Elemen Penghancur Perkawinan

JuliantoDalam kasus-kasus konseling kami memperhatikan, perkawinan menjadi rusak karena beberapa perilaku suami atau istri yang menghancurkan. Ada beberapa elemen yang dapat merusak perkawinan.

Pertama, keras kepala.
Artinya, masing-masing mudah terbakar oleh perbedaan pendapat. Pola komunikasi pasangan ini mirip dengan permainan kartu, tiap orang merasa harus menang. Salah satu penyebabnya adalah keduanya memiliki sifat keras kepala.
Bagaimana mengatasi sifat keras kepala ini? Anda dan pasangan harus menyediakan waktu untuk duduk bersama. Kemudian membicarakan dengan terbuka hal-hal apa yang menjengkelkan masing-masing saat berkomunikasi. Misalnya soal pulang terlambat, janji yang tidak dipenuhi, sifat pelupa, dan sebagainya.

Kedua, mendominasi pasangan.
Seorang istri yang sukses dalam karir, cenderung mengontrol suami dan semua urusan rumah tangganya. Kadang untuk itu dia berperilaku agresif dan berpura-pura meminta pendapat sang suami. Namun karena selalu kurang waktu untuk diskusi, suami akhirnya menyerah pada kemauan istrinya.
Ada juga sikap menyuap pasangan. Pola ini sering dipakai di mana komunikasi berjalan secara tidak jelas. Terjadi sistem “suap” supaya pasangan diam dan menerima keadaan. Contoh: Seorang istri yang ingin ngobrol dengan suaminya tentang sesuatu hal yang berhubungan dengan suaminya tetapi tidak kesampaian karena suami terlebih dahulu memberikan sesuatu padanya, misalnya perhiasan atau uang (hadiah). Akhirnya si istri mengurungkan niatnya untuk curhat. Ucapan terima kasih dari istri pada suaminya tidak berarti karena kebutuhan tidak terjawab.
Seorang Istri yang takut akan Tuhan akan menempatkan suaminya pada posisi yang lebih tinggi daripada dia sendiri. Suami yang menyadari bahwa dia harus mempertanggungjawabkan kedudukan ini kepada Allah, tidak akan mau mengabaikan rumah tangganya, apa pun alasannya.

Tiga, membaca pikiran.
Istri/suami mempunyai asumsi pikiran terhadap pasangannya. Akibatnya, seringkali terjadi salah paham dan memancing pertengkaran. Kita perlu membangun rasa percaya terhadap pasangan. Pria dan wanita mempunyai sifat dan pembawaan yang dasarnya memang berbeda. Komunikasikan kebutuhan Anda dengan baik sehingga pasangan Anda tidak menduga-duga lebih jauh.
Menurut Lederer dan Jackson, ada relasi yang kuat antara trust dan komunikasi suami-istri. Jika komunikasi antara suami istri terganggu dan mengalami tegangan maka trust cenderung berkurang. Tetapi jika keduanya saling mempercayai, mereka mudah membangun kepercayaan yang “saling” (mutual confidence).

Empat, menghindari konflik.
Perilaku menjengkelkan lainnya adalah mengalihkan rasa enggan berkomunikasi dengan kesibukan. Contoh: Suami membawa pulang pekerjaan kantor, kemudian berkurung diri di kamar dan tidak mau diganggu. Istri juga terus sibuk dengan anak-anak dan pekerjaan rumah lainnya. Karena kesibukan masing-masing maka akhirnya mereka tidak saling berkomunikasi, padahal sebenarnya ada hal-hal yang bisa ditunda.
Contoh lain. Suami sebenarnya tidak begitu suka bertemu dengan keluarga istri. Maka, kalau keluarga istri berencana kumpul, ada-ada saja alasan suami tidak mau ikut. Ini dilematis untuk istri yang memang dekat dengan keluarga asalnya. Maka, jika ada rencana pertemuan keluarga, istri berusaha sedapat mungkin bersikap baik dan menghindarkan konflik dengan suaminya. Tetapi akibatnya dia kelelahan sendiri karena merasa terjepit antara suami dan orang tua atau saudara kandungnya.
Bagaimana mengatasi hal ini? Umumnya aktifitas sok sibuk ini dipicu oleh konflik tersembunyi. Kalau konflik tersembunyi ini dibiarkan bertumpuk, kita tinggal menunggu ledakannya yang hebat. Karena itu, masing-masing pihak harus mengakui perasaannya yang terdalam, apakah yang membuat dia enggan berkomunikasi dengan pasangan. Jika akar sebenarnya adalah konflik yang bertumpuk, mereka perlu belajar terbuka dan mampu mengelola konflik itu.

Lima, komunikasi yang miskin.
Menurut D. Scheunemann para istri sangat butuh pernyataan dan wujud cinta, rangkulan kasih, dan tanda-tanda cinta yang romantis. Istri membutuhkan banyak waktu suaminya agar suaminya dapat mendengarkan keluhan dan pergumulannya. Ada empat kebutuhan pokok istri dalam hubungan dengan suami. Yakni: rasa aman, percakapan yang berarti, ikatan emosi yang romantis dan sentuhan fisik.
Komunikasi merupakan inti kehidupan keluarga. Artinya tiap anggota berinteraksi secara verbal dan nonverbal menyatakan emosi-emosi mereka. Melalui komunikasilah suami istri dapat menyatakan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan sehingga hubungan itu semakin intim dan dalam.
Tanpa kemampuan berkomunikasi secara efektif, keluarga itu akan cepat menjadi hanya sekumpulan individu yang memiliki perasaan, pikiran dan keinginan masing-masing. Keluarga yang demikian akan mudah menjadi sakit dan tidak berfungsi.

Enam, berbuat baik demi menguasai pasangan.
Perbuatan baik yang dilakukan oleh suami/istri untuk menyenangkan diri sendiri. Contoh: seorang istri melayani kebutuhan seksual suami dengan tujuan keinginannya dipenuhi, misalnya ingin dibelikan cincin berlian. Pola ini merusak pernikahan, maka perlu diperbaiki. Perasaan jengkel karena merasa dimanfaatkan pasangan, perlu dikelola. Suami dan istri seyogyanya memiliki cinta yang tulus dan sabar menanggung kelemahan tertentu pasangan. Jika sulit melakukannya, pasangan ini perlu meminta pertolongan konselor perkawinan.

Enam, tidak bertanggung jawab.
Di Indonesia, 30% perceraian terjadi karena salah satu pasangan meninggalkan tanggung jawabnya terhadap keluarga. Yang dimaksud di sini bukan jobless, yang terkadang memang tidak terhindarkan, melainkan sifat seseorang yang cenderung mau enaknya saja.
Sifat ini biasanya sudah terbentuk sejak masa kanak-kanak. Jadi kalau ditemukan sesudah menikah, maka tidak mudah untuk mengubahnya. Jika istri terus ngomel menuntut suami berubah, dapat menjadi bumerang dimana suami tidak nyaman digurui. Sebaiknya temui konselor perkawinan, agar terapislah yang berbicara dengan suami Anda.

Julianto Simanjuntak
dari buku “KETRAMPILAN PERKAWINAN” (Julianto Simanjuntak & Roswitha Ndraha)

Tulisan ini telah meminta ijin dari penulisnya, Bpk Julianto Simanjuntak. Beliau adalah Pendiri Pelikan, Penulis, dan Pengajar Konseling di STT Jaffray. Twitter: @PeduliKeluarga. Web: http://www.juliantosimanjuntak.com Ebook: Bagi pengguna Ipad dan Iphone bisa mengunduh Buku Julianto dan Roswitha via http://www.juliantobooks.mahoni.com

One response to this post.

  1. Thx untuk artikelnya.

    Di sini ada link untuk memahami pacaran yang benar, silahkan dilihat. Pasti akan memberkati Anda!

    http://datinginsightindonesia.wordpress.com

    Untuk melihat pembahasannya silahkan lihat link dibawah ini:

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: