MELATIH PIKIRAN

JUNI 2013Menurut penelitian, masyarakat modern cenderung rentan terhadap yang namanya stres. Banyak orang bisa stres karena berbagai hal yang kadang tidak masuk akal.Bicara soal stres, mungkin saya termasuk orang yang mudah stres. Bahkan saya bisa stres karena hal sepele, misal harus menyampaikan titipan pesan pada bos. Saya bisa stres karena hal itu saja. Padahal apa susahnya tinggal ngomong. Padahal bos saya baik. Tapi saya stres untuk melakukan hal sesederhana itu. Saya takut bila pesannya tidak sampai dengan benar. Saya takut bila bos saya salah menangkap apa yang disampaikan. Dan banyak ketakutan lain yang membuat saya stres.

Apa yang saya alami sebenarnya juga dialami oleh banyak orang lain, hanya dalam bentuk yang berbeda dan penyebab yang berbeda. Tapi kita semua sama-sama mengalaminya. Kita semua mengalami stres. Kita mengalami stres di pekerjaan, di rumah, di gereja, di mana saja. Ada apa dengan kita sebenarnya? Well, untuk penyebab stres secara detail akan dibahas di bagian lain. Tapi apa yang ingin saya bahas di sini adalah bagaimana cara menangani stres menurut Firman Allah.

Sekali lagi menurut penelitian, akar masalah kenapa kita bisa stres adalah apa yang kita pikirkan dalam pikiran kita. Kita memikirkan atau membayangkan sesuatu yang malah memberi tekanan kepada diri kita. Kita memikirkan sesuatu yang malah membuat kita khawatir, cemas, galau. Dan itulah yang membuat kita stres. Kita dipermainkan oleh pikiran kita sendiri. Padahal apa yang kita pikirkan atau bayangkan itu belum tentu benar. So, kalau masalahnya dengan pikiran, yang harus diperbaiki adalah pikiran kita, bukan yang lain. Bukan lingkungan kita, bukan rekan kita, bukan suami atau istri kita, bukan anak-anak kita, bukan atasan kita. Tapi pikiran kita. Kitalah sumbermasalahnya. Kitalah yang menyebabkan diri kita sendiri stres.

Jadi bagaimana kita memperbaiki diri kita ini? Kita harus mengalami yang namanya terobosan dalam pikiran, atau bahasa kerennya, breakthrough thinking, atau dalam bahasa Alkitabnya berubah oleh pembaharuan budi. Well, apapun istilah yang kita pakai, intinya tetap sama, yaitu kita harus melakukan sesuatu dengan pikiran kita.

Apa yang harus kita lakukan dengan pikiran kita kalau begitu? Ya berpikir. Apa lagi yang bisa kita lakukan dengan pikiran kita kalau bukan berpikir? Nah pertanyaannya, apa yang harus kita pikirkan? “Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji” (Filipi 4:8). Ya, mungkin kita sudah sangat familiar dengan ayat ini. Tapi seberapa sering kita melakukannya? Seberapa sering kita memikirkan hal-hal yang positif daripada hal-hal negatif?

Kata-kata terakhir dari Filipi 4:8 adalah, “pikirkanlah semuanya itu.” Artinya kita harus dengan sengaja memikirkannya. Hal itu tidak terjadi dengan sendirinya, begitu saja, karena kalau dibiarkan pikiran kita cenderung lebih mudah memikirkan hal-hal negatif daripada hal-hal positif. That’s why, kita harus dengan sengaja memikirkan hal-hal yang disebutkan di atas.

Merenungkan Firman

Berkaitan dengan memikirkan hal-hal yang “benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, kebajikan dan patut dipuji” ada satu kebiasaan baik yang bisa kita lakukan yaitu merenungkan Firman. Bicara soal merenungkan Firman, kebanyakan kita masih bingung dengan istilah ini, karena seringkali yang ditekankan di banyak gereja adalah membaca Firman. Tidak heran ada banyak program baca Alkitab setahun. Karena yang ditekankan hanya membaca Firman. Padahal dalam Alkitab yang ditekankan bukan sekadar membaca tapi merenungkan. Bahkan merenungkan Firman itu harus menjadi kesukaan kita.

Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. (Mazmur 1:2)

Apa itu merenungkan Firman? Pengertian yang paling sederhana dari merenungkan Firman adalah memikirkan Firman. Apa maksudnya memikirkan Firman? Sama seperti kita memikirkan hal-hal lain dalam hidup kita. Betapa seringnya kita memperlakukan Firman sama seperti buku biasa, kita baca begitu saja, dan kita lupa apa yang baru kita baca. Tapi berapa sering kita berhenti membaca dan berpikir, apa yang baru saja kita baca. Apa yang dimaksud dengan ayat atau kisah yang baru kita baca. Apa yang dimaksud dengan kata-kata tertentu di sana. Kenapa tokoh di dalam kisah yang kita baca melakukan tindakan tersebut. Apa yang bisa kita pelajari dari bacaan Alkitab kita? Itulah yang disebut merenungkan Firman. Memikirkan Firman. Kita menggunakan pikiran kita saat membaca Firman. Kita tidak sekadar membaca saja, tapi memikirkan, membayangkan Firman yang kita baca. Dan karena Firman yang kita renungkan ini berkuasa, Firman ini akan mengubah pikiran kita. Dan waktu pikiran kita berubah, hidup kita pun berubah.

Merenungkan Firman adalah salah satu cara terbaik untuk kita melatih pikiran kita. Memang ada banyak hal yang “benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, kebajikan dan patut dipuji” yang bisa kita pikirkan. Tapi apa yang lebih “benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, kebajikan dan patut dipuji” daripada Firman Tuhan? Di dalam Firman Tuhan kita dapat paket lengkap dari semua yang “benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, kebajikan dan patut dipuji”. So kenapa tidak mulai merenungkan Firman kalau begitu? (denny pranolo-INSIDE)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: