Sogokan Atau Bukan?

Semisal kita sedang mendekati seseorang supaya dia mau jadi pelanggan kita dengan cara memberinya barang yang bagi kita itu bukanlah “sogokan” atau suap, tetapi ternyata dianggap sebagai sogokan oleh yang menerima. Apakah kita sudah menjadi batu sandungan?

Jika dia menganggap itu sebagai ‘sogokan’, kemungkinan pemberian anda berlebihan dari kewajaran.Adabaiknya anda membangun relasi secara bertahap, misalnya dengan makan bersama dan bukan memberikan barang. Jika memberikan barang maka bisa dimulai dengan ‘alasan’ tertentu, misal hadiah ulang tahun, hadiah natal, hadiah tahun baru dan sejenisnya. 

Pemberian, upeti, sebenarnya boleh-boleh saja, bahkan Firman Tuhan menulis; “Jangan datang ke raja-raja dengan tangan hampa”. Pemberian bukanlah suap, jika yang kita lakukan bukanlah melanggar hukum.   

Sebagai contoh kita mengurus IMB dan ketentuannya; luas bangunan maksimum 60%  lahan dan kita membangun 70% dari lahan, lalu kita memberikan dana supaya diijinkan, ini namanya suap, merubah yang tidak boleh menjadi boleh. Namun jika semua kita lakukan sesuai ketentuan, lalu setelah ijin keluar, kita memberikan berkat, ucapan terimakasih, entah barang atau uang, maka ini bukan suap, tetapi menggunakan uang untuk membangun hubungan baik, sehingga lain kali kita ada urusan dibuat cepat. 

Pelanggan akan dipuaskan jika dilayani dengan cepat, dengan baik, mendapat kualitas barang yang baik dengan harga yang wajar. Jika ia diberi barang dan kebaikan, tetapi harganya ‘diketok’, maka bisa saja ia merasa diperalat atau disuap. Tetapi jika pelanggan puas, maka pemberian akan diterimanya sebagai bonus atau perhatian. 

Nah pelanggan ini begitu unik dan spesifik, ada yang suka dengan pemberian hadiah dan bonus, ada yang perfeksioni dan tidak mau pemberian dimuka sebelum deal, lebih menyukai diberikan diskon (dalam kesatuan deal) dan mengutamakan kualitas, tepat waktu dan hal lainnya. Tugas seorang sales untuk mendeteksi tipe pelanggan dan apa yang disukai dan jangan memaksa melakukan program promo yang tidak tepat sasaran, malah tidak efektif, malah dibilang menyuap, nah khan repot. 

Pelangan tipe data, maka anda harus menjelaskan spesifikasi lengkap. Pelangan tipe referensi anda cukup memberi informasi siapa-siapa yang sudah memakai dan dia akan membeli. Jika dia tipe data dan anda berikan referensi, anda akan dianggap ‘berbicara yang tidak ada isinya’. Jika dia tipe referensi dan anda menjelaskan details spesifikasinya, anda dicap sebagai ‘orang yang rumit’. 

Karena itu salah satu cara terbaik untuk menjadi sales hebat yang sukses, anda harus belajar mengenal berbagai tipe manusia dan pendekatan masing-masing tipe. Anda bisa menggunakan salah satu teori diantara teori keunikan pelanggan. (Jarot Wijanarko/www.ifadahsyat.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: