RESOLUSI

Di edisi kali ini, rubrik Our Focus akan diisi tulisan-tulisan tentang Resolusi Tim INSIDE. Langsung aja kita simak satu-satu, mulai dari….

Denny Pranolo – Penulis Rubrik Spotlight

“RESOLUSIKU PANGGILANKU”

Waktu menerima tugas menulis tulisan edisi kali ini, saya sempat kaget juga. Permintaannya sebenarnya cukup sederhana, tuliskan apa resolusi saya. Tapi jujur saja, saya termasuk orang yang tidak suka membuat resolusi tahun baru. Ya, saya memang punya target yang harus dicapai di tahun baru, tapi saya tidak menganggapnya sebagai resolusi.

Akhirnya karena disuruh membuat tulisan edisi kali ini, saya jadi berpikir, apa ya resolusi saya tahun depan?Adabanyak hal yang ingin saya lakukan tahun depan berkaitan dengan karir, masa depan, dll. Dari sekian banyak keinginan itu mana yang harus dijadikan resolusi ya? Tapi saya berpikir lagi, biasanya orang membuat resolusi berdasarkan apa yang mereka mau, dan bukannya apa yang Tuhan mau.

Padahal sebagai orang Kristen yang katanya hidupnya berpusat pada Tuhan, kita harusnya lebih memikirkan apa yang Dia mau. Begitu yang ada di pikiran saya. Jadi dengan pikiran seperti itu, saya berpikir lagi, apa kehendak-Nya yang bisa saya jadikan resolusi tahun baru.

Panggilan = Kehendak Tuhan

Saya teringat satu hal yang Dia ajarkan dalam hidup saya di tahun ini. Calling. Panggilan. Tema itu sangat kuat berbicara dalam hidup saya akhir-akhir ini.Adabanyak hal tentang panggilan yang Dia ajarkan pada saya. Tentang panggilan pribadi saya, menyesuaikan mimpi dengan panggilan, menyesuaikangayahidup dengan panggilan, dll.

In my opinion, panggilan adalah kehendak Tuhan yang dinyatakan dalam hidup kita. Bukankah panggilan adalah keinginan hati-Nya bagi kita supaya kita menjadi seperti apa yang Dia inginkan? Dan Dia memberi tahu kita apa yang jadi keinginan-Nya bagi kita. Tapi kita bisa memilih untuk mengikuti keinginan-Nya itu atau menolak dan mengatakan “Aku tidak mau menjadi seperti yang Kau mau. Aku mau jadi seperti ku mau.” It’s our free will anyway.

Resolusiku

Selama bertahun-tahun Dia sudah menyatakan panggilan-Nya untuk saya lewat berbagai cara. Saya tahu Dia memanggil saya untuk jadi penulis. A writer of God. Penulisnya Tuhan. And that what I will be. Akhirnya setelah merenung-renung, saya memutuskan untuk membuat resolusi seperti ini: “Menyelesaikan dua naskah buku yang sempat tertunda.”

Kenapa saya pilih resolusi seperti itu? Simpel saja, karena resolusi itu sesuai dengan panggilan saya. Masak, saya buat resolusi “membuat cafe” padahal saya tahu panggilan saya menjadi penulis? Kenapa cuma menyelesaikan saja, kenapa tidak menerbitkan? Karena itu yang saya dapat dalam doa. Tuhan bilang, “Bagian kamu adalah menulis. Bagian-Ku adalah menerbitkan dan mendistribusikan.” Jadi ya, saya taat saja.

Menyerahkan Mimpi

Jujur saja, untuk bisa berkata “ya” pada panggilan ini, saya harus menyerahkan mimpi saya yang lain. Menjadi dosen. Entah sejak kapan, tapi saya punya impian bisa studi lanjut sampai S3 kalau bisa dan kemudian menjadi dosen di almamater saya. Tapi setelah melewati proses bertahun-tahun, saya sadar kalau saya bukan orang yang cocok menjadi pengajar.

Saya ngomong gini bukan asal ngomong loh. Saya pernah mencoba jadi guru 2 tahun di 2 sekolah yang berbeda. Dan kesimpulannya? Parah. Belum setengah tahun pelajaran, saya sudah bosan, dan mengajukan pengunduran diri (parah banget ya…). Akhirnya saya sadar kalau panggilan saya memang bukan menjadi pengajar, tapi penulis. Walaupun berat, tapi saya lepaskan juga mimpi jadi dosen itu dan fokus kepada dunia literatur.

Sekarang kalau ditanya apakah saya menikmati dunia literatur? Saya akan menjawab “Sangat.” Saya tidak pernah menyesal memilih karir sebagai WET (Writer, Editor, Translator) karena memang inilah panggilan-Nya bagi saya. Dan ketika kita hidup dalam panggilan-Nya, semesta akan mendukung kita.

Lovina Linawati Santoso – Penulis Our Focus

Resolusi Tahun Baru!

Arti dari Resolution adalah (dalam bahasa Inggris) a decision to do something or to behave in a certain manner.

Setiap malam pergantian tahun baru selain ditandai dengan acara makan-makan keluarga (menyantap menu tradisi: misua (semacam bihun tapi lembek, Red) ayam, telor, kuah),  ikut ibadah tutup tahun, menonton acara–acara TV, ataupun sibuk memberi dan membalas ucapan Selamat Tahun Baru, maka satu hal penting yang biasa aku lakukan adalah PERENUNGAN. Biasanya aku mengambil waktu untuk “sendiri dengan Tuhan”, mengucap syukur atas segala yang terjadi sepanjang tahun berlalu, mereview kejadian-kejadian dari buku catatan harian yang sering saya tempeli dengan gambar/email/ataupun tulisan-tulisan.

Perenungan untuk kejadian-kejadian yang memalukan atau merugikan (dikawal security sampai kantor karena tidak bisa bayar uang untuk isi bensin (catatan: dompetku ketinggalan!). Sering salah dalam melihat atau menulis tanggal/tempat sehingga membuat aku salah datang ke pesta ultah/pernikahan. Karena kondisi badan lelah dan kaca mobil gelap, maka saat mundur, tanpa sengaja menyenggol mobil orang.  Atau….retaaaaaak hatiku begitu tahu kalo cowok yang aku suka ternyata sudah ada yang punya! Maknyos! Dan masih banyak lainnya. Berharap kejadian seperti itu tidak terulang lagi di tahun-tahun mendatang dan membuat aku lebih berhati-hati supaya tidak mengalami kejadian yang sama.

Perenungan untuk kejadian–kejadian menyenangkan/mengharukan: dikirimi buku dari Philipina (Bo Sanchez): “Turn Thought Into Things!”, mendapat jam tangan “impian” dari kerabat, bertemu dengan penulis buku “Mimpi Sejuta Dolar” Merry Riana, birthday’s surprise dari teman gereja dan rekan kerja di kantor, dan banyak kejutan lain. Ini membuat aku memiliki harapan-harapan baru akan kejadian–kejadian baik dan menggembirakan di tahun 2012!

Perenungan untuk janji-janji Tuhan yang rhema sepanjang tahun ini: Canada(baca: Kan Ada)…. Kan Ada Mujizat, Kan Ada Promosi, Kan Ada Multiplikasi, Kan Ada Tuaian 1000 x ganda.  Nothing is impossible with God, Kuasa Tuhan tidak terbatas, Iman, Mujizat masih ada, Grace (kasih karunia) dll.

Perenungan akan janji- janji Tuhan ini, membuat aku tetap semangat, antusias, dan bergairah untuk memasuki Tahun Baru 2012. Percaya bahwa Tuhan memegang hari esokku dan memberikan masa depan penuh harapan, kemenangan gilang gemilang. Percaya bahwa  “grace upon grace” akan berlaku dalam kehidupanku. Percaya meskipun aku terbatas, tapi Tuhan memiliki kuasa tidak terbatas, yang dapat melakukan jauh melampaui apa yang aku pikirkan dan doakan. Percaya bahwa Mujizat Tuhan masih ada!

Hasil dari perenungan-perenungan itu, aku menuliskan resolusi-resolusi untuk tahun 2012. Aku tulis supaya bisa terus menjadi “acuan/tujuan/arah” yang hendak aku capai/lakukan, tindakan-tindakan yang aku harus rubah (kebiasaan tidur larut malam, jarang berolah raga, kesukaan makan kue/roti – walaupun tahu si tuan LDL menunjukkan angka tidak bersahabat alias di atas batas kewajaran, dll). Untuk resolusi tahun sebelumnya yang belum tercapai, akan aku tuliskan lagi (jika aku ingin itu tetap terjadi) sebagai resolusi baru.

Biasanya resolusiku tiap tahun bisa lebih dari enam buah, antara lain pribadi, keluarga, pekerjaan, finansial, hubungan, pelayanan, dan lain-lainnya. Berharap memiliki keberhasilan atau kebahagiaan di semua segi kehidupan.

Menuliskan resolusi menurutku adalah salah satu bentuk pernyataan bahwa kita masih memiliki harapan untuk kehidupan yang akan kita lalui di sepanjang tahun mendatang. Walaupun tidak tahu apa yang akan terjadi di hari-hari ke depan, tapi kita bisa berharap bahwa ada hari esok yang penuh dengan harapan!

Untuk tahun 2012 salah satu resolusiku adalah: menjadi orang yang berwawasan luas. Pernah satu waktu aku bertemu seseorang. Dia menanyakan beberapa bahkan banyak hal yang tidak aku tahu. Dia lalu berkata: “Hidupmu itu jangan di “kotak” in, tahunya itu-itu aja, banyak hal selalu mengalami perubahan, dan kamu harus tahu itu, walaupun tidak secara dalam, cuma harus tahu garis besarnya (kulit luarnya), supaya kalo diajak ngomong orang itu kamu mengerti!”

Dari situ saya berketetapan hati untuk memperluas wawasan (knowledge expansion). Saya akan membaca koran/berita (supaya tahu apa yang terjadi di negara lain/kotalain), membaca buku-buku yang “berbeda” dari buku yang biasa saya baca, mulai banyak mengajukan pertanyaan, bergaul dengan orang-orang baru, dan lain-lain. Beberapa resolusi yang lain tentu ada. Berharap di tahun 2012 akan ada Solusi–Solusi baru atas masalah yang terjadi dan mengalami perubahan di dalam kehidupan mendatang! Terakhir, selamat Hari Natal 2011 & Tahun Baru 2012! Semoga mengalami Solusi-solusi baru dan terbaik di tahun 2012! May all your days will be merry and bright!

Gunawan Winata – Kontributor Rubrik “Elder’s Advice”

RESOLUSI 2012

Memaknai arti kata resolusi, yaitu sebagai “sesuatu yang a-revolusi, sesuatu yang perubahannya dapat disimak, diperhatikan, dan dipantau.” Bukan sesuatu yang tiba-tiba, sebuah revolusi, yang konotasinya “sangat jahat, berdarah-darah, dan meninggalkan luka dan trauma yang berkepanjangan” sehingga membuat “stress, khawatir, was-was, dan seribu perasaan galau yang lainnya.”

Berangkat dari “pemahaman” yang demikian – artinya kita semua sudah setuju dengan pemaknaan diatas, sehingga “sudah sama, seia-sekata, dan sebiduk seperjalanan”, kami memulainya dengan mengambil akronim lawas, smart: specific, measurable, achieveable, realistic, and timely -untuk memasuki resolusi (pribadi) 2012.

Semestinya resolusi adalah, sesuatu yang harus unik, lain daripada yang lain, dan yang adalah God’s will. Kemudian haruslah dapat direncanakan tahapan-tahapannya, 2011 di titik ini, 2012 dititik itu dan seterusnya. Juga dapat dicapai, sehingga tidak membuat frustrasi dan “mengganggu kenyamanan orang-orang di sekeliling” – juga sesuatu yang down to earth, bukan “bermimpi lama-lama, dan yang jauh di angkasa raya”, dan terakhir, ada tenggat waktunya, untuk seandainya perlu, membuat resolusi yang baru.

In life, everything should start from the end: Mengambil kalimat bijak Stephen Covey, resolusi apapun dan kapanpun, seyogyanya dimulai dari ujung akhir perjalanan setiap manusia, termasuk kami dan para pembaca INSIDE. Perbandingannya adalah: Seorang Steve Jobs dan (Mantan PemimpinLibya) Moammar Khaddafy – keduanya sudah Almarhum – dari keduanya kita semua bisa mengambil pelajaran kehidupan yang sangat berharga, yaitu legacy (warisan) – apa yang akan kita capai (dan akan kita tinggalkan) di akhir perjalanan kehidupan (yang singkat) ini.

Berkaca kepada (ayat emas kami) Kolose 3:23, tentunya menginspirasi semua orang untuk juga melakukan semua “ujung akhir”, semata-mata hanya untuk Tuhan Yesus sendiri.

Be optimistic, but also realistic: Mengetahui dan mengenal dengan baik “SWOT Analysis diri sendiri”, adalah kunci kedua memasuki tahun 2012, yang dikatakan sebagai “tahun kiamat” – sekaligus “tahun pencurahan berkat Tuhan yang luar biasa, kepada anak-anakNya.” Sehingga wisdom-statement CEO Microsoft, Steven Anthony Ballmer, “Kita harus realistis saat di mana kita berada, tapi kita harus optimistis untuk mencapai di mana kita bisa berada.” – bisa memperkuat pencapaian resolusi kami pribadi, dan juga para pembaca INSIDE yang terkasih.

Starting right here, right now: Kebahagiaan dan kesuksesan paripurna, adalah akumulasi pencapaian yang kecil, serta sederhana, dan yang bergulung-gulung mencapai sesuatu yang besar dan (lebih) besar lagi. Sehingga, bagi kami, setiap hari yang baru, bahkan setiap jam yang berlalu, adalah pencapaian yang harus selalu disyukuri, karena kita selalu dimampukan, dan karena God is good all the time, and all the time God is good!

Last but not least, Steve Jobs, melalui perjalanan karir dan hidupnya yang tidak mudah, berkata, “You’ve got to find what you love.” (Dan ditambah ayat emas dari Roma 4:18a, akan meringankan langkah kita, bersama menapaki tahun yang baru). Bagaimana menurut Anda? Seperti kami? Ataukah ingin memperkaya? Please welcome, and Happy Resolution 2012! With prayer + warmest regards, Gunawan Winata (dsc-1@centrin.net.id)


Erna Liem – Editor

RESOLUSI YANG SERIUS?

Satu ketika saya pernah berbicara lewat telepon dengan Pak Gunawan Winata (salah satu kontributor INSIDE, Red). Dan saya terdiam lalu terbata-bata mencoba menjawab pertanyaan beliau. ”Apa resolusimu di tahun depan Erna?”

”Waduuuuh!!!” begitu saya menjerit dalam hati. Ingin rasanya menjawab: ”Saya nggak punya resolusi apapun Pak!” Tapi rupanya tidak segampang itu menjawabnya.

”Saya… saya… ehm… apa ya Pak… hehe… ” nada saya cengar-cengir, dan saya memang sedang cengengesan waktu itu. Untunglah hanya lewat telepon jadi tidak terlihat!

”Supaya lebih rendah hati kali ya Pak. Yaaa pokoknya jadi orang yang lebih baiklah!” jawab saya akhirnya. Itu percakapan tahun 2009.

Alhasil? Tahun 2010 berlalu dalam kondisi ”tidak memenuhi resolusi”. Karena memang resolusinya tidak jelas…

Ada begitu banyak hal menyedihkan di akhir tahun yang harus saya lewati. Kekecewaan, kemarahan, kelelahan mental, dll, saya alami. Ijinkan saya berbagi cerita.

Kakak tertua saya dipanggil Tuhan dalam usia sangat muda, 44 tahun. Saya ikut serta melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kondisinya memburuk hanya dalam beberapa hari, mulai waktu saya datang mengunjunginya di salah satu RS di Singapura dan dia memanggil nama saya dengan volume suara cukup kencang, tapi tidak jelas, seperti bergumam. Hari itu saya bisa menyodorkan sedotan untuk memberinya minum. Lalu hari yang sama saya menggenggam tangannya, kita saling bergenggaman dengan sangat erat setelah saya minta maaf atas sikap-sikap saya selama ini. Betapa waktu itu amat sangat berharga.

Saya diomeli entah berapa kali oleh kakak kedua saya. ”Kamu jangan nangis dong di depan dia!!” Saya hanya terdiam. Saya tahu tidak perlu menangis, karena itu membuat kakak pertama saya semakin ”down” melihat air mata yang tandanya ”tidak ada lagi pengharapan” buat dia untuk sembuh. Tapi tidak bisa…

Keesokan pagi, saya dengan bersemangat, mencoba menyalurkan semangat yang sudah saya susun sejak dari rumah, memberinya minum lewat sedotan. Tapi pagi itu buru-buru saya letakkan gelas dan sedotannya di atas meja, lalu menyingkir dari hadapannya. Mulutnya terbuka, bibirnya mencoba menjepit sedotan dan mulai menarik cairan dari dalam gelas. Tapi… ternyata sudah tidak ada kekuatan. Saya menangis di luar kamar, dipeluk oleh ayah. Kakak kedua saya buru-buru mengambil lagi gelas tapi meletakkan sedotan di atas meja, lalu mengambil sendok kecil sebagai gantinya. Kakak kedua saya memang cekatan dalam merawat pasien, karena dia lulusan dokter gigi. Saya sedang menangis ketika itu. Sesenggukan di luar kamar RS.

Seterusnya…. kondisinya memburuk. Saya menemaninya pulang ke rumah dengan ambulans. Saya melihat ekspresi tegangnya ketika ambulans salah jalan. Supir dan suster dari RS saling berteriak waktu berbicara mencari jalan yang benar. Cuaca sedang tidak bersahabat. Hujan turun cukup deras. Saya memegangi tangannya sambil membisikkan kalimat-kalimat memintanya tenang saja. Sesekali saya menyeka air mata dan berharap kakak saya tidak melihat. Bola matanya sudah tidak bisa digerakkan, dia hanya menatap nanar ke langit-langit ambulans dengan ekspresi tadi, tegang. Hati teriris-iris rasanya melihat dia dalam kondisi seperti itu.

Saya juga yang melihat dengan mata kepala sendiri ketika dua orang menyuntikkan Vitamin C ke dalam tubuhnya yang sebenarnya sudah sangat lemah. Saya tahu itu tindakan sia-sia karena terlambat. Saya melihat ekspresi ketakutan, kemarahan dan entah apalagi dari wajah kakak saya ketika suntikan demi suntikan cairan masuk ke tubuhnya lewat selang infus. Saya juga melihat sebelumnya beberapa kali dua orang tadi menusuk-nusukkan jarum infus mencari pembuluh darah di lengan kakak. Saya menangis melihat itu. Betapa teganya hanya demi uang S$1.000 mereka memperlakukan kakak saya seolah hanya obyek tidak penting. Terlebih karena kakak saya sudah tidak bisa berteriak menyampaikan komplen apapun. Dengan seenaknya saja mereka menusuk beberapa kali, tanpa perasaan.

Saya beberapa kali menangis di depan staf RS baik yang berbicara dengan suami kakak waktu di RS beberapa saat menjelang ambulans datang atau dengan staf RS yang diutus ke rumah untuk memberi beberapa petunjuk mengenai penggunaan oksigen. Selama di rumah tubuh kakak saya yang divonis dokter ”paling kuat mungkin hanya bisa bertahan dua hari” hanya menerima bantuan oksigen. Cairan NaCL justru memperparah kondisinya, sehingga tidak dibutuhkan lagi untuk dimasukkan ke tubuh kakak. Dan karena tidak bisa lagi menelan, maka dokter mengajarkan juga cara untuk membasahi bibir dan langit-langit mulut kakak saya.

Saya juga yang akhirnya kebingungan menelepon staf RS untuk mengabarkan bahwa kakak saya sudah menghembuskan nafas untuk terakhir kali waktu itu. Sesuai prosedur, pada saat kakak saya sampai di rumah, staf RS sudah memberikan nomor telepon penting untuk dihubungi jika kakak saya meninggal. Mereka sudah bisa memastikan bahwa benar-benar tidak ada harapan hidup buat kakak saya.

Saya melihat tubuhnya yang mulai kaku dan berubah warna jadi biru diangkat dari tempat tidurnya oleh petugas rumah duka untuk didandani dan kemudian dimasukkan ke peti lalu diletakkan di Garden of Rememberance, sebuah rumah duka yang ditata sangat asri dan apik, hanya tetap saja membuat bulu kuduk saya berdiri. Waktu itu saya dan keluarga sudah sampai di rumah duka tadi. Dan karena ingin buang air kecil, dengan entengnya saya pun keluar dari pintu belakang, karena lokasi toilet sangat dekat dari situ. Tiba-tiba saja saya dicekam kesunyian yang aneh. Benar-benar sepi. Menakutkan. Saya mencoba memandangi tatanan lokasi, semua baik-baik saja. Hijau, bersih, rapi. Tapi… saya takut. Lalu saya masuk kembali ke ruangan duka dan meminta seseorang untuk menemani buang air kecil. Aneh. Mungkin begitulah aroma kematian yang menyengat dan tidak bisa ditutupi oleh desain lansekap yang indah.

Saya yang akhirnya mendapat ”kehormatan” terakhir untuk memainkan lagu-lagu mengiringi ibadah penghiburan di rumah duka karena pemain musik dari gereja setempat tidak hadir. Mungkin karena gereja dimana kakak saya beribadah lebih memercayai kebangkitan ketimbang kematian, sehingga untuk ibadah penghiburan pun mereka tidak sesiap seperti di Indonesia.

Saya akhirnya harus pulang ke Jakarta sendirian tanpa menyaksikan acara kremasi kakak saya keesokan hari. Sebelum berangkat, saya dipeluk oleh ayah dan saya menangis lagi. Ayah, ibu dan kakak kedua saya sudah dijemput oleh seseorang untuk bersama pergi ke tempat kremasi. Menyedihkan membayangkan tubuh kakak saya harus dibakar. Seandainya saja dia tinggal di Indonesia, tentu saja tubuhnya bisa dikuburkan dengan layak.

Semua kejadian itu membuat saya down. Berulang kali saya menangis. Hidup serasa ’ngambang’. Dan sulit buat saya bisa mengerti bahwa Tuhan tetap baik….

Jika saya tidak diminta untuk menuliskan resolusi apa untuk tahun 2012, saya pun tidak akan ingat resolusi yang saya sebutkan asal-asalan tadi. Saya baru sadar sekarang bahwa, resolusi yang ”asal” akan mendapatkan hasil nyata yang juga ”asal”. Maka kali ini, saya akan dengan serius menyampaikan resolusi. Selain karena harus, untuk dimuat di edisi INSIDE kali ini, saya sadar betapa bergunanya sebuah resolusi, yang dicatat!

Tahun 2011 bergulir cukup lambat buat saya. Masih dirundung kesedihan yang amat sangat dalam. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang saya simpan dalam hati setelah kejadian-kejadian menyesakkan dada di akhir 2010. Beberapa kali saya mencoba menyampaikan isi hati kepada beberapa orang, tapi tidak ada tanggapan yang 100% mengerti. Jadilah saya hanya curhat kepada Tuhan dalam doa. Saya menangis, mengerang, sesenggukan dengan muka saya tutupi bantal supaya tidak ada seorang pun yang mendengar, dan berteriak kepada Tuhan. ”Kenapa Tuhan ijinkan ini terjadi dalam hidup saya?!!” ujar saya dalam emosi yang labil. Sampai akhirnya saya pun mengambil langkah yang cukup dramatis.

Saya menganggap kondisi nyaman itu berbahaya. Itu juga yang membuat saya tidak lagi bisa dekat dengan Tuhan. Saya ogah-ogahan berdoa. Malas. Toh keadaan baik-baik saja. Gaji yang cukup besar mengalir ke rekening saya, walaupun kalau mau dihitung untuk pengeluaran di tahun 2011, gaji itu sebenarnya tidak cukup. Tapi karena saya orang yang dibesarkan dalam teladan kesederhanaan oleh orangtua, dan masih single, maka saya merasa sangat berkelimpahan. Uang tidak pernah jadi masalah buat saya.

Tapi kok, rutinitas sehari-hari mulai membosankan. Teman-teman di kantor terlihat tidak menyenangkan. Pekerjaannya juga hanya itu-itu saja, tanpa ada sumbangsih berarti dari saya. Lalu saya merasa bersalah. Ada apa ini? Saya bingung, dan akhirnya dengan nekat saya mengundurkan diri dari kantor lama yang sudah saya jalani 10 tahun!

Tahun ini, tepatnya bulan Agustus 2011, entah apakah itu namanya, nekat atau iman, saya ”meloncat” ke kantor baru. Lingkungan baru, lingkup pekerjaan baru, atasan baru, rekan kerja baru, fasilitas, gaji, tunjangan, dan termasuk seragam baru! Ya! Di kantor ini saya harus memakai seragam! Terus terang saja, saya tidak punya resolusi di tahun 2011. Bisa melewati setiap hari dengan baik saja saya sudah bersyukur kepada Tuhan. Tiap pagi saya mulai mendisiplinkan diri untuk saat teduh, walau cuma sebentar, tapi itu saya lakukan rutin, baik Sabtu maupun Mingu. Baik dalam kondisi lelah dan ngantuk yang luar biasa, maupun setelah tidur pulas semalaman. Terdorong oleh masalah yang tiba-tiba saja seperti tertumpah bersamaan sehubungan dengan keputusan yang saya buat untuk pindah ke kantor baru.

Saya bukan orang yang mudah beradaptasi. Beberapa minggu awal bekerja saya dicekam kebingungan, ketidakjelasan mau mengerjakan apa, meja kantor bersih tanpa ada perangkat elektronik apapun, kursi duduknya tanpa roda, karena yang beroda masih belum tersedia. Sampai akhirnya satu demi satu bermunculan. Pesawat telepon, kursi beroda, komputer, monitor flat baru, jaringan internet, dan apa yang harus dikerjakan. Harapan saya begitu tinggi berada di tempat baru. Setidaknya saya masih menyimpan semangat untuk bekerja dengan produktif. Tapi kenyataan di lapangan jauh berbeda!

Untuk alasan di atas, termasuk pergumulan pribadi lain, saya mengambil sebuah ”resolusi”. Yaitu mendisiplinkan diri untuk saat teduh setiap jam 5. Sampai satu ketika Tuhan seperti menegur saya dengan lembut. ”Bagaimana jika semua masalahmu sudah selesai? Apakah engkau masih mau menemui Aku pada jam yang sama?” kira-kira begitu kalimat yang muncul di hati. Saya menangis.  Tentu saja seharusnya tidak, Tuhan. Walaupun memang itu ”motivasi” saya berdoa tiap pagi, yaitu supaya masalah-masalah saya selesai dalam tempo sesingkat-singkatnya. Termasuk supaya setiap hari di kantor yang baru setiap permasalahan yang membuat saya terkaget-kaget Tuhan sediakan solusinya di waktu itu juga! Saya ingin bersegera menerima kesempatan baru, memasuki pintu-pintu yang Tuhan bukakan, mengalami mimpi-mimpi yang Tuhan genapi, dan keinginan-keinginan lain untuk bisa segera saya penuhi. Tapi sepertinya….

Berulang kali saya didatangi rasa ”down”. Nyaris setiap hari Minggu ketika saya harus keluar dari rumah untuk tinggal di rumah kakak, saya sedihnya luar biasa. Saya jadi cengeng mendadak. Sejak bekerja di tempat baru, saya tidak bisa tidur di kamar sendiri mulai Minggu malam sampai Kamis malam. Kalau teman saya bilang ”Ngekos itu asik Na!”, buat saya kamar sendiri jauh lebih asik. Home sweet home.

Nah, sekarang dengan kondisi seperti yang saya ceritakan panjang lebar itu tadi, saya mau membuat resolusi yang serius untuk 2012!! Saya akan menghampiri Tuhan setiap pagi pukul 5. Bukan dengan alasan macam-macam, tapi supaya saya bisa punya hubungan dekat dengan Tuhan. Bukan dengan motivasi apapun, tapi setulus hati. Resolusi yang lain? Bersikap dewasa, tidak emosional, lebih sabar, berpikir dua kali sebelum berkata-kata satu kali. Lebih ke perbaikan karakter ya… dan saya berharap akan menerima konfirmasi dari orang-orang terdekat saya!!

Selamat memiliki dan mencatat resolusi untuk tahun depan!!

Loren Sartika – Penulis INSIDE

Kita Perlu Punya Resolusi

Akhir tahun ini tim INSIDE meminta tulisan tentang resolusi pribadi. Wow… saya ngga menyangka karena ternyata yang diminta bukan sekedar satu atau dua kalimat tapi sebuah artikel. Benar-benar di luar dugaan. Cukup mengejutkan karena sebelumnya tidak pernah ada permintaan seperti ini. Tapi yah apa mau dikata, suka atau tidak yang namanya perintah harus dijalankan. Agak bingung sih sebenarnya mau mulai dari mana karena saya tidak pernah memikirkan untuk menulis resolusi dalam sebuah artikel yang lumayan panjang (maksimal 600 kata loh!).

Well, for anything there is always the first time….right ? I think it would be worth to try. Resolusi itu sebenarnya perlu atau ngga sih? Hmmm….setelah dipikir-pikir lagi memang perlu yah kita punya resolusi. Ibarat sebuah perjalanankantidak akan pernah seru kalau tidak ada tempat yang dituju. Bener ngga ? Dan hidup ini sama seperti sebuah perjalanan.Adamaksud dari keberadaan manusia di bumi. Sama seperti Tuhan punya rencana untuk setiap kita maka kita pun perlu membuat rencana untuk mencapai impian atau harapan atau resolusi.

Kali ini saya ngga akan menuliskan resolusi seperti tahun-tahun sebelumnya yang isinya berupa keinginan–keinginan baru di tahun depan. Alih-alih nambah kerjaan lagi dengan resolusi baru maka tahun depan saya putuskan untuk mengembangkan apa yang sudah Tuhan percayakan di tahun ini.

Ikut terlibat dalam penulisan artikel untuk INSIDE sungguh kesempatan yang baik untuk menggali dan mengembangkan kemampuan menulis. Menyempatkan diri untuk selalu membaca buku-buku yang bagus dan memperhatikan cara penulisan cerita oleh tiap penulis yang berbeda akan memberikan saya kesempatan untuk berkembang dan memilihgayapenulisan yang ingin saya perbaiki. Dan impian untuk menerbitkan buku berisi tulisan-tulisan pribadi selama ini menjadi semakin besar dan kuat.

Keterlibatan dalam Inside semakin membuka kesadaran diri bahwa ada tujuan yang Tuhan sedang berikan untuk saya mempunyai impian yang lebih besar. Saya kepengen INSIDE bukan hanya bertahan sebagai bulletin tapi semakin tahun semakin besar dan melebar menjadi majalah yang memberi dampak besar untuk pertumbuhan pengetahuan dan karakter setiap orang yang membacanya. (Amin!!!, Red)

Apa yang sedang Tuhan percayakan untuk kita kelola saat ini adalah benih yang sedang kita tabur untuk terus kita pelihara dan kembangkan sehingga menghasilkan buah yang manis dan lebat untuk dapat dinikmati oleh banyak orang.

 Semoga Resolusi ini ngga berhenti di tahun depan tapi terus berlanjut smapai ke tahun-tahun yang akan datang. May God bless us and guide us to where HE wants us to go. Amen!

Nita – Penulis INSIDE

Resolusiku Adalah…

Wah.. bulan depan uda masuk ke tahun 2012! Waktu emang bener-bener cepet berlalu. Gak heran bos saya selalu bilang kalau musuh utama kita adalah waktu, karena waktu gak bisa diputar kembali juga gak bisa dibeli (kecuali dalam film “in time”). So, gak ada pilihan selain harus memanfaatkannya dengan baik!

Nah bicara soal memanfaatkan waktu, saya merasa gagal memaksimalkannya di tahun 2011 ini. Dan saya masih harus menanggung akibat yang ditimbulkan oleh kegagalan itu sendiri. Karena itu, saya sudah siap dengan resolusi 2012 yang harus saya capai guna kebahagiaan hidup saya, yaitu:

  1. Balik ke kasih mula2 sama Tuhan
  2. Melunasi tagihan kartu kredit dan menutupnya
  3. Memulai tahun dengan menyelesaikan pekerjaan setiap harinya
  4. Menabung rutin minimal Rp 500,000 setiap bulannya

Pada akhirnya saya selalu sadar, bahwa saya adalah orang yang sangat beruntung karena punya Tuhan yang luar biasa, yang setia, yang selalu menyertai saya dimanapun dan kapanpun. Karena itu, apapun yang terjadi di tahun 2012 nanti, asal Tuhan berjalan bersama saya, itu lebih dari cukup!

Tetap semangat, tetap berharap, tetap setia, tetap percaya, dan tetap berkarya!! Merry Christmas and Happy New Year!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: