SEASON OF LIFE

Inside Des12Sekitar pertengahan 2009, dibentuklah sebuah tim yang terdiri dari beberapa orang untuk bisa berkarya bersama dalam sebuah buletin berukuran 16 x 17 cm. Bukan INSIDE namanya waktu itu. Kami terbentur masalah dana, karena memang kami memilih untuk terlepas dari “denominasi” manapun. Lalu kami sepakat untuk memberikan “taburan iman” setiap bulan demi membiayai pengeluaran yang dibutuhkan. Ajaibnya, beberapa hari sebelum naik cetak, seorang kerabat dari tim kami memberikan informasi sebuah nama percetakan dengan harga yang sangat terjangkau. Pada akhirnya, edisi pertama buletin ini berhasil terbit dan dibagikan secara gratis! Puji Tuhan! Tapi sayang, karena keterbatasan SDM (dari tim yang ada, tidak bisa berkomitmen sesuai yang dibicarakan pada rapat awal pembentukan buletin) dan (lagi-lagi) dana, buletin ini (nyaris) berhenti.  

Editor pun mengambil langkah perubahan. Secara ajaib, Tuhan mengirimkan SDM baru. Setelah “brainstorming” dengan 3 orang baru, yang ternyata meresponi dengan positif supaya buletin tetap dilanjutkan, maka tim baru mulai terbentuk. Dan dengan tim ini, segala sesuatu yang berhubungan dengan buletin pun berubah. Terutama soal “visi” buletin. Apakah itu? Ini…
 
Visi & MISI INSIDE

Di dunia ini tidak ada yang tidak berubah. Sampai ada kalimat bijak berbunyi: tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Tapi merubah sesuatu menjadi lebih baik, tentu saja tidak gampang. Tidak usah jauh-jauh. Ukur saja dari diri sendiri. Apakah sulit merubah “aku”? Jawabannya tergantung masing-masing: apakah aku mau berubah atau tidak. Pada kenyataannya adalah, perhatikan ini, setiap manusia sangat bisa untuk berubah jadi baik. Bahkan tidak ada yang tidak mungkin ketika manusia itu mau untuk berubah! Bahkan ada juga kalimat bijak berkata, “Seperti musim, manusia pun punya kemampuan untuk berubah”.

Ketika perubahan itu dirasakan perlu oleh masing-masing manusia, betapa indahnya dunia ini! Bayangan tetangga pemarah yang ternyata berubah jadi peramah, tentu saja sangat menyenangkan. Bayangan seorang ayah yang pemabuk dan berubah menjadi penyayang keluarga, tentu hal luar biasa yang patut dan layak untuk dijadikan kenyataan. Dll.

Salah satu tanda bahwa seseorang sudah berubah menjadi lebih baik adalah, akan ada “buah” yang bisa dinikmati sekelilingnya. Orang lain akan merasakan perubahan itu. Orang lain akan merasakan betapa hidup seseorang sudah menjadi berkat bagi orang lain! 

Berangkat dari pemikiran akan hal-hal di atas, maka Buletin INSIDE lahir dengan visi dan misi jelas yaitu untuk perubahan, dengan moto “For every change comes from INSIDE”! Ya, perubahan ke arah kualitas hidup/pribadi yang lebih baik yang berasal dari dalam terlebih dahulu. Mengapa? Karena sifatnya akan permanen. Kalau hanya dari luar, bisa saja seseorang berubah, tapi ketika faktor dari luar itu mulai hilang/tidak ada lagi, maka perubahan pun akan berhenti. Dan kalau sudah begini, biasanya, seseorang justru kembali kepada kebiasaan buruk/lamanya. Nah, untuk sebuah perubahan yang permanen, dibutuhkan kerjasama antara si manusia/kita sendiri dengan Tuhan tentunya! Jadi akan ada bagian TUHAN yang hanya DIA sendiri yang sanggup dan tahu kapan waktunya perubahan itu terjadi, dan juga ada bagian manusia! Dengan demikian, untuk bagian manusia INSIDE menyediakan diri untuk menjadi alatNYA. Dalam arti, INSIDE menyediakan tulisan-tulisan, dimana lewat tulisan-tulisan ini, setiap pembaca bisa menyadari sendiri apa yang masih harus dia ubah. Kami rindu, artikel-artikel/rubrik-rubrik di Buletin INSIDE membuat setiap kita mengalami perubahan yang lebih baik dalam banyak hal, terutama pengenalan akan Tuhan, pengenalan akan karakter/sifat diri sendiri atau orang lain, bagaimana membangun hubungan, menjalani kehidupan, mengembangkan/mengelola talenta, dll. Intinya, perubahan ke arah kualitas pribadi dan kehidupan yang lebih baik!

Tanpa terasa, 3 tahun sudah berlalu sejak edisi pertama INSIDE terbit pada Desember 2009. Semua karena kasih karunia Tuhan. Tema setiap bulan, dana yang harus ditabur setiap bulan, percetakan, lay out/desain INSIDE, kerjasama tim dalam menyebarkan INSIDE di beberapa toko buku, gereja dan sekolah, dalam tulis menulis, setiap kontribusi tulisan dari para kontributor yang luar biasa, semua adalah karena TUHAN! 

Terima kasih untuk setiap teman-teman yang mau membawa pulang INSIDE dan membagi-bagikannya bagi teman-teman lain yang membutuhkan sehingga INSIDE selalu dibaca dan dimengerti sampai pada akhirnya setiap kita mengalami perubahan kualitas pribadi dan hidup yang lebih baik! Sampai setiap kita menjadi berkat dimanapun kita berada, mulai dari orang-orang terdekat, dan kemanapun kita pergi! Terima kasih juga INSIDE ucapkan untuk para kontributor atas dedikasinya yang luar biasa untuk memberikan tulisan terbaik kepada INSIDE! Tuhan Yesus memberkati! Dan di atas semuanya, INSIDE berterima kasih (tidak pernah ada kata yang cukup atau pas untuk ini) kepada TUHAN Yesus yang telah membuat semuanya menjadi mungkin!

Di edisi ulang tahun ketiga ini, tim INSIDE memilih judul “Season of Life”, atau Musim Kehidupan. Isinya adalah tulisan-tulisan pribadi dari para penulis tim INSIDE tentang musim-musim yang mereka lalui dalam perjalanan hidupnya bersama Tuhan selama 2012. Kami tidak saling janjian, jadi ini “murni” dari hati, apa yang dialami masing-masing. Kalau ada kesamaan, mungkin saja Tuhan sedang berbicara kepada teman-teman, untuk melakukan apa yang kami lakukan dalam kondisi yang kami alami. Apa saja cerita kami di 2012? Kami harap akan sangat memberkati.

Oh iya, selain edisi cetak, INSIDE juga bisa diakses melalui: www.buletininside.wordpress.com

Atau follow Twitter kami: @buletininside.

Atau add account FB kami: Buletin Inside (bergambar logo INSIDE).

Kami akan sangat senang menerima setiap masukan, umpan-balik, kontribusi tulisan, pertanyaan, dll, yang bisa teman-teman kirimkan ke: buletininside@gmail.comKami tunggu ya! Selamat membaca! Selamat Natal dan Tahun Baru! Selamat menikmati kehidupan yang lebih baik bersama Tuhan Yesus, kerabat dan teman-teman! (Urutan cerita berdasarkan huruf pertama dari masing-masing nama kami)

 

RE-VISITING THE VISION

Denny PranoloTahun 2012 buat saya bisa dikatakan sebagai tahun di mana saya re-visit the vision. Kembali kepada visi. Mulai dari awal tahun sampai menjelang akhir tahun ini, Tuhan selalu berbicara kepada saya mengenai visi.  Visi yang pernah saya terima bertahun-tahun sebelumnya dari Dia. Visi yang pelan-pelan terkubur dan terlupakan. Tapi sekarang visi itu kembali “digali”.

Saya ingat dulu Tuhan pernah memberi saya visi untuk menjadi penulis-Nya. Di luar kesenangan saya menulis, saya merasakan ada panggilan Tuhan secara khusus untuk menjadi penulis-Nya. Tapi sejak tahun 2010, ketika majalah di mana saya bekerja sebagai penulis tutup, visi itu pelan-pelan terkubur, karena tidak menemukan salurannya.

Memang sejak 2010 sampai sekarang saya masih tetap menulis artikel rohani di beberapa media. Tapi tidak banyak dan terasa kurang maksimal. Ditambah lagi sejak tahun 2010, saya bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan buku rohani. Dari segi job desk, pekerjaan editor dekat dengan penulis, tapi tetap saja beda. Sebagai editor kita tidak bisa menyalurkan ide ke dalam sebuah tulisan, tapi hanya boleh memeriksa dan merevisi tulisan yang ada. Karena itulah pelan-pelan visi sebagai penulis itu pun terkubur dalam kesibukan dan rutintas.

Tapi di awal 2012, visi itu kembali Tuhan ingatkan. Dimulai ketika saya dan seorang kawan hamba Tuhan sedang ke Singapore untuk menghadiri ibadah di gereja Ps. Peter Tan pada awal tahun ini. Dalam salah satu saat teduh pribadi di kamar hotel, Tuhan mengingatkan pada saya tentang visi yang pernah Dia tempatkan dalam hidup saya.

Dan sejak hari itu, entah bagaimana, ke manapun saya pergi, saya melihat ada tulisan, kutipan, atau perkataan yang mendorong saya untuk mengejar visi itu sekali lagi. Dan di tahun ini juga saya bisa “bertemu” banyak penulis Indonesia terkenal walaupun tidak muka dengan muka, tapi dengan membaca karya-karya mereka atau twitt-twitt mereka, visi itu kembali disegarkan.

Di tahun ini juga saya mulai mengikuti lagi lomba-lomba cerpen yang diadakan penerbit-penerbit umum dan puji Tuhan, saya memenangkan beberapa dari lomba-lomba itu. Tentu saja hal itu membuat saya semakin percaya diri bahwa saya memang ditakdirkan untuk menjadi seorang penulis.

Walaupun begitu untuk memulai menghidupi visi itu bukan hal yang mudah dan dibutuhkan pengorbanan.  Pengorbanan pertama yang saya lakukan adalah keluar dari komunitas di mana saya berada selama satu tahun terakhir. Kenapa sampai harus keluar? Karena saya merasa tidak ada kecocokan visi lagi dengan orang-orang di sana. Memang secara pribadi saya tidak ada masalah dengan orang-orang dalam komunitas itu, hanya saja ketidakcocokan visi itu mendorong saya untuk keluar. Untuk keluar dari komunitas itu tidak mudah, karena ada ikatan tersendiri dengan orang-orang yang ada di dalamnya, dan memutuskan ikatan itu cukup sulit. Tapi pada akhirnya saya keluar juga.

Pengorbanan kedua yang harus saya lakukan adalah pengorbanan waktu. Ada banyak ide, ada banyak tulisan setengah jadi, tapi ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.  Tentu saja dibutuhkan time management yang bagus agar semuanya bisa terealisasi. Pekerjaan beres, tulisan dan ide-ide pun tertuangkan dalam bentuk tulisan. Tapi untuk hal ini saya masih harus banyak belajar. Karena yang sering terjadi adalah kembali tertundanya menuangkan ide karena banyaknya sidejob J.

Perjalanan saya meraih visi ini baru saja dimulai, dan saya tidak tahu sampai kapan saya akan menggenapi visi ini. Tapi satu hal yang pasti, saya mau terus mengejarnya dan tidak membiarkan visi ini “mati” lagi.

Sebagai  penutup, kalau ada satu hal yang saya pelajari selama tahun ini maka hal itu adalah ini: kejarlah visi kita sekeras-kerasnya, walaupun itu berarti kita harus mengorbankan banyak hal, karena pada akhirnya apa yang akan kita dapatkan lebih daripada yang kita korbankan. (Denny Pranolo-kontributor tetap INSIDE)


SEMUA KARENA TUHAN

ErnaBerhadapan dengan manusia lain, dengan karakter yang luar biasa unik masing-masingnya, adalah hal yang menurut saya paling sulit. Saya ukur tidak jauh-jauh, dari rumah saja. Bersama orangtua, karena saya masih lajang, contohnya, tidaklah mudah. Walaupun sudah bertahun-tahun tinggal bersama, ada saja hal yang membuat saya marah, uring-uringan, sangat kesal, berkali-kali ingin berteriak, bahkan sudah pernah berteriak seperti orang gila, menangis, dan banyak tindakan emosional yang saya lakukan dalam menghadapi orangtua. Belum lagi menghadapi orang lain… Hhh… sometimes my life was just like a roller coaster. Eh, tapi bukan berarti tidak ada kebaikan Tuhan yang saya alami, lho! Saya hanya mencoba membuka sisi manusiawi lain dari hidup saya. Tentu saja semua berjalan semakin baik, dan ini semata-mata karena Tuhan.

Tapi ketika sampai di penghujung 2012, sahabat saya meminta untuk menulis dengan tema “Season of Life”? Bahkan mendengarnya saja saya tidak kepingin menulis apapun! Musim Kehidupan?
“Maksudnya apa ya?” tanya saya.
“Ya, tulislah apa yang kita alami di 2012,” katanya.

Jawaban yang menurut saya tidak memuaskan toh akhirnya membuat saya merenung… Beberapa teman sepertinya menghadapi hal-hal baik, saya justru sebaliknya di tahun 2012 ini. Putus pacar? Menyakitkan sekaligus menyedihkan. Beradaptasi di kantor baru, sendirian? Menakutkan dan membuat frustasi (kalau saya tidak berlebihan). Apa yang saya pikirkan akan semakin lebih baik? Ternyata sudah memburuk sejak akhir 2011. (Tahun 2010 akhir, kakak pertama saya dipanggil Tuhan dalam usia 44 tahun. Ini juga sebuah “pukulan” tersendiri buat saya pribadi. Diam-diam, saya juga ingin pernikahan saya kelak akan dihadiri oleh saudara-saudara kandung saya, komplit. Tapi toh tidak kesampaian). Semua rencana tiba-tiba saja berantakan. Apa yang dalam genggaman seolah hilang begitu saja.

Saya harus membuat begitu banyak penyesuaian setelah “pukulan demi pukulan” saya alami. Tidak punya pacar? Sepertinya simpel. Tapi tidak buat saya yang sedang mengalami “pergantian musim” (pindah kantor bekerja, harus tinggal di 2 rumah yang berjauhan, harus punya 2 perlengkapan mandi yang sama untuk ditaruh di 2 tempat tinggal, tidur lebih cepat untuk bisa bangun lebih awal. Dan masih banyak lagi penyesuaian yang tidak nyaman).

Tidak ada yang mengantarkan ke rumah kakak kalau hari Minggu. Sementara kantor baru lebih dekat dengan rumah kakak. Untuk ini, saya harus menyesuaikan diri dengan cara bangun 1 jam lebih awal setiap hari Senin, karena selain harus berangkat dari rumah orangtua, di hari yang sama Divisi dimana saya bekerja mengadakan “Morning Devotion”. Jadi saya tidak boleh terlambat sampai di kantor. Setiap Sabtu? Saya harus mencari kesibukan lain kalau tidak mau diam dan menjadi tidak produktif, karena sudah terbiasa punya “jadwal dating” yang tiba-tiba tidak ada lagi. Menangis. Berdoa. Memaksakan diri untuk terus punya pengharapan. Tetap memercayai Roma 8:28. Berjuang sendirian menghadapi perasaan-perasaan negatif yang tiba-tiba menyerang. Menyibukkan diri dengan tulis-menulis untuk dua buletin. Dan seterusnya… percayalah, it was not easy!

Tanpa sadar, waktu berlalu begitu cepat, dan ternyata saya berhasil melalui hari demi hari. Ya, tanpa sadar. Saya pikir saya sudah tidak kuat lagi menanggung my daily life. Jadilah saya berdoa, dan berpegang pada ayat Alkitab bahwa “kesusahan sehari, cukup untuk sehari”. Tanpa terasa, I’m stronger than I thought! Karena Tuhan, saya menjadi lebih kuat dari yang saya kira. Tuhan memberikan kekuatan, buat saya inilah jawaban doa.

Roma 828

Di awal 2012, Tuhan secara tepat mempertemukan kembali seorang sahabat yang sudah 8 tahun tidak bertemu karena pindah negara. Pada saat saya membutuhkan seorang teman yang punya banyak waktu untuk mendengarkan dan mengerti curahan isi hati, Tuhan “mengirimkan” dia, jauh-jauh dari negeri lain. Di akhir 2011, Tuhan juga secara tepat waktu mengirimkan seorang teman kantor yang entah mengapa saya anggap seperti adik sendiri. (Saya baru ingat, dulu saya kepingin punya adik perempuan, dan sepertinya saya mendapatkannya ketika bertemu dia). Sejak itu saya tidak perlu lagi kesulitan punya teman untuk makan siang bareng, yang ‘klik’ dalam membicarakan banyak hal yang ingin kami bicarakan. Kami juga punya kesamaan: sama-sama putus pacar. (hehe..) Suasana di kantor pada akhirnya membuat saya benar-benar nyaman, selewat 6 bulan sejak mulai bekerja.

Tuhan juga memberikan banyak cara untuk saya lakukan menghadapi kesedihan yang tiba-tiba muncul, rasa sendiri yang tiba-tiba menyerang, bingung harus mengisi waktu dengan apa, yaitu salah satunya dengan berdoa! Speak in tongue, menjadi pilihan satu-satunya ketika perasaan negatif mulai muncul. Saya mendapatkan kalimat ini: 3 things in facing our giant are pray, pray and pray. And it works for me!

Sampai tulisan ini saya buat, saya menyadari bahwa pola pikir saya ada yang berubah! Yaitu ternyata hal paling sulit untuk saya hadapi bukanlah orang lain melainkan DIRI SENDIRI!

Kesulitan yang saya hadapi selama beradaptasi di kantor baru, menjadi sebuah titik balik yang membuat saya tidak lagi takut menghadapi hal-hal baru. Saya mendapatkan teman-teman kantor yang sangat baik, tidak suka mengusik privacy orang lain, yang mendukung kemajuan kualitas hidup saya. Saya banyak belajar dari melihat keteguhan hati mereka dalam menjalani keputusan yang diambil. Mereka tidak cengeng ketika harus indekos dan tinggal jauh dari orangtua. Mereka bekerja dengan gembira sekalipun dalam tekanan. Tough! Ternyata memang diri sendiri ini yang bertanggung jawab atas hidup sendiri. Bukan teman kantor yang baru, bukan atasan baru, bukan orangtua, bukan pacar yang sudah jadi mantan. Bukan sahabat, teman dekat, teman jauh, dll.

Kesulitan yang saya hadapi dari keharusan tinggal di dua rumah juga membuat saya meninggalkan zona nyaman dan belajar bahwa hidup ini butuh perjuangan. Di rumah kakak, saya belajar menanak nasi (selama ini belum pernah!), belajar menggoreng, memasak nasi goreng atau sayur, dll. Belajar mandiri judulnya. Saya juga harus belajar membagi waktu seefisien mungkin, setelah menyeterika sepulang kantor, sesekali menyapu lantai kamar atau rumah, lalu buru-buru mandi untuk melanjutkan mencicil tulisan demi memenuhi deadline. Ini saya lakukan karena pukul 8 malam baterai biologis saya rasanya sudah redup. Mungkin akibat harus bangun pagi-pagi setiap hari. Di samping itu, saya harus memperhitungkan lebih teliti kapan harus naik cetak, kapan harus menyerahkan tulisan-tulisan buletin INSIDE untuk didesain. Karena desain harus dilakukan di rumah orangtua, sementara laptop tidak mungkin saya bawa pulang, sebab saya tidak punya kendaraan pribadi. Saya juga harus mengedit sejumlah tulisan untuk buletin yang lain. Ribet rasanya hidup ini. Saya harus “membayar” semua konsekuensi dari keputusan yang saya buat, yang awalnya “demi masa depan”. Harus rela turun naik bis, berganti angkot, menjalani jarak tempuh yang sangat jauh. Sendirian. Berat memang, tapi… di balik semua kesulitan dan tantangan itu, pada akhirnya saya bisa mengerti betapa baiknya Tuhan dalam hidup saya.

Ya, akhirnya saya mengerti. Saya mendapatkan apa yang tidak akan saya dapatkan ketika hidup nyaman-nyaman saja. Sekarang? Saya bisa memasak nasi. Saya belajar bagaimana menggoreng, menumis sayur, saya lebih rajin, lebih fleksibel. Saya juga melihat lebih jelas lagi bahwa orangtua saya adalah orangtua terbaik! Mereka begitu sabar menghadapi saya yang keras kepala, moody, dan tidak sabaran. Mereka mengajarkan saya kasih sayang yang “sepanjang jaman”/tidak lekang oleh waktu. Mereka mengajarkan saya nilai-nilai kehidupan yang mahal, yaitu kerendahhatian, kesederhanaan, selalu berdoa (ini membuat saya selalu ingat akan keberadaan Tuhan), tampil apa adanya, menjadi diri sendiri dan masih banyak lagi.

Akhir kata, ijinkan saya mengutip Roma 8:28 dan menuliskannya seperti ini: “Saya tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi saya yang mengasihi Dia, yaitu bagi saya yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah!” Amin! Tuhan Yesus baik!

Merry Christmas 2012 and Happy New Year 2013!  (Erna Liem-Editor INSIDE)

 

MY TRUST IN HIM ALONE

NitaSecara garis besar, 2012 adalah musim “I place my trust in Him alone”. Banyak hal menegangkan yang terjadi di tahun ini. Dalam pekerjaan salah satunya. 5 bulan pertama di tahun ini, perasaan saya campur aduk setiap hari. Ya, setiap hari! Sedih karena belum berhasil menyelesaikan pekerjaan, takut karena kalau tetap seperti itu, kemungkinan saya akan dipecat, tapi saya juga yakin kalo one day, I can make it! Yakin bahwa segala hal baik yang ditabur tidak akan sia-sia begitu saja, yakin bahwa segala usaha keras yang dilakukan pasti membuahkan hasil.

Juga dalam keluarga. Karena terlalu sibuk bekerja, tidak jarang hingga larut malam, menyebabkan saya pulang dalam keadaan lelah dan langsung tidur, lalu bangun pagi dan bekerja kembali. Hubungan saya dengan keluarga mulai renggang karena minimnyanya komunikasi. Sampai akhirnya hal terburuk pun terjadi, papa terkena stroke. Awalnya saya sangat takut. Saya jadi paranoid, takut kehilangan papa karena saya merasa saya belum cukup membahagiakannya. Saya juga mulai sering menyalahkan mama karena beranggapan bahwa mama tidak menjadi istri yang baik sampai papa harus sakit seperti ini. Tapi saya juga yakin kalo one day, papa pasti sembuh dan mama pasti berubah.

Pada awal saya menghadapi kesulitan-kesulitan di atas, saya benar-benar merasakan bahwa tidak ada jalan keluar. Dan saya mulai tertekan. Tapi kemudian saya ingat bahwa hal terbaik yang bisa saya lakukan untuk mengatasinya adalah dengan menangis dan berdoa pada Tuhan. Satu hal yang saya pegang adalah: asal Tuhan berjalan bersama saya, apapun pasti bisa saya lalui, bahkan yang terberat sekalipun. Dan benar, hari ini saya bisa katakan bahwa Tuhan membuat saya dapat, perlahan namun pasti, menyelesaikan pekerjaan saya.

Saya mendapatkan promosi dan akhirnya menemukan 3 orang rekan kerja yang sesuai. Demikian juga dengan kesehatan papa yang berangsur membaik. Papa juga mulai tampak lebih bahagia. Mama pun berubah menjadi jauh lebih perhatian.

Saya gak tahu apa yang akan terjadi beberapa waktu ke depan, tapi satu hal pasti yang ingin saya lakukan adalah tetap percaya hanya kepada Tuhan. Saya tahu itu gak semudah ucapan, tapi sangat amat layak dilakukan.

Merry Christmas and Happy New Year, INSIDErs! God bless! (Janianita Wilyani- Penulis INSIDE)

 

MY SEASON OF LIFE

LorenPerubahan dalam hidup seringkali menimbulkan ketakutan karena kebiasaan yang sudah lama terpaksa harus dihentikan. Bahkan kalau boleh dibilang diganti dengan yang baru. Masalahnya, yang namanya “serba baru” akan membuat kita harus beradaptasi lagi. Dan ini seringkali tidak nyaman/tidak mengenakkan. Kekhawatiran akibat perubahan seperti menyergap pikiran dan perasaan. Bagaimana kalau tidak betah? Atau tidak suka? Atau tidak tahan di tempat yang baru? Atau di lingkungan yang berbeda? Bagaimana dengan tantangan yang baru? Adakah cara terbaik untuk mengantisipasi kegagalan menyukai yang serba baru termasuk “kenikmatannya”? Intinya adalah pergi ke ‘dunia baru’ dengan segala tetek-bengek yang mengikutinya.

Pada tahun ini saya mengalami harus berada dalam sebuah perubahan. Memutuskan berhenti bekerja dari kantor lama adalah sebuah perubahan. Karena kantor yang kali ini akan saya masuki jelas-jelas berbeda dibanding kantor lama saya. Hmm… apa yang akan saya alami ke depan ya? Tentu saja semua hal baru. Yang pastinya membuat saya harus beradaptasi!

Terlepas dari semua itu ada satu pilihan yang bisa saya ambil yaitu tetap percaya kepadaNya. Bukankah sudah sering saya membaca bahwa sekali-kali DIA tidak akan meninggalkan saya? Sekali-sekali tidak! Tapi pertanyaannya: apakah setiap waktu saya ini bisa percaya kepadaNya? Gampang saja percaya kalau dalam kondisi baik. Jika dalam kondisi sebaliknya, akankah tetap percaya kepadaNya? Belum lagi jika setiap hari sepertinya kita ngga setuju sama jalan-jalanNya. Hmmm…bukankah lebih sulit untuk tetap percaya? 

Saya mendapatkan pelajaran begini, yaitu bahwa untuk tetap percaya itu, dibutuhkan beribu-ribu kali percaya dulu. (Baca: beribu-ribu tantangan dan masalah). Mengapa? Karena kalau satu kali peristiwa saya bisa percaya kepada Tuhan, tapi pada beberapa kali yang lain tidak percaya, mungkinkah saya akan TETAP percaya saat menghadapi masa-masa genting dalam hidup? I doubt it!

Oleh sebab itu, pilihannya cuma satu. Yaitu: jangan pernah sekalipun tidak percaya! Ini namanya kerja bareng dengan Tuhan. He does His job and we do ours. Let’s do it together!

Seperti yang saya ceritakan, tahun ini banyak sekali terjadi perubahan dalam hidup saya (dalam pekerjaan, pelayanan dan kehidupan pribadi). Keputusan yang diambil pun banyak untuk beberapa area kehidupan. Dan pilihan saya cuma satu yaitu tetap percaya apapun yang terjadi bahwa Tuhan selalu menyertai. Karena sekali dan dengan segenap hati saya putuskan untuk tidak pernah tidak percaya. Percaya saja!

Jadi kalau musim-musim itu berganti dalam kehidupan, saya bisa selalu siap karena tahu bahwa selalu ada Bapa yang menyertai. Logikanya adalah begini: tidak ada satupun yang menghalangi seorang anak untuk menjadi yang terbaik jika Bapa-nya sudah menyediakan yang terbaik untuknya. Percayakah saya (dan teman-teman) kalau Tuhan telah merancangkan yang terbaik untuk masa depan saya (dan hidup teman-teman)? 

Percayalah bahwa perubahan membuat kita bertumbuh dan berkembang. Mau tidak mau jadi tahu ada banyak potensi yang Tuhan taruh dalam hidup, karena kita harus survive dan itu butuh kerja keras. Dan kerja keras itu yang sudah lama berhenti kita lakukan. Mulai dari awal tidak masalah karena setiap hal toh selalu dimulai dari satu langkah pertama. Proses yang terjadi dari langkah pertama dan selanjutnya itulah yang membuat kita hidup karena kita bergerak maju. Jadi lebih baik jalan terus. Jangan berhenti atau berjalan mundur karena di belakang hanya ada masa lalu. Dan hanya di langkah ke depan kita akan menemukan masa depan.

Berjalanlah terus bersama Tuhan, Sang Pemberi hidup. Perhatikan baik-baik di tiap langkah, Tuhan tidak pernah berhenti memberkati dengan yang terbaru dan terbaik. Supaya kita tahu bahwa di masa depan selalu ada keajaibanNya. Mau bukti ? Berubahlah! Saya sudah dan masih terus berubah supaya yang terbaru dan terbaik itu saya peroleh dalam hidup. Yang terbaru dan terbaik tidak pernah ada di masa lalu. Percayalah!

Musim Semi

Dari tulisan Bo Sanchez (http://www.bosanchez.ph/), saya jadi tahu kalau ada musim-musim dalam kehidupan. Ada satu musim yang paling menarik untuk saya yaitu musim semi. Entah mengapa sepertinya tahun ini adalah Musim Semi bagi kehidupan pribadi saya. Musim dimana saya mulai bertumbuh dalam segala hal. Tahun ini banyak sekali perubahan yang terjadi dalam beberapa area kehidupan. Salah satunya adalah keputusan untuk tetap terlibat dalam tim INSIDE. Banyak mimpi dan visi yang pengen sekali diwujudkan. Intinya adalah jadi berkat bahkan sampai ke bangsa-bangsa.

Saya menyadari bahwa hidup adalah serangkain keputusan yang saya ambil. Baik atau buruk tergantung benar atau salah keputusan yang kita ambil. Ukurannya tetap bagi saya adalah Firman Tuhan. Berjalan di dalam kebenaranNya dan bergantung sepenuhnya kepada Dia, sang Pemberi hidup.

Pilihannya hanya satu yaitu percaya saja. Tidak ada cara lain untuk membuktikan janji-janjiNya selain kukuh kuat beriman kepadaNya dan melakukan bagian saya. Tuhan itu sungguh baik. IA tidak pernah meninggalkan dan melupakan. Bukan karena saya baik tapi karena Tuhan adalah kasih. 

Segala sesuatu adalah dari DIA, oleh DIA dan untuk DIA. Bagi DIA kemuliaan untuk selama-lamanya. Puji syukur buat Tuhan Yesusku, sumber dari segalanya. DIA, Allahku, Bapaku yang sangat baik. KasihNya kekal untuk selamanya. Sekali lagi dalam hidupku, DIA penolongku yang AJAIB. 

Selamat Natal dan Tahun Baru 2013 ya!!(Loren Sartika-Penulis INSIDE)


SEASON OF CONCEIVE! 

LinaMy time is in God’s hand  (Psalm 31:15)

Tulisan ini aku buat sebagai rangkuman musim kehidupanku selama 2012. Bagiku, tahun ini aku ada di MUSIM MENANTI. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, kulalui dengan sikap hati MENANTI YANG TERBAIK. Seperti seorang ibu yang sedang MENANTI anak yang dikandungnya untuk dilahirkan. Seperti seorang petani, yang sedang MENANTI tanamannya tumbuh dan memanennya. Itulah musimku, Season of Conceive! Musim mengandung! Sama seperti seorang Ibu yang sedang MENANTI anak yang dikandungnya untuk dilahirkan. Aku juga MENANTI YANG TERBAIK dari TUHAN untuk setiap janji-janji Tuhan, mimpi ataupun jawaban doa untuk terealiasi.

Sama seperti seorang Ibu yang belum bisa melihat “Anak” yang akan dilahirkan, tapi si ibu percaya bahwa di dalam rahimnya ada “Benih” yang sedang tumbuh dan yang akan dilahirkannya pada waktu yang ditentukan. Aku yang belum juga melihat secara kasat mata (mata jasmani) bahwa Janji-janji Tuhan/jawaban doa terjadi, tetapi di dalam hari-hari yang aku lalui aku PERCAYA (melihat dengan mata rohani) bahwa benih-benih yang sudah aku tabur itu pasti  aku tuai pada WAKTU YANG TERBAIK (in Due Season).

Dalam Musim Menanti, bukan berarti aku tidak melakukan apapun, berleha-leha, bersantai ria, tapi aku tetap MELAKUKAN YANG TERBAIK. Tetap bertanggung jawab atas segala hal yang Tuhan telah percayakan dalam kehidupanku. Berusaha bekerja yang terbaik, memperlengkapi/mempersiapkan diri dengan hal-hal yang baik. Berusaha menjalankan perintah Tuhan dll. 

Di dalam penantian ini, ada kalanya putus asa, keraguan ataupun big question marks (Kenapa aku kok belum…? Mungkin ndak ya aku meraih ….? Kapan aku akan …..? dll) sering membuatku down. Tetapi, Tuhan selalu memberi kekuatan/peneguhan (entah melalui Firman Tuhan, lagu pujian, dukungan/perkataan sahabat dan keluarga bahkan melalui kejadian-kejadian yang mengingatkanku bahwa Tuhan itu tetap Allah yang hidup, Allah yang menyertaiku, yang tidak pernah meninggalkan aku, yang mempunyai RANCANGAN TERBAIK buat hidupku, yang sanggup melakukan hal-hal diluar batas kemampuanku.

Suatu pagi (jam 06.30-an), tiba-tiba keponakanku datang ke rumah. Kejadian yang “tidak biasanya”.

“Tumben banget nich anak datang pagi-pagi ke rumah? Ngapain dia? Ada apa dia?” begitu pertanyaan yang muncul di pikiranku. Chit-chat sekelibat saja dengannya, lalu aku cepat-cepat berangkat kerja (supaya tidak terlambat ke kantor dan tidak kena macet perjalanan ke Bekasi).  Setelah sampai di parkiran kantor, begitu aku mau ambil laptop, aku baru sadar ternyata tidak kubawa! 

“Aduuuh gimana ini??? Tidak mungkin aku balik lagi ke rumah utk ambil laptop (bekasi–grogol-bekasi?!), tapi aku tidak bisa bekerja tanpa laptop dengan semua file yang tersimpan didalamnya.  Gimana yaaa? Tiba-tiba aku ingat, kan ada keponakanku di rumah!. Akhirnya aku memintanya membuka laptopku dan mengirimkan data-data yang aku butuhkan lewat email. Sungguh ajaiiiibbb!! Ternyata pagi itu keponakanku seperti diutus Tuhan untuk menjadi “malaikat penolong ”, karena Tuhan tahu aku akan ketinggalan laptop dan perlu seseorang utk meng-email datanya. Aku sungguh terharu dan kagum sama TUHAN! Urusan pekerjaan saja (data di laptop) Tuhan begitu mempedulikan & turut campur di dalamnya. Apalagi ini mengenai Masa Depanku!  DIA tahu apa yang kubutuhkan, DIA tahu apa yang kuperlukan, DIA tahu YANG TERBAIK buatku , dan DIA punya CARA TERBAIK untuk “merealisasi”-kannya sesuai WAKTUNYA YANG TERBAIK. Tuhan membuktikan bahwa God works behind the scene to make everything good to those who love Him. God is Awesome God! So Amazing!!

Walaupun masih musim “mengandung/menunggu”,   tapi satu hal yang aku sadari:  “I’m happy with my lifeYes! I’m happy with my life! Musim-musim yang berganti dalam kehidupanku (the tears or the cheers, the good and the bad) tidak ada yang aku sesali, semuanya menjadikanku seperti sekarang ini.  Untuk Musim selanjutnya,  I keep hoping the Best, keep expecting the Best because I believe my times in God’s hand, God has Wonderful and the Best plans for my life, plans to prosper me, not to harm me, to give me hope and good future. I keep sowing good seeds because in due season I will reap what I sow. Dan SATU lagiiii, Aku akan terus Berani Bermimpi, because With God all things are possible. Have A Wonderful & Cheerful Christmas Season! (Lovina Linawati Santoso-Penulis INSIDE)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: