. Memang kami tidak kekurangan, hanya saja saya selalu merasa kurang, sehingga saya bekerja lebih lagi, ambil sidejob sana-sini, demi mencapai kesuksesan (versi saya).

Tapi sekeras apapun saya bekerja, perasaan kurang itu terus ada. Dan semakin keras saya bekerja, semakin besar perasaan kurang itu. 

What do I want to say actually?

Standar kesuksesan kita sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai kita. Seberapa besar pengorbanan kita untuk mencapai sukses, berbanding lurus dengan nilai-nilai kita tentang sukses. Misal kita menilai sukses dari materi maka kita akan bekerja habis-habisan demi mendapat materi. Karena bagi kita berlaku persamaan ini: banyak materi = sukses.

Sayangnya demi mendapat banyak materi itu banyak yang harus kita korbankan. Bukan hanya waktu, tapi juga kondisi tubuh. Momen kita. Berapa kali saya dikomplain istri karena bekerja sampai larut, dan karena kehilangan momen bersama? Berapa kali saya harus merasa tubuh kurang sehat karena keseringan kerja lembur? Berkali-kali! Itu harga yang harus saya bayar untuk sukses. Tapi apa itu sebanding?

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:26).

Lewat beberapa kejadian dan orang-orang, Tuhan mengingatkan saya apa gunanya dapat materi banyak (baca: sukses) tapi kehilangan hal lainnya seperti kebersamaan dengan orang-orang tercinta, kesehatan, bahkan mungkin bisa kehilangan nyawa nanti. Ada yang lebih berharga dari pengejaran sukses saya itu!

“Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Lukas 10:41-42).

Ayat ini juga terngiang-ngiang saat saya sibuk mengejar kesuksesan. Saya jadi berpikir apakah saya sibuk dengan banyak hal dan melupakan apa yang terbaik yang tidak akan diambil dari saya? Sebegitu sibukkah saya mengejar sukses sampai meninggalkan hal-hal lain yang sebenarnya lebih penting?

Sahabat INSIDE mari kita berpikir tentang sukses versi kita. Masing-masing kita punya versi sukses dan kita berkorban demi mendapatkannya. Pertanyaannya: apakah itu yang terpenting dalam hidup kita? Sesuatu yang layakkah untuk kita perjuangkan sampai mati? Sesuatu yang begitu berharga sampai kita rela meninggalkan semuanya demi mendapatkannya?

Cobalah berhenti sebentar dan lihat apa saja yang sudah kita korbankan demi mengejar sukses itu. Apakah sebanding dengan yang kita dapatkan?

Buat saya secara pribadi apa yang saya korbankan untuk mencapai sukses itu tidak sebanding dengan apa yang saya dapatkan. Memang saya dapat banyak, tapi saya pun harus berkorban banyak. Dan yang saya korbankan justru hal-hal yang utama dan penting dalam hidup. Apa gunanya sukses secara materi tapi sakit-sakitan? Apa gunanya sukses secara materi tapi kehilangan momen dengan orang-orang tercinta? Ingat selalu ada yang lebih daripada sukses yang kita kejar. (Denny Pranolo-INSIDE)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: