TIDAK MENYERAH LAWAN DAGING

logo copyHidup adalah perjuangan apalagi sebagai orang Kristen. Bukan perjuangan melawan iblis dan teman-temannya, tapi perjuangan melawan diri sendiri, atau dalam bahasa Alkitabnya, melawan daging. Melawan daging jauh lebih sulit daripada melawan iblis. Kenapa? Karena iblis bisa kita tengking dalam nama Yesus, tapi kita tidak bisa menengking daging kita sendiri ‘kan?

Yang saya maksud dengan daging adalah kecenderungan diri kita yang sudah jatuh dalam dosa untuk terus berbuat dosa dan keinginan untuk tidak melakukan kehendak Allah. Kita pasti pernah merasakan bagaimana malasnya bangun pagi untuk bersaat teduh. Pikiran kita tahu kita harus bangun, tapi tubuh terasa lemah. Itu daging. Atau para pria pasti pernah mengalami besarnya godaan untuk tidak terjebak dalam pornografi. Mereka ingat kisah Yusuf, dan pengajaran bahwa mereka harus kabur tapi kaki dan tangan mereka sepertinya sukar digerakkan. Itu daging. Atau kita pasti pernah merasakan bagaimana kekhawatiran begitu menekan. Kita tahu kita harus menyerahkan kekhawatiran kita kepada Tuhan, tapi rasanya sulit sekali. Itu daging. Dan seringkali dalam perjuangan melawan daging, kita yang kalah, sampai-sampai rasanya ingin menyerah saja. Betul?

Tapi kita tidak boleh menyerah dalam perjuangan kita melawan daging. Menyerah kepada daging sama saja kita berhenti menjadi orang Kristen. Apa bedanya kita dengan orang bukan Kristen kalau kita menyerah terhadap kedagingan kita? Lalu bagaimana caranya kita bisa menang melawan kedagingan kita? Caranya dengan hidup dalam Kristus.

Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5b).

Ayat ini sangat terkenal sekali. Tapi sudahkah kita menghidupinya? Ayat ini adalah pola bagaimana kita bisa menang atas kedagingan kita. Di luar Kristus kita tidak bisa berbuat apa-apa, dan itu termasuk menang atas kedagingan kita. That’s why biarpun kita berusaha dengan berbagai cara untuk melawan kedagingan: menguatkan niat, memotivasi diri sendiri, berkata kepada diri sendiri, dll, kita selalu kalah. Kenapa? Karena kita menggunakan kekuatan sendiri dan bukan kekuatan Allah. Atau dalam bahasa Alkitabnya, kita berada di luar Kristus.

Jadi bagaimana caranya kita bisa ada dalam Kristus dan menang atas kedagingan kita? Tidak ada cara yang pasti, dan Alkitab pun tidak memberi tahu kita caranya, tapi ada satu cara yang saya pelajari dari seorang hamba Tuhan dari negeri China zaman dulu – Watchman Nee – dan terbukti berhasil. Caranya adalah dengan mengakui kelemahan kita.

Mengakui kelemahan adalah hal tersulit yang pernah kita lakukan, karena dari kecil kita diajar untuk menjadi kuat. Setelah dewasa kita dikelilingi oleh pesan-pesan motivasi yang mengatakan kita harus kuat. So menjadi lemah bukanlah pilihan kita. Tapi kalau kita mau hidup dalam Kristus, kita harus mengakui kelemahan kita di hadapan Tuhan bahwa di luar Dia kita tidak bisa apa-apa. Dan kita harus melakukannya dari hati. Trust me, melakukannya tidak semudah mengatakannya. Kadang diperlukan proses yang panjang supaya kita bisa mengakui kelemahan kita di hadapan Tuhan. 

Sebagai pria, sama seperti pria-pria lain, saya mengalami godaan untuk jatuh dalam dosa pornografi. Itu godaan yang sangat sulit dilawan. Pikiran saya menyuruh saya kabur, tapi kaki saya tidak mau bergerak. Dan biasanya saya berakhir jatuh dalam dosa pornografi. Saya sudah banyak baca buku tentang menang atas dosa ini dan mencoba saran yang disebutkan di sana, tapi tetap saja gagal.

Sampai akhirnya dengan putus asa saya berkata kepada Tuhan, “Tuhan, saya tidak sanggup melawan godaan pornografi ini. Saya sudah mencoba berbagai cara dan selalu gagal, tapi aku tahu Engkau sanggup melawannya, karena itu hiduplah dalamku dan biarlah Engkau yang melawan godaan ini.” Dan setelah itu, saya pun bisa menang melawan dosa pornografi itu. Dan sejak saat itu tiap kali saya berhadapan dengan dosa pornografi, saya selalu menaikkan doa itu dan mengalami kemenangan.

Saya tidak memaksudkan hal ini sebagai sebuah metode atau cara ajaib, tapi yang ingin saya bagikan adalah, untuk bisa menang melawan kedagingan, kita tidak bisa mengandalkan kekuatan kita, tapi kita harus mengandalkan kekuatan-Nya. Dan langkah awalnya adalah dengan mengakui kelemahan kita dan bergantung pada-Nya. Hanya dengan kekuatan-Nya kita bisa menang atas kedagingan kita. (Denny Pranolo-INSIDE)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: