Mimpi Sejuta Dolar

Oleh karena kerusuhan berbau SARA yang terjadi di pertengahan 1998, orangtua Merry pada akhirnya membuat sebuah keputusan yang sulit. Mengapa sulit? Sebab mereka bukanlah keluarga yang hidup dalam materi berlimpah. Merry sangat mengerti kondisi keuangan keluarganya, sehingga keputusan yang sudah dirasa sulit oleh orangtuanya, juga dirasakan sebagai kesulitan sangat besar bagi Merry. Tapi toh, dia tetap harus menuruti apa kata orangtua, karena dia percaya ketika orangtuanya telah mengambil keputusan, itu pasti yang terbaik sehingga harus dilaksanakan dengan sebaik mungkin.

Terbang bersama teman-teman dalam pesawat untuk menuju Singapura bukanlah memori menyenangkan buat Merry. Dia tahu apa yang harus dia pertimbangkan baik-baik. Yaitu lulus tepat waktu, dengan nilai terbaik demi membahagiakan orangtua, dalam keterbatasan dana yang sangat luar biasa! Merry pun menangis di tengah-tengah teman-teman SMA-nya yang begitu bahagia karena akan belajar ke luar negeri diantar oleh orangtua masing-masing, sementara Merry sendirian.

Sesampainya disana, kekuatiran Merry semakin nyata! Uang yang tersisa dari pinjaman bank untuk biaya kuliah, buku, dan asrama, hanyalah S$10 untuk seminggu! Dan Merry pun harus mengisi perutnya setiap pagi dengan mi instan yang memang sengaja disiapkan oleh mamanya demi membantu Merry mempermudah metode penghematannya selama kuliah disana. Seorang teman yang hampir setiap pagi melihat Merry merebus mi instan pernah bertanya kepadanya: “makan mi instantkantidak sehat?”, dan dijawab oleh Merry “saya menyukainya”, dengan tersenyum. Padahal karena terpaksa. Untuk air minum? Merry mengambilnya dari keran di sekolah! Gratis dan memang bisa diminum, tetapi yang membuatnya menahan rasa malu adalah karena tidak ada satu pun dari teman-teman kuliahnya yang melakukan hal sama seperti dirinya. Itu beberapa cara Merry menyiasati “kesulitan” dalam hal makan dan minum. Ini dia lakukan supaya dia bisa membeli semua keperluan buku kuliah, karena Merry tidak bisa belajar tanpa buku, sekalipun bisa meminjam di perpustakaan sekolah.

Semua kesulitan ini membuat Merry bermimpi, dan dengan tekat kuat ingin mewujudkan mimpinya, apapun harga yang harus dia bayar. Apakah itu? Yaitu memiliki penghasilan satu juta dolar sebelum usia 30 tahun!

Tahun pertama kuliah berhasil dilewati dengan baik (walaupun di tengah kesukaran demi kesukaran). Di tahun kedua, Merry mulai bekerja, supaya punya penghasilan. Paling tidak untuk bisa membeli makanan yang lebih “layak”. Bekerja di toko bunga, menjadi pembagi brosur di pinggir jalan, merasakan panas, hujan, pulang tengah malam, fisik sangat lelah, menanggung rasa malu ketika brosur yang ia bagikan ditolak, dsb. Tapi semua pada akhirnya bisa Merry lalui.

Di tengah perjuangannya, Tuhan mempertemukan Merry dengan seorang teman kuliah yang juga dariIndonesia. Alva, namanya. Setelah lulus, mereka pun bertunangan dan berjuang bersama mewujudkan mimpi sejuta dolar itu. Selesai kuliah, mereka bertekat untuk tidak bekerja “kantoran”. Bagaimana caranya? Mereka bergabung dengan sebuah agen penjual produk keuangan dari berbagai bank dan perusahaan asuransi. Perhitungan pun dimulai oleh Alva. Dan atas dasar perhitungan ini, Merry harus bekerja 15 jam sehari, membagikan brosur, memberikan presentasi tentang produk yang dijual, dari pagi hari, sampai nyaris tengah malam! Ini dilakukannya demi mengejar targetnya sendiri. Ia telah berjanji kepada orangtuanya, bahwa jika sampai 3 bulan tidak berhasil mencapai targetnya sebagai agen produk keuangan, maka Merry akan mulai bekerja kantoran. Sesuai keinginan orangtuanya.

Beberapa hari sebelum batas waktu tiga bulan, ketika Merry mulai putus asa, mujizat Tuhan terjadi! Seorang wanita tua, yang bahkan oleh Merry dianggap bukanlah “target” yang tepat untuk mendapatkan brosur dan presentasinya, ternyata justru membawa Merry mencapai tujuan! Dalam usia 26 tahun, Merry akhirnya berhasil mencapai mimpinya: punya penghasilan 1 juta dolar!! Saat ini, Merry tinggal di Singapura dan hidup dalam kelimpahan secara materi, walaupun tetap dengan gayahidup bersahaja. Perjuangan, ketekunan, air mata, doanya dan doa orangtuanya, tidak sia-sia! (R-INSIDE Diringkas dari buku “Mimpi Sejuta Dolar”, penerbit Gramedia, penulis Alberthiene Endah)

(Untuk cerita selengkapnya, teman-teman bisa mendapatkan bukunya di toko-toko buku terdekat! Selamat membaca dan terinspirasi untuk melangkah di tahun yang baru!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: