Kuasa Kasih Sayang

Julianto

Salah satu unsur utama pembentuk kesadaran moral anak adalah cinta Orangtua. Dalam kondisi tertentu kasih Ortu 

membantu anak menjauhi godaan/dosa. Sebab anak tidak mau menyakiti hati Ayah/Ibunya dengan berbuat hal yang salah atau memalukan. Andaipun anak akhirnya salah jalan karena sesuatu hal, baik karena lingkungan atau pergaulan yang salah, cinta juga membuat mereka kembali ke jalan yang benar.

Ini bisa kita baca dari kisah “Anak yang Hilang”. Dikisahkan, tentang seorang anak Bungsu memaksa Ayahnya memberikan warisan, lalu pergi meninggalkan rumah. Diapun hidup berfoya-foya. Sampai suatu ketika uangnya habis dan jatuh miskin. Anak muda ini memutuskan bekerja sebagai penjaga babi. Saat dia sakit, lapar dan kesepian di kandang tersebut, teringatlah dia akan kasih ayahnya.

Mengenang kebaikan Ayahnya. Dalam hati kecilnya, ia yakin sang Ayah akan menerima dia kembali. Benar, Ayahnya yang sudah lama menantikan si bungsu menyambutnya dengan cinta tanpa syarat. Bahkan membuat pesta yang 

meriah, karena sempat menduga anaknya sudah meninggal.

Begitulah yang akan terjadi pada anak kita andai mereka salah jalan. Kasih dan orangtua akan kembali muncul di benak mereka. Kasih itulah yang akan membantu anak kita kembali ke jalan yang benar atau bertobat.

Anak boleh gagal atau salah jalan, seperti kisah si bungsu yang berfoya-foya. Tapi kasih orangtua yang bijak selalu memberi anak kesempatan kedua. Kesempatan berubah dan memperbaiki diri.

Anak Dengan Kasih Sayang Vs Tanpa kasih sayang

Ada yang menarik dari Hasil penelitian Universitas Harvard tentang Perkembangan Orang Dewasa yang diteliti selama 60 tahun. Dituliskan kembali oleh Beverly Hubble Tauke dalam bukunya “Healing your Family Tree”. Mereka yang 

dibesarkan dengan kasih sayang dan bahagia di masa kecil umumnya terlindung dari depresi, adiksi serta gangguan mental lainnya. Kehidupan mereka lebih kaya dengan hubungan (relasi) dan sukacita. Selain itu ditemukan mereka lima kali lebih suka melakukan olahraga yang sifatnya bersaing, bermain-main dengan teman, dan berlibur.

Mereka lebih mampu menyeimbangkan tugas dan kewajiban dengan melakukan rekreasi yang menyenangkan. Ditemukan juga mereka suka menjalin dan membangun hubungan serta mendapat sukacita dari relasi itu. Mereka yang diasuh dengan kasih sayang, selalu ada yang bisa dibagi dalam relasi. Mereka mampu menyeimbangkan waktu kerja dan rekreasi. Antara karir dan hobi. Antara bisnis dan keluarga.

Tapi yang tanpa kasih sayang, “gelasnya kecil dan bocor pula”, sehingga hidupnya selalu merasa tidak cukup. Mereka ditemukan lima kali lebih banyak yang menderita gangguan kesehatan jiwa, termasuk depresi dan kecanduan obat-obatan. Cenderung memilih hidup menyendiri, memisahkan diri dari persahabatan. Tak sedikit mereka meninggal karena perilaku tidak sehat, termasuk karena bunuh diri.

Mereka yang kurang kasih sayang cenderung kurang mengasihi dirinya sendiri. Masih menurut penelitian itu, sebagian dari mereka lebih suka menyenangkan diri dengan hal yang justru merusak tubuh seperti alkohol, obat-obatan, workaholic, dlsb.

Dari beberapa literatur lain penulis menemukan bahwa ada orang bekerja keras hanya sebagai “upaya pelarian” dari situasi tertentu. Misal, karena hubungan yang tidak harmonis dengan pasangan.

Ya, anak yang besar tanpa kasih sayang, apalagi dibedakan dan mengalami kekerasan, mudah terperosok dalam godaan. Dia tidak punya “rem” untuk mengatasinya. Anak bahkan tidak terlalu peduli dengan konsekuensi dosa yang ia lakukan itu akan merusak nama baik Orangtuanya. Malah dalam beberapa kasus konseling kami, sebagian anak terus jatuh dalam adiksi narkoba karena ingin membalaskan rasa sakit hati pada Ayah atau Ibunya.

Perlu kita sadari bahwa kasih sayang yang kita tabur pada anak sejak dini akan menjadi modal bagi anak menolak tawaran yang tidak baik dari temannya. Cinta orangtua akan menanamkan rasa takut untuk berbuat jahat. Karena dia merasa akan melukai orang yang mencintai dia.

Sebaliknya seorang anak yang merasa tidak dicintai akan tidak peduli dampak perbuatannya yang buruk. Dia merasa tidak perlu menjaga perasaan siapapun termasuk orangtuanya. Sebab sepanjang hidupnya merasa tidak dicintai.

Penutup

Waktu kita bersama anak tidak panjang. Ada saatnya dia dewasa dan mandiri. Marilah menabur cinta kepada mereka selagi ada kesempatan. Sambil memahami dahsyatnya kuasa kasih sayang, kita mendidik mereka di jalan Tuhan. Agar kelak mereka menjadi manusia yang dewasa, tegar dan bertanggungjawab.

Tulisan ini telah meminta ijin dari penulisnya, Bpk Julianto Simanjuntak. Beliau adalah Pendiri Pelikan, Penulis, dan Pengajar Konseling di STT Jaffray. Twitter: @PeduliKeluarga. Web: www.juliantosimanjuntak.com Ebook: Bagi pengguna Ipad dan Iphone bisa mengunduh Buku Julianto dan Roswitha via www.juliantobooks.mahoni.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: