GOD OF NEW PARADIGM

Akhir-akhir ini kita sering mendengar kalau kita harus punya paradigma baru dalam hidup. Tidak heran kalau para motivator laku keras. Mereka dianggap orang-orang yang bisa mengajarkan kita bagaimana caranya punya paradigma baru. Padahal tidak usah jauh-jauh mencari pembicara motivator, kita punya Allah yang ahli mengubah paradigma!

Alkitab menunjukkan bagaimana Dia mengubah paradigma:

  • Sebelumnya Ayub mempunyai paradigma kalau dia diberkati karena kebaikannya, tapi pada akhirnya dia menyadari kalau semua yang diterimanya adalah karena kebaikan Tuhan semata.
  • Paradigma gereja mula-mula adalah Injil untuk orang Yahudi saja, sampai Petrus dan Paulus mendapat pewahyuan dari Allah kalau Injil adalah untuk seluruh dunia.
  • Paradigma orang Yahudi zaman dulu adalah persembahan binatang harus dilakukan setiap hari, tapi paradigma ini diubah ketika Yesus datang, dan persembahan pun ditiadakan.

Sejarah gereja pun membuktikan kalau Dia ahli mengubah paradigma. Lihat saja gerakan reformasi yang mengubah paradigma keselamatan. Atau gerakan Baptis yang mengubah paradigma tentang baptisan air. Atau gerakan Metodis yang mengubah paradigma tentang kekudusan. Gerakan Karismatik yang mengubah paradigma tentang karunia rohani, dan masih banyak gerakan lain.

Allah kita adalah Allah pengubah paradigma dan sampai hari ini Dia pun masih mengubah paradigma kita. Pertanyaannya, maukah kita membiarkan Dia mengubah paradigma kita?

Perubahan adalah Pilihan

Keputusan akhir untuk berubah paradigma atau tidak, ada di tangan kita. Dia tidak akan memaksa kita untuk mengubah paradigma kalau kita tidak mau, kecuali kita membuka diri. Dari paradigma yang salah, sempit, menjadi paradigma baru sesuai kehendak-Nya.

Adadua alat utama yang akan Tuhan pakai untuk mengubah paradigma kita:

1. Pengalaman

Semua perubahan paradigma tidak terjadi begitu saja, tapi diawali dengan sebuah pengalaman. Pengalaman ini akan membuat kita berpikir. Tidak perlu pengalaman yang luar biasa untuk bisa mengalami perubahan paradigma. Pengalaman paling sederhana sekalipun bisa memicu perubahan paradigma dalam diri kita.

Contohnya, kita lihat yang terjadi pada Ayub. Pengalaman kehilangan semua miliknya, membuatnya berpikir. Dan setelah proses berpikir yang cukup lama, akhirnya dia menyadari kalau kebaikannya tidak menentukan berkat Tuhan dalam hidupnya.

Atau Petrus. Sebelumnya dia berpikir kalau Injil untuk orang Yahudi saja, tapi setelah pengalaman dengan Kornelius, dia jadi berpikir dan dari situ lahir pewahyuan kalau Injil adalah untuk semua orang.

Hal yang sama bisa terjadi pada kita. Mungkin kita mengalami pengalaman kegagalan dalam hubungan berulang kali. Dan pengalaman itu membuat kita berpikir apa yang salah. Dari situ bisa lahir suatu kesadaran kalau ada yang salah dengan kita dan dari kesadaran itu terjadilah perubahan paradigma dalam kita memandang hubungan.

2. Pewahyuan

Pewahyuan atau penyingkapan sesuatu datangnya dari Roh Kudus dan tidak bisa kita buat-buat. Kadang pewahyuan ini datang begitu cepat. Kadang membutuhkan waktu sampai kita menemukan suatu pewahyuan tertentu. Nah pewahyuan inilah yang menandakan perubahan paradigma dalam diri kita.

Tapi sekali lagi, perubahan paradigma hanya akan terjadi kalau kita membiarkan Tuhan bekerja dalam hidup kita. Tanpa kerjasama kita, maka mau kita mengalami pengalaman separah atau sehebat apapun, perubahan paradigma itu tidak akan terjadi. (denny pranolo)

2 responses to this post.

  1. menarik.dan bermanfaat..GBU..

    Reply

  2. Trima kasih Pak! Gbu too!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: