GIVE THANKS

Sebuah lagu rohani punya lirik begini: “Apapun yang terjadi, di dalam hidupku, slalu ku berkata Tuhan Yesus baik. Dalam segala hal yang terjadi, tetap ku berkata Tuhan Yesus baik”. Hmm…Apakah kita sudah melakukan seperti yang di lagu itu?

Sebagai manusia, setiap kita pasti mengalami yang namanya kegembiraan dan kesusahan, peristiwa buruk dan baik, suka dan duka, dll. Tapi bedanya terletak pada RESPON kita dalam menghadapi itu semua. Apakah yang keluar dari mulut kita ucapan syukur atau sungut-sungut (keluh kesah)?

Bukan rahasia lagi sepertinya kalau dalam keadaan baik/senang maka kita dengan gampang mengucap syukur. Tapi waktu yang terjadi adalah sebaliknya? Contoh: kehilangan orang yang dikasihi, di-PHK tanpa pesangon (karena perusahaan tempat kita bekerja dinyatakan bangkrut, atau karena kita menderita sakit penyakit sehingga harus di-PHK, dll kondisi), menerima kenaikan gaji yang jauh lebih kecil dari harapan kita, turun jabatan di kantor tanpa alasan jelas, dll, apakah kita tetap bisa mengucap syukur dan berkata bahwa Tuhan itu baik?

Bangsa Israel yang dituntun keluar dari Mesir (dimana didalamnya mengalami perbudakan dan kemiskinan) ke Kanaan (yang adalah tanah perjanjian yang subur, penuh susu dan madu) selalu disertai Tiang Awan dan Tiang Api. Kebutuhan jasmani mereka Tuhan yang cukupi lewat turunnya Manna dari langit (Tuhan yang membuat itu terjadi). Tapi apa respon mereka? Bersungut-sungut dan mengeluh. Terus seperti itu. Tuhan menganggapnya sebagai kejahatan. Sehingga akhirnya perjalanan yang seharusnya hanya 40 hari menjadi begitu panjang sampai 40 tahun (berkali-kali lipat lamanya, ckckck)!!

Paulus dan Silas, juga mengalami hal yang sangat tidak nyaman. Mereka diperlakukan sangat tidak adil yaitu dipenjara tanpa kesalahan atau kejahatan yang dilakukan. Mereka justru melakukan hal yang baik yaitu memberitakan kabar Injil. Tapi… yang luar biasa adalah, sekalipun dalam kondisi terluka secara fisik dan mental, respon mereka justru mengucap syukur. Buktinya, mereka menaikkan Puji-Pujian kepada Allah ketika sedang dirantai dalam penjara.

Daud, mengalami hal tidak baik dan berada dalam tekanan. Ia pernah dihina istrinya (Mikhal) karena menari-nari dengan sekuat tenaga untuk Tuhan setelah memenangkan peperangan yang menurut Daud semua karena Tuhan, sehingga sepantasnyalah dia memuji-muji Tuhan seperti itu. Tapi istrinya justru memandang rendah apa yang dilakukan Daud. Selain itu, Daud juga dikejar-kejar ayah mertuanya (Saul) untuk dibunuh. Dikejar-kejar oleh anaknya sendiri, Absalom, untuk dibunuh juga. Dimusuhi oleh beberapa orang tanpa alasan. Respon Daud menghadapi semuanya adalah mengeluarkan mazmur kepada Tuhan (bisa kita baca dalam Kitab Mazmur). 

Mungkin kita mengalami hal yang sama, ditipu teman/keluarga dekat, dikhianati orang yang kita sayangi, dibenci tanpa sebab, menerima tekanan dalam pekerjaan; menghadapi persaingan kotor dalam bisnis; mengalami kesulitan finansial dan lain-lain, apakah RESPON kita? Ketika kita seperti mengalami “perpanjangan waktu” dalam menerima janji-janji Tuhan akhir-akhir ini, apa yang harus kita lakukan? Respon kita haruslah mengucap syukur. Karena dengan begitu kita sedang melakukan kehendak Tuhan!

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”.- I Tesalonika 5:18

MENGAPA HARUS MENGUCAP SYUKUR?

Di bawah ini alasannya:

#1. Sebab itulah kehendak Allah (1 Tes 5:18)

Ketika seseorang yang kita kasihi menginginkan sesuatu, apakah kita tega untuk menolaknya? Tentu tidaaaak! Dengan segenap hati akan kita turuti apa saja yang diinginkan orang itu. Ketika kita mencintai Tuhan, kita pasti menuruti apa yang DIA inginkan/kehendakNYA. Jadi, pada saat TUHAN menginginkan kita untuk mengucap syukur, apa yang harus kita lakukan? Mengucap syukurlah dalam segala hal (dalam susah maupun senang, ketika kehidupan sedang di atas maupun dalam lembah kekelaman).

#2. Sebab ucapan syukur itu memuliakan Tuhan (dalam terjemahan Inggris dituliskan “honor Me” atau menghormati Tuhan).

Jadi sesungguhnya, yang membuat nama Tuhan Yesus semakin dimuliakan bukanlah lewat cerita tentang keberhasilan kita, atau kesaksian tentang kemenangan-kemenangan kita setelah melewati masalah saja, tetapi ketika kita tetap mengucap syukur dalam keadaan yang paling tidak nyaman sekalipun. Di saat yang sama, kita sedang memuliakan/menghormati Tuhan.

Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya.– Mazmur 50:23

BAGAIMANA CARA KITA MELIHAT?

Ingat ini: RESPON kita dipengaruhi oleh Bagaimana Cara Pandang Kita. Contoh sebuah gelas diisi air setengahnya. Dua orang diminta menyatakan pendapat mereka. Yang satu menganggap gelas tersebut “setengah penuh” (sudah hampir penuh). Yang lain berkata, “setengah kosong” (hampir kosong).

Dua orang yang berbeda bisa memandang satu masalah yang sama secara OPTIMIS dan PESIMIS. Yang satu bisa berkata, “Masalah pasti bisa diatasi”. Yang lain berkata, “Tidak mungkin ada jalan keluarnya”. Atau seringkali kita merasa menjadi orang yang palingmalangsedunia. Padahal ketika kita mau melihat ke sekeliling, ada begitu banyak penderitaan dan masalah yang jauh lebih berat dialami oleh orang lain.

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. (I Korintus  10:13)

Melihatlah dengan iman! Caranya? Ingatkan diri kita untuk selalu percaya kepada Firman Tuhan yang kita baca setiap hari. Kelilingi diri kita dengan teman-teman seiman sekaligus punya semangat hidup dan optimisme tinggi akan masa depan karena percaya penuh kepada TUHAN Yesus.

Jadi, tunggu apa lagi? Marilah kita melakukan kehendak Tuhan yaitu mengucap syukur kepadaNYA, dalam segala hal! (Lovina Linawati Santoto-INSIDE)

Kalau kamu mengaku Kristen, apakah postinganmu (status/komen/foto) di jejaring sosial akan jaim (jaga image) atau apa adanya? Jelaskan mengapa ya… Share ya. 

Rubbi Wiseman 

Apa adanya aja. Tp emang ga pernah macem2 kog

Isak Muliana 

jujur, tapi bukan berarti segala sesuatu kudu di share. Adahal yang bisa dibagi, ada hall yang harus di keep.

Agnezha Desiree Nathalie 

Menulis postingan dengan hikmat, supaya kita tidak jadi orang benar yang dipersalahkan karena tidak punya hikmat.

Betari Ambarukmi 

Jaim, hahaha.. Soalnya yg bisa liat bukan cuma org yg benar2 tau diri kita, mulai dr teman dekat, teman yg hanya pernah kenal, sodara, orang tua, dosen, keluarga, dsb. Jd kalo posting sesuai ego kita, yg mungkin hanya sedang ababil, nggak semua org memandang dr sudut pandang yg sama dgn kita, so harus disaring dan dipikir dulu matang2 ntar itu postingan bakalan berdampak buruk or nggak.
Jangan jadi diri sendiri, tapi jadilah apa yg Tuhan mau bagi kita!!

Willy Muliasin 

apa adanya tanpa harus mempermalukan diri sendiri dan membuka aib orang lain, ya menulis dengan bijaklah yang penting tulisan kita mempermuliakan Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: