SETELAH MENIKAH…

Denny PranoloWaktu diminta menulis untuk edisi ini, saya jadi berpikir sendiri, apa perbedaan yang saya alami sebelum dan sesudah menikah. Rasanya apa yang saya alami setelah menikah dialami semua orang. Semua orang yang sudah menikah pasti setuju kalau pernikahan itu membawa perubahan yang cukup besar dalam kehidupannya. Ada kebiasaan-kebiasaan baru, cara pandang baru, gaya hidup baru, dan banyak hal baru lainnya. Tapi waktu saya melihat ke belakang, ke pernikahan yang kami yang baru berjalan setahun lebih ini, saya menyadari ada sebuah perbedaan sebelum dan sesudah saya menikah. Dan itu adalah sebuah pemahaman baru tentang kasih.

Sebelum menikah, saya sering membaca banyak artikel yang ditulis hamba Tuhan atau kutipan tentang kasih, tapi bagi saya semua itu terasa hambar, abstrak, hanya teori. Kasih bagi saya adalah sesuatu yang tidak nyata. Yang bagus dikatakan, tapi sulit dilakukan. Bahkan sampai sesaat sebelum menikah pun saya masih diajari tentang kasih dalam sesi bimbingan pra nikah. Tapi tetap saja itu semua terasa tidak nyata buat saya. Saya diajari harus mengasihi pasangan, mengasihi seperti Kristus mengasihi jemaat, tapi tetap saja pertanyaannya adalah, bagaimana cara saya bisa melakukannya? Semua itu seperti pelajaran yang saya terima di sekolah. Sekadar teori. Dan dengan “kebingungan tentang kasih” itulah saya menikah. Yang membawa saya pada salah satu ketakutan saya dalam memasuki pernikahan, yaitu bagaimana kalau saya tidak bisa mengasihi istri saya? Bagaimana caranya saya mengasihi istri saya? Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, karena di keluarga di mana saya dibesarkan, saya jarang melihat teladan kasih. Dan saya takut apa yang saya lihat terbawa dalam keluarga yang akan saya bangun.

But thanks God, apa yang saya takutkan tidak pernah terjadi. Selama pernikahan kami, saya belajar mengasihi. Bukan dengan teori ABCD, belajar dari buku ini itu, atau mendengarkan khotbah hamba Tuhan anu, tapi saya belajar mengasihi lewat pengalaman sehari-hari. Selalu saja ada pengalaman tiap hari di mana saya harus mengasihi istri saya, bukan karena apa yang dia perbuat. Bukan karena siapa dia. Tapi karena memang saya mengasihi dia apa adanya.

Semua orang yang sudah menikah pasti tahu susahnya hidup bersama. Ada kebiasaan lama yang terbawa masuk dalam kehidupan pernikahan. Begitu juga dengan kami. Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang sepele, tapi bisa menimbulkan ledakan (sorry for no detail. It’s private). Dan hal seperti ini sering terjadi. Kalau sudah begitu, kadang saya suka berpikir untuk menyerah saja. Kadang saya berpikir tidak mungkin mengasihi dia. Terlalu sulit. Tapi di momen-momen seperti itu, entah dari mana asalnya, selalu ada dorongan untuk kembali mengasihi dia, apapun yang terjadi.

Saudara, pada akhirnya saya mengerti bahwa kasih itu bukan sesuatu yang dibuat-buat, bukan sesuatu yang diciptakan, tapi kasih itu lahir dengan sendirinya. Tidak ada orang yang sanggup mengasihi dengan usahanya sendiri. Tidak ada orang yang bisa memaksa dirinya untuk mengasihi. Karena kasih yang seperti itu adalah kasih yang dibuat-buat. Jadi bagaimana kita bisa melahirkan kasih? Kita tidak bisa. Hanya Tuhan yang bisa.

Salah satu doa saya di awal pernikahan (dan sampai sekarang juga) adalah, “Tuhan, aku tidak sanggup mengasihi istriku, tapi Kau sanggup. Karena itu kasihilah dia melalui aku. Aku mau jadi saluran kasih-Mu bagi Dia.” Dan saya bersyukur dia menjawab doa saya ini. (Denny Pranolo-INSIDE)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: