BERBUAH LEBAT

Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap. (Yohanes 15:16)

Sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk berbuah lebat dimanapun kita ditempatkan. Kalau bicara soal buah, maka itu bukan melulu soal buah roh. Tapi juga buah kehidupan, hidup kita menghasilkan sesuatu. Kita menjadi produktif, menjadi orang yang menghasilkan sesuatu.

Sebenarnya menjadi produktif bukanlah hasil usaha kita, tapi terjadi dengan sendirinya. Mari kita gunakan analogi sebuah pohon untuk melihat bagaimana kita bisa produktif. Bagaimana sebuah pohon bisa berbuah lebat? Karena:

TERTANAM

Pernahkah kita melihat sebuah pohon yang tidak tertanam bisa berbuah? Tidak bukan. Yang namanya pohon pasti tertanam. Hal yang sama berlaku bagi kita. Kalau kita mau berbuah, kita harus pastikan kita sudah tertanam, dimanakah itu? YESUS!

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. (Yohanes 15:4)

Artinya, kita baru bisa berbuah kalau kita terhubung dengan Yesus. Jadi kalau mau produktif, pastikan hubungan kita dengan Dia terjaga baik. Karena itu adalah sumber utama produktivitas kita.

Komunitas

Sebuah pohon kalau tertanam di tanah yang tidak subur, pohon itu juga tidak akan menghasilkan apa-apa. Sama dengan kita. Apakah tanah tempat kita tertanam adalah tanah yang subur? Tanah di sini bicara tentang komunitas dimana kita berada. Apakah komunitas kita tepat, sehingga akan membuat kita makin produktif atau sebaliknya, kita berada di komunitas yang malah mematikan produktivitas kita?

 DIPELIHARA

Agar berbuah, pohon membutuhkan asupan gizi tertentu supaya bisa tumbuh. Seperti kita, kalau kita mau berbuah, pastikan kita cukup mendapat “asupan gizi” untuk berbuah. Bisa berupa “asupan gizi” secara rohani, dari Firman Allah dan secara jasmani, dari buku-buku yang kita baca, trainingtraining yang kita ikuti. Tapi ingat, “asupan gizi” itu baru hanya akan berguna kalau dipraktekkan. Kalau hanya menjadi sekedar pengetahuan belaka, maka sia-sia saja.

Kenapa kita membutuhkan “asupan gizi” secara rohani? Karena kita adalah makhluk rohani juga. Inilah yang membedakan kita dengan orang dunia. Kalau “asupan gizi” kita hanya hal-hal jasmani saja, apa yang membedakan kita dengan orang dunia? Justru kerohanian itulah yang menjadi nilai tambah kita.

WAKTU

Apakah kita bisa mengharapkan menikmati buah dari pohon yang kita tanam hari ini, seminggu kemudian? Tidak. Untuk berbuah membutuhkan waktu.

Kadang kita suka terlalu keras dengan diri sendiri atau orang lain dengan menuntut mereka berubah dalam jangka waktu secepatnya. Padahal sama seperti pohon membutuhkan waktu untuk berbuah, kita juga membutuhkan waktu untuk bisa berbuah. Yang penting, pastikan kita tertanam dalam Tuhan dan di komunitas yang tepat, memelihara “asupan gizi” kita, produktivitas hanya masalah waktu saja. (denny pranolo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: