MASIH BISA BERSYUKUR?

Bagaimana sikap kita terhadap bad day? Saat kita sudah melakukan yang terbaik, tapi tetap saja ada hal-hal yang terjadi di luar kendali kita? Siapakah yang akan kita salahkan kalau sudah seperti itu? Kebanyakan dari kita mungkin menyalahkan si iblis atau diri kita sendiri kalau bad day. Tapi pernahkah kita berpikir kalau bad day yang kita alami itu datangnya dari Tuhan juga?

Ah masa? Bukannya Tuhan hanya memberi kita yang baik-baik saja? Coba baca dulu ayat-ayat di bawah ini dan pikirkan lagi, apakah tidak mungkin Tuhan memberi kita bad day?

Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang ini pun dijadikan Allah seperti juga hari mujur” (Pengkhotbah 7:14).

Akulah yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini” (Yesaya 45:7).

Bukankah dari mulut Yang Mahatinggi keluar apa yang buruk dan apa yang baik?”(Ratapan 3:38).

Adakah terjadi malapetaka di suatu kota, dan TUHAN tidak melakukannya?” (Amos 3:6).

Semua ayat-ayat tadi dengan jelas mengatakan kalau Tuhan-lah yang memberikan pada kita baik good day atau bad day. Tapi bukannya di ayat lain, disebutkan semua yang baik datangnya dari Tuhan?

Sobat, apapun yang terjadi dalam hari-hari kita adalah pemberian Tuhan. Tentu saja ada faktor lain yang berperan, seperti hukum tabur tuai. Kita menuai apa yang kita tabur sebelumnya. Dan juga ada faktor si iblis. Tapi intinya, semua yang terjadi dalam hidup kita, baik itu yang good atau bad, semuanya terjadi atas seizin Dia dan sepengetahuan Dia. Jadi seakan-akan Dia “memberikan” yang baik dan yang jahat pada kita.

Waktu kita bisa mengerti hal ini – bahwa good day dan bad day berasal dari Dia – kita bisa bersyukur dalam segala hal setiap waktu. Karena kita akan menyadari kalau semua yang terjadi dalam hidup kita – yang baik atau yang jahat – terjadi atas seizin Dia dan digunakan untuk rencana-Nya bagi hidup kita.

Kebanyakan dari kita biasa bersyukur kalau sesuatu yang buruk sudah lewat. Atau kita sudah bisa melihat ada apa di balik yang buruk itu.  Tapi saat kita mengalami hal yang buruk itu bisakah kita bersyukur?

Memang tidak ada kata terlambat untuk bersyukur. Tuhan tetap menerima ucapan syukur kita kapanpun kita mengucapkannya. Tapi bukankah lebih baik bersyukur saat kita dalam kondisi tidak enak? Karena saat kita melatih diri kita bersyukur dalam segala keadaan (terutama keadaan yang buruk), kita sedang mengubah cara pikir kita tentang Allah. Kita tidak lagi melihat Dia sebagai Allah yang “baik” yang tidak mungkin melakukan “kejahatan” bagi kita. Tapi kita sekarang melihat Dia sebagai Allah yang “baik” yang akan melakukan apa saja agar rencana-Nya dalam hidup kita bisa digenapi.

Ayub adalah contoh yang baik dalam hal ini. Allah mengizinkan hamba-Nya yang saleh untuk mengalami bad day – dan dia harus mengalaminya dalam waktu yang cukup lama lagi. Tapi apa tujuan-Nya membiarkan Ayub mengalami hal itu? Supaya lewat pengalaman itu, Ayub boleh mengenal Tuhan dengan cara yang benar.

Sobat Inside, kalau saat ini kita mengalami bad day, ingatlah bahwa hal itu pun terjadi atas seizin Tuhan, supaya Dia menggenapi satu bagian rencana-Nya dalam hidup kita. Kita mungkin tidak bisa melihat apa yang sedang Dia kerjakan, tapi kita bisa bersyukur buat apa yang sedang Dia kerjakan itu. Belajarlah mengucap syukur dengan iman – bersyukur sebelum bisa melihat hasilnya. Dan saat kita sudah melewati kesusahan itu, bersyukurlah lagi karena kita sekarang sudah bisa melihat apa yang sedang dikerjakannya lewat kesusahan itu. (denny pranolo-INSIDE)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: