Ortu Sama, Anak Beda2?

Dari ortu yg sama+cara didik sama tapi anak2 berbeda hasil, ada yg bs spt yg ortu ajarkan dan sering jg malah terkesan tdk dididik ortu… Mengapa bisa demikian? (EL-Jakarta)

JAWABAN:

Setiap manusia, demikian juga dengan anak-anak adalah unik. Anak sanguinis (kuning), Koleris (merah) Pleqmatik (hijau) atau Melankolik (ungu) ataupun kombinasi 2 karakter yang dominan lainnya, akan membutuhkan cara yang berbeda-beda.  Karena itu tugas orang tua, guru atau pendidik dan pelayanan anak, adalah mengenal secara khusus keunikan setiap anak. Sama-sama menghukum, maka cara, jenis dan metodenya harus berbeda. Tiap temperamen akan bereaksi berbeda, apabila dengan cara mendidik yang sama. Jika dimarahi, anak Kolerik akan membantah atau melawan, si Sanguin minta maaf (walau dengan segera akan mengulangi lagi) dan Melankolik menangis dengan menyalahkan diri sendiri, sementara si Plegmatik akan cuek saja. Adalah kesalahan jika mendidik dengan cara yang sama.  Setiap anak harus dididik dengan cara yang berbeda. Jika dididik dengan cara yang sama, maka 100% pasti hasilnya adalah berbeda, karena setiap individu beraksi dengan cara yang berlainan.

Ketika anak menangis, marah atau merajuk, maka ada yang lebih senang dipeluk, yang satu senang dan segera pulih jika dirayu sementara anak yang lain lebih efektif jika ia dibiarkan saja dan akan reda dengan sendirinya.  Sementara anak lainnya ketika dibiarkan sendirian, semakin hanyut dalam kekecewaannya.

Prinsip mendidiknya sama, tetapi penerapannya membutuhkan hikmat yang berbeda. Prinsip   memberikan rewards untuk perhatian, apresiasi dan motivasi adalah benar, namun apa bentuk rewardsnya, disesuaikan dengan kesukaan tiap-tiap anak. Sama-sama memberikan motivasi, tapi dalam jenis, cara dan teknik yang berbeda.  Anak yang satu termotvasi jika dimotivasi dengan uang, lalu bisa belajar dengan rajin. Tapi jangan gunakan ‘ilmu’ atau trik sama untuk anak lain, jika mau anak yang lain rajin belajar. Contoh motivasi lain: diberikan tambahan waktu bermain game untuk setiap prestasi akademik yang dihasilkan, diberikan pujian. Sementara anak yang satu senang dipuji dan dipeluk, bisa saja anak yang lain merasa geli dan risih dengan pelukan dan memerlukan rewards yang berbeda pula.

Dibutuhkan komitmen orang tua untuk mau mengenal kepribadian setiap anak, mengenal setiap pribadi, tingkah laku, pola emosi, reaksi dan aksinya.  Tidaklah sulit untuk mengenal keunikan setiap anak, asal orang tua mau memberikan waktunya untuk berinteraksi dengan anak-anak. Tips lengkapnya bisa membeli buku saya yg berjudul ‘Mendidik Anak dengan Hati’ atau bergabung dengan FB saya ‘Inspirasi Mendidik Anak’ akan diupdate setiap hari. (Jarot Wijanarko)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: