AYO MELANGKAH!

Di edisi lalu, INSIDE membahas tentang Tujuan Hidup, yaitu membangun (diri sendiri dan orang lain), dan mengambil keputusan yang benar (untuk diri sendiri dan lalu untuk orang lain yang membutuhkan/bertanya apa keputusan yang sebaiknya mereka ambil). Nah, semua itu tidak akan terjadi/kita hidupi kalau kita tidak melakukan hal ini: MELANGKAH! Jadi di edisi ini, INSIDE mau mengajak semua teman-teman untuk AYO MELANGKAH! Yuk!!

Apa Sih Yang Dimaksud Dengan Melangkah?

Mungkin kita pernah membaca kalimat yang mengatakan bahwa di dalam sebuah kuburan, tersimpan potensi yang amat sangat besar! Kenapa? Karena banyak orang (mungkin termasuk diri kita, coba kita cek sama-sama) yang hanya “puas” untuk hidup dengan ide, gagasan, rencana, mimpi, angan-angan dan cita-citanya saja. Yang penting punya itu semua. Soal menjadikannya kenyataan? Tunggu dulu! Kita lalu mulai menimbang-nimbang untung-rugi, risiko, dll. Akhirnya? Berhenti sampai pada titik itu, sampai Tuhan memanggil kita kembali.

Melangkah yang dimaksud di sini adalah, MELAKUKAN SESUATU. Banyak orang yang begitu pasif hidupnya. Kalau ini kondisi diri kita, berteriaklah kepada diri sendiri: “Do something!” Ya. Lakukanlah sesuatu! Cukup dengan langkah sederhana dulu, istilahnya “baby step”.

Contoh: ingin naik jabatan di kantor, karena merasa mampu menjadi pimpinan yang baik. Mulailah dengan melakukan satu hal kecil: amati cara kerja atasan, bagaimana ritme kerjanya, bagaimana cara dia bergaul dengan atasan lain atau stafnya. Cari tahu mengapa dia bisa dipercaya sebagai atasan. Dengan ini, paling tidak kita akan tahu, apakah atasan kita orang yang memang pintar, pandai bergaul, tutur katanya halus, jujur, bisa dipercaya, atau sebaliknya. Ketika kita tahu banyak nilai positif/benar secara Alkitabiah dari atasan kita, lakukanlah hal yang sama bahkan lebih. Tapi, ketika kita tahu yang sebaliknya, tetaplah melakukan kebenaran Firman Tuhan dengan tekun dan setia. Ada bagian yang harus kita kerjakan, selebihnya ijinkan Tuhan memberikan keadilanNya kepada kita. Setidaknya, kita tidak hanya DIAM dan pasrah. Karena ketika kita sudah MELAKUKAN SESUATU, kita juga akan MENDAPATKAN SESUATU/hasil dari perbuatan kita!

Kemana Harus Melangkah?

Banyak orang melangkah dan mengalami kegagalan. Bahkan kesalahan sehingga kualitas hidupnya menjadi jauh lebih buruk dari sebelumnya, terikat rokok, minuman keras, narkoba, perjinahan, seks bebas, dll. Jika ini yang terjadi maka penyebabnya adalah kesalahan diri sendiri. Inilah saat untuk melangkah kepada kualitas hidup yang jauh lebih baik dari hari ke sehari.

Atau mungkin juga ada kegagalan yang tidak kita perhitungkan ketika kita melangkah. Contoh: usaha kita bangkrut karena ternyata lokasi usaha jauh dari pasar yang potensial, dll. Untuk kegagalan seperti ini, yang dilakukan adalah mengumpulkan informasi lebih banyak, menganalisa risiko lebih baik, dan tetap melangkah maju.

Yang jelas, kemanakah kita harus melangkah? Jawabannya adalah: kepada kualitas kehidupan yang jauh lebih baik dan benar, seturut Firman Tuhan.

Kapan Harus Melangkah?

Konteksnya ada dua: sehari-hari atau masa depan.

Setiap hari kita harus melakukan sesuatu. Jadi setiap hari kita memang harus MELANGKAH. Contoh: harus bangun jam 6 pagi, atau kita akan terlambat ke sekolah/kantor. “Bangun pagi” adalah satu hal yang harus kita lakukan. Itulah langkah yang harus kita ambil setiap hari. Ini dalam konteks sehari-hari. Dan seterusnya. Bagaimana jika pagi itu kita tetap tidur? Jika alasannya adalah “malas”, maka kita tidak akan mendapatkan apapun, tidak bertemu teman kantor, tidak produktif, tidak menghasilkan apapun, tidak menjadi berkat untuk orang lain. Hidup kita hari itu lewat begitu saja, tanpa arti.

Bagaimana dengan melangkah untuk masa depan? Kapan kita harus melangkah untuk masa depan? Yaitu ketika kondisi sekitar sedang mengalami perubahan, atau memang diri kita sendiri yang membutuhkan/menginginkan perubahan yang jauh lebih baik. Maka MELANGKAHLAH! Contoh: ketika seorang pria dan wanita memutuskan untuk menikah (melangkah untuk menikah), maka langkah selanjutnya adalah: si pria mulai mencari pekerjaan baru dengan posisi/gaji yang lebih besar untuk bisa membiayai acara pernikahan dan keluarga yang nantinya akan terbentuk. Si wanita mulai mencari pekerjaan baru yang lokasinya lebih dekat dengan rumah yang akan mereka tinggali setelah menikah nanti, karena harus mengurusi rumah tangga sepulang bekerja, dan beberapa langkah lain dalam rangka menyesuaikan diri dengan perubahan yang akan terjadi/dialami.

Caranya Bagaimana?

Kebanyakan dari kita memilih untuk tidak melangkah, karena beberapa faktor, dan yang terbesar adalah: KETAKUTAN. Takut gagal. Belum mencoba sudah berpikir: “Bagaimana kalau gagal?” Pasti memalukan. “Apa pandangan orang lain tentang aku?” Takut diremehkan. Padahal baru saja menceritakan ide yang sebelumnya kita anggap brilian, ternyata teman yang kita ceritai tidak sependapat dan bahkan meremehkan. Kita pun patah semangat.

Tapi ini wajar dan manusiawi. Setiap orang yang terlihat paling pemberani sekalipun, pasti pernah diserang rasa takut seperti ini. Bedanya adalah: si pemberani tetap melangkah maju/melakukan sesuatu sementara si penakut diam di tempat! Kok bisa sih? Baca poin berikut!

Satu: Rencana A, B, C, D, dst!

Perlu kita ketahui dua macam “senjata” yang harus kita punya untuk tetap berani melangkah. Pertama senjata “kematangan rencana”. Kedua, senjata “kesiapan mental”.

Ketika kita hendak melakukan sesuatu, siapkanlah rencana lain. Ini senjata pertama. Manfaatnya adalah untuk persiapan ketika rencana pertama yang akan kita lakukan ternyata gagal. Kenapa harus siap dengan rencana lain? Karena ini akan melatih kita mengatasi rasa takut gagal, yaitu kita langsung menjalankan rencana berikutnya ketika gagal. Paling tidak kita sudah mempersiapkan “kegagalan”, sekaligus mempersiapkan bagaimana mengatasi kegagalan.

Contoh: Si A berencana melanjutkan studi. Tapi entah kenapa, dia merasa ragu. Ada begitu banyak ketakutan yang menjadi penyebabnya. Antara lain: “bagaimana kalau aku tidak lulus tesis?”, “bagaimana kalau aku menikah dan harus berhenti kuliah?”, “bagaimana kalau ternyata aku harus pindah pekerjaan yang kemungkinan besar justru menyita waktu keseharianku sehingga sulit untuk konsentrasi kuliah?”, dll. Pada akhirnya, A memberanikan diri tetap mendaftar untuk ikut tes masuk. Pada hari-H, sesuatu terjadi. Waktu tes yang seharusnya dijadwalkan pagi, ternyata berubah menjadi siang hari. Rupanya A tidak bisa, padahal itu satu-satunya kesempatan yang dia punya. Akhirnya, A memutuskan dengan yakin untuk menunda kuliahnya. Sebelumnya, kalau sampai A diterima dalam tes masuk, dia sudah punya rencana-rencana lain (plan B, C, D, dll): memilih untuk tidak mengikuti sidang tesis, tapi hanya mengikuti ujian, karena jauh lebih mudah untuk lulus tanpa melalui sidang tesis. Ini memang pilihan yang disediakan bagi para mahasiswa. Dan rencana-rencana lain. Kalau dia tidak diterima, A juga punya rencana lain: tetap bekerja, banyak memperkaya diri lewat artikel-artikel di internet, baca buku-buku, dll. Setidaknya A berencana untuk tetap mendapatkan ilmu, sekalipun belum sempat kuliah.

Jadi, untuk berani tetap melangkah, siapkanlah rencana-rencana kita selanjutnya! Ini juga berarti kita mengerti apa risikonya, dan siap menghadapinya. Bukan “sembarangan” atau “asal-asalan” melangkah.

Dua: “Suporter”

Ketika kita merayakan kesuksesan, kita akan merayakannya bersama sahabat dan keluarga yang kita kasihi. Begitu juga ketika kita “merayakan” kegagalan, rayakanlah bersama sahabat dan keluarga yang mengerti dan sejak awal tahu dan mendukung rencana kita!

Dan bilamana seorang dapat dikalahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan. (Pengkhotbah  4:12)

Bagaimana kita bisa punya kesiapan mental? Cara satu-satunya adalah dengan menceritakan rencana kita kepada sahabat atau keluarga yang sungguh-sungguh bisa kita percayai. Orang itu harus bijaksana, selama ini selalu memberi masukan positif kepada kita, bisa kita percayai untuk tidak menceritakan rencana pribadi kita kepada orang lain, selalu mengerti dan mendukung apa saja yang akan kita lakukan, tapi juga tidak segan untuk menegur ketika kita salah langkah. Pilihlah paling tidak satu atau dua orang dengan “kualitas” seperti di atas. Ceritai apa yang akan kita lakukan. Dengarkan apa nasihat mereka dan lakukan yang menurut kita perlu dilakukan.

Setelah itu, ketika kita sudah melakukan sesuatu, ceritakan juga kepada orang yang sama apa hasil yang kita peroleh. Entahkah itu gagal atau berhasil. Karena sahabat dan keluarga yang baik akan selalu berada di sisi kita, apapun kondisi kita. Selalu mendukung, bahkan membuat kita kembali bangkit dari kegagalan, sehingga kita tetap berani melangkah! (Erna Liem-INSIDE)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: