NEW ME!

NEW ME: MEMBENTUK GAMBAR DIRI YANG SESUAI ALKITAB

Gambar diri yang sehat akan menentukan kesuksesan kita.

Kita mungkin pernah mendengar pernyataan di atas dan menyetujuinya. Pertanyaannya, sudahkan kita memiliki gambar diri yang sehat itu? Kalau belum, bagaimana cara kita memilikinya?

Gambar Diri, Apa Itu?

Menurut Robert Schuller, seorang pendeta Reformed di Amerika, gambar diri adalah “You are not what you think you are. You are not what other people think you are. You are what you think other people think you are.” (Kamu bukanlah apa yang kamu pikir tentang diri kamu. Kamu juga bukanlah apa yang orang lain pikir tentang diri kamu. Kamu adalah apa yang kamu pikir orang lain pikir tentang diri kamu).

Atau singkatnya gambar diri kita adalah gambaran yang kita bentuk dan kita percayai tentang diri kita. Gambar diri sangat dipengaruhi oleh pikiran kita. Apa yang kita pikirkan tentang diri kita dan yang kita percayai, itulah yang akan menjadi gambar diri kita. Dan gambar diri akan menentukan bagaimana kita hidup, bertindak, bahkan menentukan sukses tidaknya kita.

Bayangkan kalau kita melihat diri kita sebagai orang yang payah, apakah kita bisa sukses? Atau kita melihat diri kita sebagai orang yang selalu kalah, apakah kita bisa maju? Karena itu mempunyai gambar diri yang tepat adalah kunci keberhasilan kita dalam hidup.

Merenungkan Firman: Membentuk Gambar Diri Ala Alkitab

Merenungkan firman. Apa artinya? Bagaimana caranya? Itu yang banyak orang Kristen tidak tahu. Merenungkan firman mengharuskan kita membaca firman pelan-pelan dan memikirkan apa yang kita sedang kita baca.

Misalkan kita sedang membaca kisah Yesus berjalan di atas air. Kita semua pasti sudah hafal luar kepala kisahnya. Kalau kita mau merenungkan, bacalah kisah itu pelan-pelan dan coba bayangkan kejadiannya. Suasana waktu itu. Badai dan gelap. Yesus tiba-tiba berjalan di atas air. Dari mana murid-murid bisa melihat-Nya sedang suasana waktu itu gelap? Kenapa mereka bisa mendengar-Nya padahal waktu itu anginnya kencang dan ada badai? Bayangkan bagaimana reaksi murid-murid lain saat Petrus melangkah di atas air. Bayangkan ekspresi Petrus waktu melangkah di atas air. Bayangkan ekspresi Petrus waktu tenggelam dan ekspresi Yesus waktu menolongnya.

Itu contoh bagaimana kita merenungkan firman. Kita melibatkan pikiran kita saat membaca firman Allah, tidak sekadar membacanya sekilas tapi benar-benar memikirkannya. Membayangkan apa yang sedang kita baca.

Lalu apa hubungannya merenungkan firman dengan gambar diri yang sehat? Seperti yang sudah disinggung di atas. Gambar diri kita tergantung pada cara kita “melihat” diri kita. Dan kita “melihat” diri kita bukan dengan mata jasmani tapi dengan “mata” pikiran kita. Dengan kata lain, apa yang kita pikirkan tentang diri kita, itulah gambar diri kita.

Jadi kalau mau punya gambar diri yang sehat, yang harus diperbaiki adalah “mata” pikiran kita. Atau dengan kata lain, kalau kita mau punya gambar diri yang sehat, kita harus pastikan kita memikirkan hal-hal yang “sehat” pula.

Seperti apa yang dipikirkan orang, demikianlah ia (Amsal 23:7 KJV).

Pertanyaannya apakah hal-hal yang “sehat” itu? Adabanyak hal baik di dunia ini, tapi apakah ada yang lebih “sehat” daripada Firman Allah? Firman Allah penuh dengan hal-hal “sehat” yang kalau kita pikirkan bisa mengubah gambar diri kita menjadi sehat pula. Di dalamnya ada ribuan kebenaran yang bila direnungkan bisa mengubah diri kita jadi lebih baik!

Berbahagialah orang … yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam … apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mazmur 1:1-3).

Maukah kita mulai merenungkan Firman Tuhan? Maukah kita tidak sekadar membaca sekilas Firman Tuhan, tapi mulai memikirkannya, membayangkan apa yang kita baca? Karena itu adalah kunci dari memiliki gambar diri yang sehat.

Beberapa Petunjuk Praktis Tentang Merenungkan Firman

#1. Satu Ayat atau Satu Frase

Kadang kita tidak perlu merenungkan satu perikop, tapi cukup satu ayat saja. Misalkan, kita sedang membaca doa Paulus di Efesus 1. Lalu kita merasa tertarik dengan satu ayat saja, yaitu ayat 18, “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus.” Mulailah renungkan ayat itu. Apa yang dimaksud dengan mata hati? Apakah pengharapan dalam panggilan-Nya? Seperti apa kekayaan kemuliaan-Nya? Pikirkan ayat itu. Ulang-ulang terus ayat itu di pikiran kita.

Ingat tujuan kita adalah memikirkan firman, bukan mencari jawaban. Jadi tidak apa kalau kita tidak mendapat jawaban dari pertanyaan kita pada saat itu juga. Tapi setidaknya pikiran kita sudah memikirkan firman. Bukankah itu juga yang diperintahkan Alkitab?

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu (Filipi 4:8 ).

Atau kita bisa merenungkan satu frase saja. Misalkan di Efesus 1:18, kita mau merenungkan frase “mata hatimu terang.” Frase itulah yang terus kita ulang-ulang dalam pikiran kita.

#2. Tidak terbatas waktu

Daud mengatakan ia merenungkan Firman Tuhan siang dan malam. Jadi kapanpun, di manapun kita bisa menyuruh pikiran kita untuk memikirkan Firman Tuhan, minimal satu ayat atau satu frase atau satu kalimat.

#3. Sesuai Kebutuhan

Misalnya kita membutuhkan kekuatan. Maka kita bisa merenungkan ayat-ayat seperti Mazmur 27:1, Mazmur 23:4, Nehemia 8:11. Atau kita membutuhkan ketenangan dalam kekuatiran, kita bisa merenungkan ayat-ayat seperti Mazmur 23, 1 Petrus 5:7.

#4. Jadikan Personal

Misalnya kita merenungkan Efesus 3:18, “Dan supaya Ia menjadikan mata hatiku terang, agar aku mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi aku, orang kudus-Nya.” Dengan menjadikan ayat yang kita renungkan personal, kita akan makin merasakan dampaknya, karena sekarang ayat itu berbicara kepada kita secara langsung. Tidak usah khawatir mengubah Firman Tuhan, karena kita tidak mengubah isinya, tapi kata ganti orangnya. Inti ayatnya masih tetap samakan?

Dari mana kita tahu ayat-ayat yang kita butuhkan? Kita bisa searching di internet. Apalagi sekarang internet sudah mudah didapat. Kita bisa dapatkan dari selipan Alkitab yang banyak dijual di toko buku rohani. Atau dengan bertanya pada orang yang lebih dewasa rohaninya. Intinya, selalu ada jalan buat kita merenungkan firman. (Denny Pranolo-INSIDE)

Menurutmu, faktor-faktor yang bisa menyebabkan penurunan kualitas karakter anak Indonesia saat ini ialah…

Efrida Juliana Harianja 

Acara televisi contohnya sinetron.

Yoseph Untung Mujiono 

video game, social networking…

Snowina Amelia 

virus “gw ga keren klo ga ngerokok”, “gw ga gaul kalo ga ngeganja” dst

Patricia Noya 

media (mjlh, tv, atau media apapun) yang memberikan contoh gy hdp yg salah ada jg yg mmbntuk mental mnjdi pnakut atau psimis

Liya Sihombing 

Lingkungan keluarga, klu keluarga menanamkan dasar2 hdp yg sesuai FT sejak usia dini pasti anak mliki karakter yg benar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: