Sindrom Kelelahan

JuliantoLelah adalah kondisi dimana energi kita terkuras habis, tenaga kita jauh berkurang dan saat dimana kita paling membutuhkan istirahat. Kelelahan tidak hanya bersifat fisik, tapi bisa juga secara psikis. Dimana emosi dan pikiran kita tersedot habis untuk memikirkan masalah keluarga, penyakit, ekonomi rumah tangga dan sebagainya.

Jika kelelahan terlalu sering dan dibiarkan dalam jangka waktu lama dapat merusak kesehatan baik fisik maupun psikis. Tubuh manusia normalnya bekerja antara 8-10 jam. Itupun perlu istirahat sewaktu-waktu. Jika dipaksakan membahayakan kesehatan.
Salah satu sumber kelelahan psikis adalah jika kita mengerjakan pekerjaan yang tidak kita sukai. Apalagi setiap hari, bekerja tanpa motivasi dan kecerdasan emosi memadai. Sindrom kelelahan bukan hal biasa, jadi jangan dianggap remeh. Tubuh manusia sudah dirancang untuk bekerja dan juga beristirahat. Karena itu penting menjaga keseimbangan.

Allah sendiri saat mencipta dunia dan isinya termasuk manusia, mengambil waktu istirahat yang dikenal dengan sabat. Enam hari lamanya Ia bekerja dan beristirahat pada hari ketujuh. Pada saat beristirahat Allah menikmati dan mengevaluasi karyaNya. Dalam hukum taurat, Allah memberikan hukum Sabat, dimana umatNya wajib beristirahat setiap hari ketujuh. Tentu ada maksud Tuhan yang baik memberikan hukum sabat bagi umatNya.

Namun masa kini sebagian orang mengabaikan pentingnya istirahat, baik sengaja maupun tidak. Baik demi tuntutan ekonomi, tuntutan perusahaan, hingga ada yang mengidap gangguan “candu kerja” (workaholic). Akibatnya mereka yang sibuk bekerja tanpa istirahat cukup bisa mengidap sindrom kelelahan. Overload dengan pekerjaan. Yang biasa ditandai dengan cepat marah, susah tidur hingga gangguan psikosomatis lainnya.

Mereka yang terlalu lelah sulit menikmati makan dengan enak, enggan berelasi dan berekreasi dengan keluarga. Bahkan merusak hubungan romantis dengan pasangan. Tiba di rumah, mereka hanya ingin beristirahat dan menyendiri dengan kesenangannya. Tidak mau diganggu pasangan atau anaknya. Tentu ini membuat seisi rumah merasa tidak nyaman. Anak-anak kehilangan waktu bermain dengan ayah atau ibunya. Istri merasa diabaikan suaminya, atau sebaliknya. Jika anak atau pasangan minta waktu, maka reaksi utama mereka yang kena sindrom kelelahan adalah marah. Sensitif dan mudah tersinggung. Kelelahan juga bisa menimbulkan penyakit fisik. Tubuh yang kurang istirahat tidak sempat mengalami penyegaran.

Belum lagi ditambah masalah mereka yang di kota besar seperti Jakarta yakni kemacetan. Jarak tempuh yang jauh dari rumah ke tempat bekerja. Jika bekerja sehari delapan jam, ditambah 3-4 jam di perjalanan, maka individu menghabiskan setidaknya sebelas hingga dua belas jam sehari. Belum lagi jika yang bersangkutan lembur karena tuntutan perusahaan. Jika kondisi ini berlangsung berbulan-bulan dan bertahun-tahun akan membahayakan.

Belum lagi mereka yang menyibukkan diri dalam kegiatan sosial dan ibadah. Menjadi majelis gereja misalnya. Kadang dua hingga tiga kali ke gereja, terutama malam hari. Ini dapat memperparah sindrom kelelahan tadi. Apalagi jika mereka pecinta sosial media. Masih harus chatting, membalas bbm/email, membaca berita online, dlsb. Kelelahan makin bertambah.

Untuk mengatasi hal ini baik melakukan hal-hal sbb:

  1. Ambil sedikit waktu saat istirahat makan siang. Sekedar memejamkan mata 15-20 menit. Ini akan sangat membantu.
  2. Sediakan waktu khusus dengan keluarga. Membangun keintiman dengan anak dan pasangan. Sebab keakraban keluarga yang hangat meminimalkan stres.
  3. Rancang waktu libur bersama keluarga. Baik di akhir pekan, maupun saat anak libur panjang. Menyegarkan kembali fisik dan emosi anda.
  4. Batasi waktu lembur. Kerjakan semua pekerjaan di kantor dan kalau bisa usahakan jangan bawa ke rumah.
  5. Berangkatlah lebih awal jika itu bisa menghemat waktu anda di jalan.
  6. Setiba di rumah ambil sedikit waktu istirahat, baik tiduran maupun menonton dalam suasana santai.
  7. Batasi kegiatan sosial atau pelayanan, jangan terlalu banyak dan menyita kebersamaan keluarga.
  8. Sediakan waktu untuk olahraga ringan seperti jogging, berenang dsb.
  9. Batasi waktu untuk chatting atau interaksi di dunia maya. Hindari komunikasi bbm, email atau sms yang tidak perlu.
  10. Perbanyak waktu berdoa dan meditasi pribadi. Minta hikmat Tuhan dalam menggunakan waktu dan tubuh pemberianNya.

Semoga berguna.

Tulisan ini telah meminta ijin dari penulisnya, Bpk Julianto Simanjuntak. Beliau adalah Pendiri Pelikan, Penulis, dan Pengajar Konseling di STT Jaffray. Twitter: @PeduliKeluarga. Web: http://www.juliantosimanjuntak.com Ebook: Bagi pengguna Ipad dan Iphone bisa mengunduh Buku Julianto dan Roswitha via http://www.juliantobooks.mahoni.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: