Saya cinta Indonesia, tapi ….

AGUSTUS 2013Dulu waktu SD, SMP, SMA, di sekolah semua murid diwajibkan untuk mengikuti upacara bendera. Termasuk saya Tentu saja hal itu sangat membosankan. Urutan acaranya saja sampai hafal di luar kepala. Bahkan waktu tiba pada sesi menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, saya ogah-ogahan buka mulut. Satu kali karena teriknya matahari, saya sempat nyaris pingsan di lapangan. Keringat dingin sudah bercucuran. Wajah saya memucat. Penglihatan mulai gelap. Puji Tuhan, tidak sampai ambruk. Saya masih bisa bertahan sampai upacara selesai. Senang sekali rasanya kalau sudah berakhir “penderitaan di lapangan”…

Setelah lulus SMA, masa-masa kuliah adalah masa yang paling menyenangkan. Serba bebas! Baju bebas. Sepatu bebas. Tidak perlu pakai kaos kaki putih. Tidak perlu melakukan olahraga di lapangan (hal yang tidak saya sukai waktu itu). Dan ini: tidak perlu mengikuti UPACARA BENDERA! Yesss!!

Waktu pun berlalu. Kuliah selama 4 tahun selesai sudah. Saya mulai bekerja, di kantor A, B, C, D, dan… sebuah kantor yang adalah Universitas. Bukan kebetulan kalau 2 hari setelah saya berkantor di situ, ada… upacara bendera! Waduuhh!! Lokasi kantor yang jauh dari rumah, ditambah acara yang diadakan pada tanggal merah alias libur, membuat saya uring-uringan. “Masa sih wajib?” tanya saya ke seorang teman. “Iya! Diabsen loh! Harus dateng!” kata teman saya. Sementara teman lain yang rumahnya sangat jauh dari kantor berkata, “Saya besok ijin ah! Ada acara keluarga juga. Saya ga bisa.”

Dalam hati saya galau. Sebagai staf baru, tentu saja tidak mungkin saya ijin, betapapun sangat ingin berlibur. Belum pernah saya berada di “dunia bebas” (dunia kuliah dan kerja), tapi ternyata masih harus bertemu dengan yang judulnya “wajib!”. Haduuhh… Tapi akhirnya saya memaksakan diri untuk datang dan melangkah menuju area yang sudah ditetapkan untuk divisi dimana saya bekerja.

Ternyata upacara diadakan di ruang tertutup. Lumayan. Tidak perlu kuatir terkena panas terik matahari. Sambil menunggu semua berkumpul dan panitia siap, saya berdiri mengambil posisi. Tidak lama terdengar teriakan untuk mulai mengatur barisan. Wah! Benar-benar seperti masa sekolah dulu…memori saya mulai “menari-nari” ke masa lalu. Ada rasa senang, ada rasa aneh, dll. Sampai ketika pemimpin upacara mengajak semua yang hadir menyanyikan lagu kebangsaan. “Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku… Di sanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku… Indonesia kebangsaanku, bangsa dan tanah airku. Marilah kita berseru, Indonesia bersatu… dst.” Air mata saya spontan menggenang. Waduh! Buru-buru saya tahan. Dengan menundukkan kepala sesekali sambil menggerakkan telapak tangan untuk mengusap-usap mata, saya merasa malu kalau sampai dilihat kiri-kanan. Pasti mereka akan heran. Bagaimana tidak, saya sendiri heran! Rasa haru-biru mulai menyelimuti dengan kuat ketika nada-nada lagu Indonesia Raya saya nyanyikan dari awal… bahkan sampai akhir.

Hmm… cinta tanah air! Ini tema yang diajukan seorang tim INSIDE menyambut bulan Agustus. Dia juga meminta setiap tim berbagi pengalaman masing-masing tentang “Cinta Indonesia”. Awalnya saya menolak. Mengapa? Karena saya punya kenangan buruk tentang negeri ini… Nanti saya ceritakan lebih lanjut, setelah satu ini..

Satu ketika, beberapa bulan lalu, saya diajak sahabat menghadiri seminar. “Create Your Success” temanya. Salah seorang pembicara mengajak peserta menyanyikan sebuah lagu, yang ketika judulnya disebut, hati saya bergetar… Indonesia Raya! Lagi-lagi saya harus menahan air mata. Tapi karena suasana cukup mendukung (seminar diadakan di sebuah gereja), maka saya tidak segan mengusap air mata, walaupun tetap saja merasa malu. Tapi setelah beberapa kalimat, memori saya terlempar ke beberapa kejadian buruk…

Pada jaman saya lahir, kedua orangtua masih berstatus WNA. Padahal mereka sudah lama tinggal di Indonesia. Mereka juga lahir di sini. Bukan karena mereka tidak mengurus dokumen, karena ayah saya sangat peduli dengan identitas diri dan keluarganya. Tetapi karena memang seperti diperlambat, entah karena alasan apa. Lalu demi memiliki Akte Lahir tanpa harus repot membuat surat “Ganti Nama”, maka ayah saya mengatasnamakan saya sebagai anak kerabatnya yang sudah lebih dulu menerima surat resmi status WNI. Tentu saja awalnya hal ini sangat menggembirakan. Ide yang brilian bukan? Karena dengan begitu, saya tidak perlu susah payah mengurus “ganti nama”, dan dokumen lain yang intinya mengakui identitas diri saya sebagai warga negara Indonesia. Tapi salah. Ternyata, di kemudian hari, hal ini tentu saja merepotkan. Salah satu yang paling saya sesalkan adalah pengurusan paspor.

Sebagai warga negara yang baik, sebisa mungkin saya tidak mau menggunakan jasa “calo” untuk mengurus dokumen kenegaraan, salah satunya paspor. Untuk apa harus membayar orang lain, jika prosedurnya bisa saya jalani sendiri? Tapi ternyata salah (lagi). Saya “disuruh” naik ke lantai 3, turun ke lantai 1, naik lagi ke lantai 2, lalu kembali ke lantai 1. Tidak hanya itu. Pada waktu di lantai 1, saya dibiarkan saja menunggu tanpa informasi apapun. Orang di kiri-kanan saya sudah dipanggil menghadap. Sampai akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya ke seorang petugas di loket yang saya tunggui. Dan barulah si petugas memberitahu bahwa ada kesalahan penulisan pada formulir yang saya serahkan. Sangat mengesalkan! Petugas yang baik tentu tidak seperti itu.

Setelah beres di situ, saya antri lagi di loket yang lain. Foto. Beres. Lalu sesi wawancara. Seorang pria duduk di sebelah kanan saya. Dari sosoknya dia memang tidak satu ras dengan saya. Dia datang lebih telat, tapi pulang lebih cepat. Saya kesal melihat itu. Memangnya apa yang membedakan saya dengan dia?

Tidak berapa lama nama saya dipanggil untuk diwawancara. Tanpa saya sangka, petugas di dalam bersikap sangat tidak pada tempatnya. “Mau pergi ke Singapura sama saya nggak?” tanyanya. “Enggak Pak,” kata saya. “Kenapa?” katanya. Awalnya dia mempermasalahkan dokumen WNI “ayah” saya yang hanya fotocopy. Padahal jelas ada cap dari Pengadilan Negeri sebagai legalisasi atas copy tersebut. Tapi tetap saja dipersulit. Sampai pada pertanyaan “melecehkan” seperti tadi. Akhirnya saya tidak tahan lagi dan berkata bahwa saya akan memanggil ayah yang menunggu di luar. Mendengar itu, spontan dia ketakutan. Dari gayanya yang “genit” berubah jadi “panik”.
“Oh! Enggak usah, nggak usah!” katanya. Tapi saya berdiri saja, dan memanggil ayah saya masuk. Dalam hati saya berkata, “Rasain luh!”

Setelah beberapa kalimat diucapkan ayah saya, paspor pun jadi. Tidak sampai 5 menit. Tapi saya tidak bisa menerimanya saat itu juga. Saya diminta datang besok! Dalam hati saya bertekat untuk tidak mau datang besok. Ayah saya berkata, “Terserah kamu.”

Keesokan hari saya berangkat kerja. Sesampainya di kantor, ada telepon masuk. Rupanya dari pewawancara kantor imigrasi. Saya berkata, tidak bisa datang hari ini, besok saja. Dan besok saya kembali lagi, kali ini tentu saja ditemani ayah yang langsung masuk ke ruang wawancara. Saya tidak mau “dikerjain” lagi. Lima menit paspor sudah di tangan. Ayah saya memberikan sedikit uang sebagai tanda terima kasih. Buat saya tidak perlu berterima kasih. Adalah kewajiban petugas negara untuk menolong/membantu warganya!

Kejadian lain… kerusuhan berbau SARA di bulan Mei 1998 membuat saya begitu trauma untuk tinggal di negeri ini. Cerita-cerita tentang diskriminasi ras yang sering dilakukan baik oleh warga lain maupun petugas pemerintahan, membuat saya bingung dan bertanya-tanya. Ada apa dengan negara ini? Orangtua saya lahir di sini. Saya pun lahir di sini. Kami bukan kriminal yang harus dibedakan dalam hal dokumen kenegaraan. Mengapa rasialisme masih begitu kental di negara ini? Bhinneka Tunggal Ika, semboyan yang dijunjung. Tapi sayang hanya teori. Memang, rasa “kesukuan” akan selalu ada dimanapun. Tapi sebaiknya tidak di negara ini.

Bukankah Indonesia adalah negara berdasarkan Pancasila dengan nilai-nilai luhur tentang persatuan, keadilan, kerakyatan, dan keTuhanan? Bangsa ini terkenal sebagai bangsa yang ramah. Turis yang melancong di negeri ini tidak akan disambut dingin dan sikap angkuh seperti di negara lain, ketika saya jadi turis. Saya bangga karena Indonesia adalah negara yang kaya raya. Penduduknya punya potensi besar, punya kreasi hebat. Lihat saja penghargaan dari organisasi dunia atas prestasi anak negeri yang tidak sedikit, hanya saja kurang publikasi. Animator sebuah produsen film kartun beken di Amerika saja diisi oleh orang-orang Indonesia. Banyak yang bisa dibanggakan dari negeri ini, tapi sayang…. Cerita-cerita buruk itu membuat saya berhenti “terharu”. Saya cinta Indonesia, tapi apakah Indonesia bisa membalas cinta saya?”

Saya masih berharap bahwa CINTA INDONESIA dalam hati saya terbalaskan, dan bukan bertepuk sebelah tangan….(E-INSIDE)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: