Sumber Kebosanan Pria

JuliantoApakah Pria itu pembosan? Bisa ya bisa tidak. Tapi setidaknya sebagian pria hidupnya suka dengan yang dinamis, enggan sesuatu yang monoton dan rutinitas. Demikian juga dalam membina keintiman dengan pasangannya, termasuk keintiman seksual. Dalam pengalaman Saya sebagai terapis keluarga, ada beberapa sumber kebosanan pria.

Pertama, jika mendengar isi komunikasi istrinya monoton. Terjadi pengulangan, apalagi dengan ekspresi dan intonasi yang kurang menarik.
Saat seperti ini nampak suami memilih diam atau hanya menjawab singkat: hmm…Ya… Mungkin….entahlah… Malas mengeksplorasi percakapan. Ekstrimnya malah memilih tidur atau bekerja di depan komputer, berpura-pura sibuk.
Untuk mengatasinya: latih diri menjadi pendengar yang baik. Belajar humor dan memperbanyak kosa kata dan isu percakapan yang disukai pria. Seperti politik, mobil, bola dsb. Kembangkan juga hobi bersama, supaya nyambung.

Kedua, variasi hubungan seksual yang minim.
Pria senang menikmati segala sesuatu dengan variasi. Lihat saja mungkin pasanganmu suka membawa motor atau mobilnya ke bagian variasi mobil, dan rela mengeluarkan uang banyak hanya sekedar ganti klakson atau knalpot. Hal yang sama tampak dalam hubungan suami-istri. Ia ingin punya variasi, tidak hanya posisi saat berhubungan seksual tapi juga tempat melakukannya. Jika istri kurang memahami kebutuhan ini, cepat atau lambat pasangannya akan merasa bosan dan bisa-bisa berujung selingkuh.
Solusinya: bicarakan terbuka variasi hubungan yang disukai pasangan, dan frekuensi dan waktu yang dibutuhkan.

Ketiga, dalam hal karir.
Jika pria sudah merasa mentok dengan jabatan, atau penghargaan di kantornya maka ia berpikiran ingin pindah kerja. Indikasinya, ia banyak mengeluh tentang kantor. Mengeluhkan hubungan dengan teman kerja hingga enggan banget berangkat kerja. Mungkin pasangan anda sibuk kerja dan lupa mengembangkan diri. Malas sekolah lanjut atau setidaknya ikut seminar rutin dsb. Sehingga saat terjadi kompetisi dengan rekan yang lebih muda, pasanganmu merasa diabaikan bosnya. Namun sering pindah kerja jusru melemahkan isi CVnya, karena dianggap tidak loyal.
Solusinya: sejak menikah dorong agar pasangan selalu kembangkan diri. Suka membaca dan belajar. Kalau perlu studi lanjut agar membuatnya lebih menguasai pekerjaannya.

Keempat, sibuk kerja dan kurang rekreasi.
Kesibukan bekerja dan rutinitas bisa mendatangkan rasa jenuh. Sayangnya pasanganmu merasa tak perlu ambil cuti dan rekreasi. Saat mengalami overload syndrom dia merasa cepat capek. Banyak mengeluh.
Sarannya: Saat seperti ini dorong pasanganmu ambil cuti dan pergi berlibur. Apalagi jika pasanganmu mengidap workaholic alias candu kerja.

Tentu ini bukan kesalahan pasangan (istri) semata. keluar dari rasa bosan juga merupakan tanggungjawab utama kita sebagai pria dewasa. Semoga mencerahkan.

Tulisan ini telah meminta ijin dari penulisnya, Bpk Julianto Simanjuntak. Beliau adalah Pendiri Pelikan, Penulis, dan Pengajar Konseling di STT Jaffray. Twitter: @PeduliKeluarga. Web: http://www.juliantosimanjuntak.com Ebook: Bagi pengguna Ipad dan Iphone bisa mengunduh Buku Julianto dan Roswitha via http://www.juliantobooks.mahoni.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: