SUKACITA ITU BUAH ROH

JAN 2014Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. (Galatia 5:22-23)

Sukacita itu buah Roh loh. Lah emang iya, memangnya kenapa? Kalau sukacita adalah buah roh, artinya yang menghasilkan sukacita itu adalah Roh Kudus. Bukan kita. Bukan situasi. Bukan apa yang kita punya atau tidak punya. Bukan pikiran positif. Inilah kebenaran kecil yang sering kita lupakan. Sukacita adalah buah Roh. Kita seringkali berusaha membuat diri kita bersukacita. Kita mencari cara bersukacita. Kita bahkan memerintahkan diri kita bersukacita, padahal sukacita itu adalah buah Roh Kudus. Yang berarti Roh Kudus yang bertanggung jawab membuat kita bersukacita.

Kata “buah” di sini bermakna tampilan, pemunculan, atau bahasa rohaninya manifestasi. Sesuatu yang ditampilkan di luar. Sesuatu yang asalnya dari dalam ke luar. Bukan sesuatu yang berasal dari luar ke dalam. Karena itulah sukacita sebagai salah satu buah roh pun berasal dari dalam ke luar bukan dari luar ke dalam. Artinya bukan apa yang terjadi di sekeliling kita yang membuat kita bersukacita, tapi Roh yang ada di dalam kita yang membuat kita bersukacita dan sukacita itu tampak keluar.

Karena sukacita adalah buah Roh maka kita tidak bisa memaksa diri kita untuk bersukacita, itu namanya sukacita palsu. Sukacita sejati dihasilkan oleh Roh Kudus sendiri dalam diri kita. Makanya sukacita yang dari Roh itu kadang-kadang tidak sesuai dengan keadaan yang kita alami. Contoh saja, para rasul yang baru disiksa dan dilarang memberitakan Injil, tapi mereka bisa bersukacita.

Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu menyesah mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan. Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. (Kisah Rasul 5:40-41)

Atau Paulus dan Silas yang dipenjara dan disiksa tapi mereka bisa bersukacita memuji Allah.

Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh. Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat. Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. (Kisah Rasul 16:23-25)

Secara alami, kalau kita ada di posisi para rasul atau Paulus dan Silas, kita tidak mungkin bersukacita. Pikiran sepositif apapun pasti sulit untuk muncul kalau kita ada di posisi mereka. Bayangkan, rasa sakit yang mereka tanggung dan mereka masih bersukacita! Pikiran positif apa yang bisa membuat mereka bersukacita dalam rasa sakit yang sangat itu? Jawabannya mereka tidak memotivasi diri untuk bersukacita tapi mereka mengandalkan Tuhan untuk bisa membuat mereka bersukacita.

Sepertinya janggal ya, mengandalkan Tuhan untuk bersukacita, tapi that’s the truth. Kita tidak bisa mengandalkan diri kita sendiri untuk bersukacita. Kita membutuhkan Dia untuk bisa bersukacita bahkan di saat sepertinya kita sulit bersukacita.

Berserahlah pada Tuhan setiap hari dan mintalah Dia memenuhi kita dengan sukacita-Nya sehingga kita bisa bersukacita bahkan ketika keadaan sepertinya tidak memungkinkan kita untuk bersukacita. (Denny Pranolo-INSIDE)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: