“GARAM DUNIA”

MEI 2013Dalam Matius 5:13 Tuhan Yesus menyebut tentang GARAM, sebuah produk yang SANGAT PENTING dalam kehidupan. Dan Tuhan memberikan label: “GARAM DUNIA” buat kita. Hmm… bangga nggak ya “disamakan” dengan garam? Dan kenapa juga harus garam? Kenapa bukan Merica Dunia atau Gula Dunia? 

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. (Matius 5:13)

Garam Adalah…

Dari jaman dulu sampai sekarang bahkan di masa yang akan datang, di belahan dunia manapun, garam mengandung senyawa kimia Sodium atau Natrium Klorida (NaCl) yang membuat garam menjadi satu hal sangat penting dalam kehidupan ini. Mengapa? Karena punya begitu banyak manfaat, antara lain: sebagai satu bumbu dapur yang paling penting dari sekian banyak bumbu lain. Selain itu, garam juga bermanfaat untuk kesehatan, kecantikan, pertanian, mengawetkan, membersihkan (noda teh, kopi, darah, dll), bisa digunakan untuk membasmi serangga (semut), dan lain-lain. Bahkan menurut sebuah lembaga peneliti garam, senyawa kimia ini memiliki lebih dari 14.000 manfaat. Wow!!

Apa Maksud Tuhan?

Nah, setelah membaca “identitas” garam di atas, maksud Tuhan dengan menyamakan kita seperti “GARAM” adalah, karena kita ini punya “daya guna/manfaat” seperti garam. Hanya saja, kita seringkali tidak sadar, sehingga membuat kita tidak hidup berguna seperti si garam. Bahkan, sebuah “ultimatum” juga ditulis untuk kita, yaitu: kalau kita menjadi “tawar”, maka akibatnya adalah ini: Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Fungsi Garam

Garam baru disebut garam jika berfungsi seperti ini:

#1. Memberi Rasa (Seasoning)

Salah satu fungsi garam adalah untuk mengubah rasa dari tawar menjadi asin. Ini sama artinya dengan tanpa rasa menjadi lezat.

Ada kisah nyata. Sebut saja Ibu S yang terkenal dengan masakan-masakannya yang enak. Salah satunya soto daging. Tapi entah mengapa, satu hari soto daging buatannya terasa ‘anyep’ (=tawar/hambar). Tidak perlu penyelidikan yang rumit, karena jawabannya sudah jelas: “Kurang garam!”. Ya, masakan yang seharusnya lezat jadi lenyap kelezatannya, hanya karena kurang garam.

Di dunia kita, banyak orang mengalami tawar hati. Mereka mungkin merasa bosan dengan rutinitas hidupnya. Atau sedang stress menghadapi semua tekanan yang ada. Mereka merasa tidak punya jalan keluar atas masalah yang dihadapi, putus pengharapan karena sering gagal dalam usaha, tidak percaya ada kesembuhan untuk penyakitnya, ragu-ragu apakah akan ada pemulihan dalam keluarganya, tidak bisa tersenyum memandang masa depannya, hidup penuh dengan rasa dendam, hidup dalam kekuatiran dan ketakutan dan masih banyak lagi. Bagaimana dengan keberadaan kita di tengah-tengah mereka? Sebagai “garam dunia”, seharusnya kita sangat bisa “memberikan rasa”. Dalam arti: membuat mereka bisa menikmati “lezatnya” kehidupan ini, seperti kita menikmatinya di dalam Tuhan. Keberadaan kita bisa membuat hidup mereka akan terasa lebih menyenangkan. Caranya: lakukan saja hal paling sederhana, yaitu tersenyum kepada mereka, misalnya. Atau memberikan pujian atas hal kecil yang mereka lakukan untuk kita. Atau menyediakan waktu untuk mendengar apa yang ingin mereka sampaikan. Atau lain cara, misalnya membantu mereka dalam hal dana, mendatangi rumah mereka lalu berdoa bersama mereka, dll, dll.

Kita juga bisa membagikan semangat hidup (bisa dalam bentuk kalimat positif/Firman Tuhan) lewat  SMS atau telepon atau media lain. Atau bisa juga bekerja secara “excellent” di kantor dimana etos kerjanya buruk. Tetap punya integritas dan kejujuran sekalipun berada di tengah-tengah rekan kerja yang korup/curang. Berikanlah ‘rasa’ itu, sampai orang lain juga bisa menikmati keindahan dan kebaikan hidup bersama atau di dalam Tuhan, seperti kita.

Salah seorang tim INSIDE baru saja pindah kerja sekitar 1 bulan. Tanpa sengaja dia mendengar bahwa salah satu rekan kerjanya, sebut saja B, akan berulang tahun esok hari. Maka, keesokan harinya, dia mendatangi si rekan kerja dan mengucapkan selamat ulang tahun dan “cipika–cipiki”. B agak kaget dan bertanya darimana dia tahu hari ulang tahunnya, padahal kan karyawan baru. Dan si B pun berkata dengan mata berkaca-kaca: “Saya jadi terharu…” Ternyata pagi itu, dia sudah memberikan “rasa lezat” kepada si B.

Sederhana, tapi sangat besar dampaknya. Marilah kita mulai memberikan “garam” sesuai karunia rohani dan kepribadian kita, tanpa dibuat-buat. Tulus.

#2. Memberikan Pengaruh (Influence/Impact)

Fungsi garam lainnya adalah mempengaruhi. (Bisa mengawetkan, membersihkan, menghilangkan, dll, intinya memberikan pengaruh).

Kehidupan dibentuk dari salah satu proses yang namanya proses mempengaruhi dan dipengaruhi. Begitu banyak fans/penggemar yang gaya hidupnya dipengaruhi oleh yang dia idolakan. Mulai dari gaya bicara, berpakaian, gaya hidup, gaya kepemimpinan, pola pikir, dlsb. Dan kalau jaman dulu, pengaruh seseorang mungkin hanya sebatas di lingkungan tertentu (dulu di TV hanya ada beberapa channel, alat komunikasi terbatas, alat transportasi terbatas, dll); tetapi dengan kemajuan jaman dan teknologi, melalui media elektronik yang semakin berkembang, maka proses mempengaruhi dan dipengaruhi ini dalam sekejap saja bisa langsung MENDUNIA (menembus batasan waktu, tempat, dll).

Sekarang ini, dunia bukan hanya selebar daun kelor, tapi selebar jari-jari tangan kita! Cukup dengan mengetik huruf-huruf di keyboard komputer atau di qwerty board pada smartphone, maka kita sudah terhubung dengan belahan dunia manapun. Itu sebabnya Tuhan menyamakan kita sebagai Garam Dunia, bukan Garam Kota, Garam Indonesia, ataupun Garam Asia.

Dan inilah waktunya kita sebagai anak-anak Tuhan, menggarami dunia ini (arti: mempengaruhi dunia ini) dengan seluruh keberadaan/kehidupan kita.  Yuk kita ikut ambil bagian di dalamnya!

Bermacam hal bisa kita lakukan untuk memberikan pengaruh: salah satunya adalah dengan bagaimana kita memperlakukan orang lain, melalui perkataan yang kita keluarkan, gaya hidup, gaya berpakaian, gaya kepemimpinan, gaya berbinis, gaya bekerja, dan masih banyak lagi. Intinya semua yang kita lakukan, dan apa yang kita katakan, SANGAT bisa mempengaruhi orang lain. 

Oleh karena itu, ini yang perlu kita catat: berhati-hatilah dengan update status/tweet, upload gambar/foto/video, komen-komen yang kita tulis di jejaring sosial, karena sangat mungkin untuk memberikan efek atau dampak luar biasa (negatif maupun positif) kepada orang lain.

“Influence” apa yang selama ini kita bagikan atau sebarkan?   Pastikan influence yang positif, membangun, menguatkan dan memberkati orang lain.

Yuk! Garami dunia tempat kita tinggal ini. Berikan dan sebarkan “rasa” dan “pengaruh” dengan segala hal baik, yang membangun, menguatkan, dan memberkati. Supaya orang lain melihat, merasakan dan menikmati betapa baik dan mulianya Tuhan itu. Let us be the salt of the world and this generation! (Lovina Linawati Santoso-INSIDE)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: