Apakah jodoh di tangan Tuhan, atau tangan kita?

Jodoh ditangan kita, ditangan anda. Tuhan tidak menentukan jodoh secara personal, secara pribadi bahwa si-A ditakdirkan akan menikah dengan si-B. Jika konsepnya demikian, maka nanti akan kebingungan dengan pertanyaan, jika si-A mati, si-B apa menjadi selibat atau menikah dengan siapa? Jika si-A cerai lalu menikah dengan si-C dan bahagia apa dulu salah bukan menikah dengan jodohnya? Jika si-A yakin bahwa si-D adalah jodohnya kemudian si-D meninggal atau putus dan menikah dengan orang lain, lalu si-A tidak mau menikah karena berpikir jodohnya sudah tidak ada atau diambil orang lain. Ini adalah pertanyaan dan sikap-sikap yang salah, sikap yang muncul karena konsep yang salah bahwa ‘jodoh di tangan Tuhan’. 

‘Jodoh di tangan Tuhan’ bisa dalam arti, jika kita berdoa meminta tanda-tanda dan Tuhan menjawab doa kita. Jika berdoa minta peneguhan dan Tuhan menjawab dengan peneguhan. Jika kita berdoa minta dan Tuhan memberikan. ‘Jodoh di tangan Tuhan’ bisa dalam arti, Tuhan mengijinkan peristiwa-peristiwa terjadi, mendatangkan kebaikan, mengijinkan orang-orang saling bertemu, bahkan kadang-kadang terasa ‘Tuhan yang mengatur semuanya’. 

‘Jodoh di tangan kita, ditangan anda’ dalam arti anda harus berusaha memperluas pergaulan. Jika sudah menemukan, anda harus melangkah mendekati, berani menyatakan isi hati (supaya dia tidak bingung anda mau jadi pacar atau jadi sahabat saja, dan akhirnya memberikan dirinya kepada orang lain yang berani menyatakan isi hatinya). 

Tuhan memberikan manusia kehendak bebas, sehingga bisa memilih diantara beberapa alternatif yang ada. Tuhan hanya menentukan kriteria dan syarat dalam perjodohan. Syarat mutlak yang Tuhan tentukan adalah seiman. Kriterianya sepadan, dalam arti sebanyak mungkin persamaannya, ada beberapa hal kecocokan yang kuat diantara perbedaan yang ada. Jangan mencari yang sama sampai mati tidak menemukan, karena Tuhan menciptakan setiap orang unik dan berbeda, supaya saling melengkapi. Namun demikian kita boleh yakin bahwa dia ‘jodoh dari Tuhan’ jika seiman, sepadan dan diteguhkan dengan dua hal. Pertama saling mencintai, saling tertarik, tidak bertepuk sebelah tangan, dan kedua direstui oleh kedua orang tua.

Dalam kasus khusus dimana salah satu orang tua tidak setuju, karena orang tua yang salah, maka bisa diwakilkan persetujuan gembala atau wali orang tua dari pihak keluarga misal paman atau kakek nenek. Orang tua yang salah dalam arti calon anda seiman, sepadan, saling mencintai, tetapi orang tua tidak setuju karena faktor suku, ekonomi dan alasan-alasan yang tidak seharusnya lainnya. (Jarot Wijanarko/www.ifadahsyat.com)

One response to this post.

  1. Posted by sunshine shan on August 27, 2013 at 3:05 am

    btl ka…..jodoh di tanagn tuhan…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: