Maaf

Saya membayangkan dalam sepuluh ribu tahun pertama di surga, umat tebusan Allah akan menghabiskan waktu untuk saling meminta maaf satu sama lain karena telah menghakimi, saling menjatuhkan, sombong dan sombong. (Tentu saja ini cuma perkiraan; bisa saja butuh dua puluh ribu tahun.)

Saya membayangkan Paulus minta maaf kepada Barnabas karena bertengkar soal Markus. Dan mengaku kepada Markus kalau dia seharusnya memberi Markus kesempatan kedua. Dan semua orang Kristen Korintus dari abad pertama akan minta maaf pada Paulus karena sudah membuatnya menderita.

Semua orang di gereja yang berpisah hanya karena hal-hal konyol seperti musik organ, akan datang dan saling berpelukan. Orang-orang Baptis dan Presbyterian akan saling bertemu dan saling mengakui kalau merekalah yang salah soal baptisan. Dan mereka akan saling minta maaf karena sudah sombong dan untuk komentar buruk yang pernah mereka ucapkan. Dan tidak akan ada lagi perpecahan dan semua permusuhan akan dilupakan. (diambil dari Dug Down Deep oleh Joshua Harris ~ terjemahan bebas)

Waktu membaca tulisan di atas saya tersenyum sendiri sekaligus mengamini kebenarannya. Berapa banyak kata “maaf” yang belum terucap dari mulut saat kita masih hidup di dunia? Apakah kita harus menunggu sampai di sorga dulu baru mengucapkan kata “maaf”?

Ada dua fakta yang sudah sama-sama kita sadari: Manusia adalah makhluk sosial. Manusia adalah makhluk berdosa.

Kedua fakta ini mempunyai konsekuensi yang tidak bisa kita hindarkan: Kita selalu membutuhkan kehadiran orang lain dan harus selalu menjalin hubungan dengan orang lain dimana secara alamiah kita yang sudah jatuh dalam dosa, pasti akan “berdosa” juga terhadap sesama.

Di satu sisi kita membutuhkan kehadiran sesama kita, tapi di sisi lain, kita juga seringkali “menyakiti” mereka, secara sadar atau tidak, dengan kata-kata atau tindakan kita.

Apa kata Firman Tuhan tentang kedua fakta ini?

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. (Matius 5:23-25)

Firman Tuhan mengakui kalau kita membutuhkan sesama kita, tapi Firman Tuhan juga menekankan perlunya kita segera meminta maaf pada sesama begitu kita menyadari telah melakukan sesuatu yang salah terhadap sesama kita.

Melakukan kesalahan, menyakiti perasaan dalam sebuah hubungan adalah sebuah hal yang wajar. Tidak ada orang yang kata-kata dan tindakannya begitu sempurna sehingga tidak menyakiti hati sesamanya. Jadi selalu ambil waktu untuk me-review kesalahan apa saja yang mungkin sudah kita buat terhadap sesama kita. Terhadap pasangan kita, teman kita, atasan kita. Perhatikan raut muka, mimik, gerak tubuh sesama kita. Dengan begitu kita akan tahu apakah kita sudah menyakiti perasaan mereka atau tidak. Dan kalau sudah sadar kita melakukan kesalahan, cepat-cepatlah minta maaf. Semakin cepat kita meminta maaf, semakin cepat luka itu akan sembuh. Jangan tunggu sampai kekekalan baru minta maaf. (denny pranolo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: