TAHUN BARU, BUANG YANG LAMA

Di Naples, Italia ada tradisi tahun baru yang unik. Pendudukkotaitu pada tanggal 31 Desember jam 24.00 akan membuang barang-barang lama mereka dari jendela ke jalan. Mereka percaya dengan melakukan hal itu mereka sedang “membuang sial.”

Mungkin kita di Indonesia tidak punya tradisi seperti itu, tapi secara “spirit” kita punya “spirit” yang sama dengan orang-orang di Naples. Setiap kali tahun baru kita pasti selalu ingin membuang hal-hal lama yang kita punya dan memulai sesuatu yang baru.

Sesuatu yang lama yang ingin kita buang misalnya, kebiasaan buruk, dosa-dosa, dan semua hal lain yang kita anggap buruk. Tapi kenyataannya, lebih sering kita malah gagal membuang yang buruk-buruk itu. Bukannya kita tidak berusaha, kita sudah berusaha keras, segala cara sudah kita gunakan, tapi hasilnya tetap saja nol besar. Kenapa?

Salah satu sebabnya, karena kita salah membuang. Kita berusaha membuang kebiasaan buruk, tapi tidak membuang akar kebiasaan buruk itu. Tidak heran kalau setelah beberapa saat, kebiasaan buruk itu kembali lagi.

Ada seorang pria yang sudah sekian puluh tahun terjebak dalam masturbasi. Selama bertahun-tahun masturbasi telah menjadi kebiasaan rutinnya. Dan setiap awal tahun baru, dia selalu membuat solusi akan lepas dari kebiasaan buruk itu tapi selalu gagal. Suatu hari dia mendonorkan darah dan saat mengisi formulir donor, dia menemukan salah satu syarat jadi donor darah adalah bebas dari sifilis (tidak ada luka di kemaluan). Pada saat itu juga dia langsung teringat tentang luka di kemaluannya. Dia jadi takut kalau-kalau dia terkena sifilis. Ketakutannya diperparah karena dia akan segera menikah. Dalam ketakutannya dia berjanji kepada Tuhan kalau luka di kemaluannya itu bukan sifilis, dia akan berhenti dari kebiasaan buruknya bermasturbasi. Karena dia tidak ingin kehidupan pernikahannya hancur di awal. Singkat cerita, dia memeriksakan diri ke dokter kelamin dan terbukti itu bukan sifilis. Pria itu pun menepati janjinya.

Seringkali yang kita butuhkan dalam membuang kebiasaan lama bukan sekadar tekad akan berubah tapi juga ada motivasi yang cukup kuat yang membuat kita mau membuang kebiasaan lama itu. Pria yang saya ceritakan di atas mengakui selama bertahun-tahun dia berusaha membuang kebiasaan buruknya tanpa punya motivasi yang cukup kuat kenapa dia harus melakukannya. Dia berkata kalau dia ingin berhenti masturbasi hanya karena itu dilarang Alkitab. Tapi motivasi itu ternyata kurang kuat bagi dia.

Sobat INSIDE, seringkali kita pun sama seperti pria itu. Kita berusaha membuang suatu kebiasaan buruk, tapi kita tidak menyadari alasan kenapa kita harus melakukannya. Bahkan kadang alasannya konyol, seperti “Kata pendeta itu, orang Kristen harus….” atau “Sayakanorang Kristen, jadi saya harus…”

Sobat INSIDE, kita tidak akan bisa membuang kebiasaan buruk kita hanya dengan motivasi menyenangkan orang lain. Kalau itu yang kita lakukan cepat atau lambat kebiasaan itu akan kembali lagi. Tapi kalau kita punya satu hal yang benar-benar memotivasi kita secara pribadi untuk mengubah kebiasaan buruk itu, perubahan itu akan lebih bertahan lama. (denny pranolo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: