MENJADI GARAM?

MEI 2013Kalau kita iseng-iseng googling dengan kata kunci “garam dunia”, kita akan menemukan banyak artikel yang isinya tentang apa maksudnya garam dunia dan bagaimana menjadi garam dunia, lengkap dengan langkah-langkahnya. Well, karena itulah saya tidak akan membahas lagi apa artinya menjadi garam dunia atau bagaimana cara menjadi garam dunia. Tapi saya mau membahas kalimat berikutnya dari ayat yang sudah terkenal ini “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang” (Mat 5:13). My point here is bukanlah bagaimana menjadi garam, tapi menjaga agar kadar keasinan kita tetap terjaga.

Mungkin bagi kita terdengar aneh, kenapa ada garam yang bisa kehilangan rasa asinnya, tapi tidak di zaman Yesus. Di zaman Yesus, garam yang biasa dipakai diambil dari Laut Mati tapi,” garam dari daerah Laut Mati biasanya terkontaminasi mineral lain; jika campuran ini terkena air, maka garamnya akan larut dan yang tersisa hanya zat-zat yang tidak ada rasanya” (The International Standard Bible Encyclopedia). Inilah garam yang dikatakan tidak asin lagi. Dalam konteks kita sebagai garam dunia, apakah “mineral lain” itu? Yaitu nilai-nilai, gaya hidup, cara pandang yang tidak sesuai dengan Firman Allah.

The New Trend

Suka tidak suka, harus kita akui jika dalam gereja saat ini (lebih tepatnya hampir 10 tahun terakhir) ada suatu trend baru: trend untuk keluar dari keempat tembok gereja dan berbaur dengan dunia. Untuk “menjadi sama” dengan dunia, dengan tujuan menyebarkan nilai-nilai Kristus kepada mereka dan membuat mereka mengenal Kristus. Atau dengan bahasa Kristennya, orang Kristen sekarang didorong untuk menjadi “garam dunia.” That’s why kita melihat ada banyak gereja yang “keren”. Cara ibadahnya “menarik”. Dengan segala kecanggihan teknologi. Pesan-pesan yang disampaikan dari mimbar pun lebih menarik dan praktis untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Orang Kristen pun didorong untuk lebih terlibat dalam kehidupan sehari-hari dan bergaul dengan sebanyak mungkin orang dan tidak sibuk dengan urusan gereja saja. Tujuannya apa? Untuk menggarami dunia.

Apa ada yang salah dengan semua itu? Tidak. Itu alkitabiah, dan itu baik. Tapi saya hanya mau menambahkan satu hal yang menurut saya penting untuk memperlengkapi kita yang sudah mendengar khotbah tentang terlibat dalam dunia dan merasa bahwa itu adalah panggilan kita. Be careful. Hati-hati. Hati-hatilah agar jangan sampai kita kehilangan “rasa asin” kita sebagai garam dunia.

Saat kita berinteraksi dengan dunia, dengan orang lain, kita sedang berhadapan dengan nilai-nilai lain yang berbeda dengan yang kita pegang. Kita sedang berhadapan dengan cara pandang lain yang berbeda dengan yang kita tahu. Dan jika tidak hati-hati bisa-bisa malah kita yang “digarami” bukannya kita yang “menggarami” dunia.

So, bagaimana caranya agar kita tetap “asin”? Dengan memurnikan diri kita terus, agar “mineral lain” yang mencemari kita boleh disingkirkan dan yang ada hanya “garam” yang murni dan asin. How? Back to basic. Dengan menjaga hubungan dengan Tuhan. Merenungkan Firman-Nya.

Kedengarannya klise but that’s the truth. Jangan sampai kita terlalu berfokus pada bagaimana caranya “menggarami” dunia sekitar kita tapi lupa untuk “menggarami” diri kita sendiri dengan Firman Allah. Karena itulah, penting bagi kita untuk terus berinteraksi dengan Firnan Allah. Bukan sekadar membaca tapi merenungkan. Merenungkan berarti membaca plus memikirkannya. Memikirkan apa yang baru saja kita baca. Memikirkan apa arti Firman yang kita baca. Memikirkan bagaimana kita bisa melakukan Firman yang kita baca. Itulah merenungkan. Dan itulah cara agar kita tetap “asin” sebagai garam dunia. (denny pranolo-INSIDE)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: