Melangkah = Belajar Kenal Tuhan

Hmm… selama ini sulit buat saya (sesungguhnya) mengerti apa itu tujuan hidup. Karena sepertinya terlalu absurd dan jauuuuh tak terjangkau. Terlebih lagi ada begitu banyak hal yang tidak lagi gampang diprediksi. Dunia gonjang-ganjing makin gajebo alias gak jelas. Emosi dan perasaan saya juga makin gampang ikut gonjang-ganjing. Mungkin orang lain menyebutnya “kurang iman”. Tapi saya tidak setuju. Buat saya ini “manusiawi”. (Bela diri mungkin, Red).

Senin kemarin saya memutuskan untuk pergi ke sebuah bank dekat rumah mengurusi sesuatu. Sampai di sana,  CS-nya berkata, “Sebentar ya, duduk saja dulu. Komputer saya lagi ‘hang”. Hadeeeehhh! “Halangan apa lagi sih ini?!” kata saya, tapi dalam hati. Sejujurnya saya mulai bimbang, apakah rencana saya di bank ini sesuai kehendak Tuhan. Hmm… ruwet kan cara berpikir saya? Yup! Dan semakin ruwet, sampai saya bbm seorang sahabat untuk curhat colongan.

Tiba-tiba ketika sedang menumpahkan isi hati, kekesalan saya kepadanya, CS yang sama memanggil saya. Jangka waktu dari komputernya yang ‘hang’ sampai saya dipanggil kurang lebih 5 menit. Itu pun sudah terpotong dengan waktu saya ke kamar kecil. Tapi dengan begitu mudah saya “putus asa” dan mulai bertanya-tanya, “Apakah ini kehendak Tuhan?”, “Jangan-jangan gue salah langkah”, “Terlalu emosional?”

Padahal, ini urusan kecil. Percayalah. Tapi sampai jadi begitu besar. Small case became so huge for me in a sudden, that time. Memori saya juga terlempar kepada saat dimana saya begitu kecewa dan akhirnya harus menyerah karena sadar bahwa keputusan saya untuk kuliah lagi terlalu terburu-buru. Singkat cerita, urusan di bank itu selesai. Dalam waktu kurang dari 30 menit! Saya masih punya banyak waktu sebelum harus menambah uang parkir jadi dua ribu kali dua. Sisa waktu saya gunakan untuk melakukan urusan di ATM bank sebelah.

Tiba-tiba saja saya mengerti sesuatu…

Yaitu bahwa melangkah maju adalah jauh lebih baik ketimbang hanya berdiam dan do nothing. Kenapa? Sebab dengan melangkah, ada begitu banyak hal baru yang sangat berharga yang pasti akan saya dapatkan. Contoh: ketika saya dengan nekat walaupun masih begitu bimbang apakah harus kuliah lagi, tapi tetap melangkah maju, akhirnya saya mengerti dan sadar bahwa waktunya tidak tepat. (ketika harus berhadapan dengan “insiden” di hari tes masuk). Saya sadar bahwa saya terburu-buru. Lega dan damai rasanya. Aneh, padahal sebelumnya saya begitu gelisah.

Saya tidak akan pernah tahu kapan sesungguhnya waktu yang tepat untuk saya melangkah, atau menunda kuliah kalau saya tidak pergi dari rumah untuk mengikuti tes masuk hari itu. Sebaliknya, saya hanya akan tinggal diam dalam rasa gelisah dan akhirnya pasrah tanpa ada usaha apapun.

Untuk urusan bank, saya juga awalnya sangat ragu. Tapi pada akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari rumah dan do something instead of do nothing. Meskipun sempat “dihadang” dengan komputer yang ‘hang’. Pada akhirnya saya mengerti bahwa saya sudah mengambil keputusan yang tepat. Lagi-lagi ada rasa lega dan damai di hati.

Dan tahukah teman-teman bahwa dengan melangkah maju, kita akan belajar untuk bergantung atau menjadi dependable dengan Tuhan? Ya. Mengapa? Karena kalau kita diam saja, kita tidak pernah membutuhkan sebuah kuasa dan otoritas yang jauh di atas kita sehingga bisa mengendalikan apa yang tidak sanggup kita kendalikan. Semuanya aman terkendali kalau kita diam saja. Tapi kita tidak belajar apapun. Termasuk belajar untuk mengenal Tuhan lebih lagi. (EL-INSIDE, Jakarta)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: