REKONSILIASI

Esensi dari kehidupan manusia adalah hubungan. Artinya, setiap manusia hidup, selalu berhubungan satu sama lain. Dan dalam sebuah hubungan, akan selalu ada gesekan.

Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya. (Amsal  27:17)

Gesekan ini biasanya membawa kekesalan, rasa jengkel, marah, benci, bahkan kepahitan dalam hati. Dan kalau sudah begini, biasanya masalah akan selalu timbul dalam hubungan kita dengan orang lain. Padahal, kita dicipta sebagai makhluk sosial, yang artinya pada dasarnya kita tidak bisa hidup tanpa manusia lain.

Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.  (Ibrani  12:15)

Untuk ini, kita sangat membutuhkan yang namanya rekonsiliasi.

Apa Artinya Rekonsiliasi?

Rekonsiliasi adalah tindakan yang dihasilkan dari keputusan secara sadar oleh kita yang menghendaki pemulihan dalam hubungan yang kita jalin dengan siapapun, dimanapun dan kapanpun. Ingatlah bahwa, pemulihan hubungan ini sudah diteladani oleh Bapa di surga yaitu dengan memberikan putraNya yang tunggal untuk memulihkan hubungan yang rusak antara kita, manusia dengan Allah sang Pencipta. (Hukum yang terutama dan pertama – baca Matius 22:36-40 – adalah mengasihi Tuhan dan sesama manusia seperti diri kita sendiri).

Rekonsiliasi adalah tanda bahwa kita memilih untuk hidup menurut Roh bukan menurut daging.

Mengapa Rekonsiliasi itu Penting?

1. Manusia tidak ada yang sempurna

Dalam hidup ini, manusia tidak bisa hidup sendirian. Mengapa? Karena setiap manusia punya kelemahan dan kelebihan masing-masing yang bisa saling menutupi jika manusia hidup dengan manusia lainnya.

Kelemahan-kelemahan kita dan orang lain yang berhubungan dengan kita inilah yang akan mengakibatkan perseteruan, permusuhan, kebencian, rasa jengkel, kesal, dan emosi negatif lain. Kalau sudah begini, apakah kita bisa/boleh memutuskan hubungan? Jawabannya: tidak bisa/tidak boleh, karena kita memang harus dan akan tetap berhubungan dengan orang lain, siapapun mereka.

Percayalah bahwa justru melalui gesekan dalam berhubungan dengan orang lain, kita diajar Tuhan untuk:

  1. mengerti kelemahan kita, sehingga kita bisa memperbaikinya.
  2. mengerti kelebihan kita, sehingga kita bisa berfungsi melengkapi/menutupi kelemahan orang lain.
  3. mengerti kelemahan orang lain, sehingga kita mengerti bahwa anugrah Tuhan cukup buat kita (kita tidak minder/rendah diri).
  4. mengerti kelebihan orang lain, sehingga kita tidak menjadi sombong.

2. Perintah Tuhan

Dalam Matius 18:24 dan seterusnya, Tuhan Yesus menceritakan sebuah perumpamaan tentang seorang hamba yang berhutang 10.000 talenta kepada rajanya. Dia nyaris menerima hukuman karena tidak mampu membayar hutang. Tetapi kemudian dia diampuni oleh si raja. Sayangnya, dia tidak berlaku murah hati seperti raja. Temannya yang cuma berhutang 100 dinar kepadanya dia jebloskan ke penjara. Singkat cerita, si raja mendapat laporan tentang kelakuannya dan akhirnya menyerahkannya kepada para algojo untuk dihukum. Begini kalimat terakhir dari perumpamaan ini, dalam Matius 18:35, “Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu”.

Tanda apakah kita sudah melakukan rekonsiliasi dengan sesama adalah apakah terdapat pengampunan di dalamnya. Atau dengan kata lain, apakah kita sudah mengampuni orang yang membuat kita jengkel, kesal, marah, benci, dll. Di dalam rekonsiliasi, selalu ada pengampunan.

Dalam doa yang diajarkan Tuhan Yesus terdapat kalimat ini: “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” (Matius  6:12). Pengampunan yang kita berikan kepada orang lain, adalah perintah Tuhan, untuk kebaikan kita. Yaitu supaya Tuhan pun mengampuni kesalahan dan dosa yang kita perbuat. Jadi untuk bisa diampuni oleh Tuhan, ampunilah lebih dulu sesama kita!

Bagaimana melakukan REKONSILIASI ?

1. Berdoa

Mintalah kekuatan dari Tuhan untuk memampukan kita memaafkan/mengampuni orang yang bersalah kepada kita secara nyata. Teruslah berdoa melepaskan pengampunan, katakan: “Tuhan aku mengampuni si A… aku melepaskan pengampunan kepadanya…”

2. Bertindak

Jika Tuhan memberikan kesempatan atau waktu yang tepat/baik, berbicaralah 4 mata dengan orang yang membuat hubungan kita dengannya menjadi tidak baik, secara baik-baik (baca: bukan dengan emosi atau untuk memojokkan orang itu. Tapi dengan tujuan memperbaiki hubungan).

Apa Hasil dari Rekonsiliasi?

1.  Hubungan buruk yang kembali pulih/menjadi baik.

Ingat, selain perintah Tuhan, hubungan baik dengan siapapun itu penting, sebab siapa tahu di hari ke depan, kita membutuhkan pertolongan orang lain tersebut. Lewat rekonsiliasi, hubungan yang buruk kembali jadi baik, dan itu sama artinya dengan “pertolongan” yang akan gampang kita temukan dimanapun kita berada.

2.  Berkat Tuhan mengalir

Dalam Mazmur 133 tertulis bahwa berkat Tuhan akan mengalir kalau kita hidup rukun dengan sesama kita. Teladannya adalah si penulis Mazmur itu sendiri yaitu Raja Daud. Sebelum dia menjadi RajaIsrael, dia tahu bahwa dia lebih unggul dari Raja Saul (raja yang memerintah saat itu). Dia juga tahu bahwa dia sudah diurapi untuk menggantikan posisi Raja Saul. Tapi Daud tetap menjaga hubungan baik dengan Raja Saul, sekalipun harga yang harus dibayar Daud untuk keputusannya ini adalah nyawanya sendiri. Daud harus “rela” dikejar-kejar Saul yang ingin membunuhnya. Betapapun Daud punya kesempatan untuk membunuh Saul, dia tidak melakukannya. Dan Mazmur 133 ini Daud tuliskan berdasarkan pengalaman pribadi.

3.  Kehidupan kekal

Dalam Mazmur 133 ayat terakhir dituliskan kata “kehidupan untuk selama-lamanya”. Ini adalah bagian kita kalau kita hidup rukun dengan sesama. Siapapun yang telah membuat kita kesal, marah, benci, pahit, jangan biarkan mereka membuat kita mengorbankan “kehidupan kekal” yang dijanjikan Tuhan. Rekonsiliasi adalah satu-satunya solusi yang Tuhan sediakan.

Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya. (I Yohanes  3:15)

Akhir kata, dalam hubungan baik, pasti ada kesehatan, kesembuhan dari sakit penyakit, hati yang penuh damai sejahtera dan sukacita. Pintu-pintu kesempatan yang tidak pernah kita duga akan terbuka lewat setiap hubungan baik yang sudah, sedang atau akan kita jalin. Berkat Tuhan secara rohani, jasmani dan materi juga pasti mengalir. Yuk kita sama-sama praktek dan membuktikannya!! (R & Loren-INSIDE)

Kamu paling gak tahan sama sikap orang lain yang kayak gimana? Ceritakan kenapa! 

Jessy

Gue plng tdk suka sm org yg malas…krn sifat malas bkn saja merugikn diri sndri tp jg org lain dan yg plng parah gak bs jadi berkat…ayo berantas kemalasan…!!!

Vanessa

cari muka, munafik, dan merasa diri gak prnah salah alias paling benar sedunia

Adjie

Membicarakan saya kepada org lain di belakang saya (tanpa sepengetahuan). mending kalo bicarain yg baik-baik (edifikasi), tapi yg negatifnya terutama jika dilebih-lebihkan. sudah pasti image saya menjadi buruk. perlu waktu mengampuninya atau sekedar rekonsiliasi..

Hanna Joane 

Sombong, munafik, ngerasa pinter..

 Christie Karisoh 

Org yg suka merendahkan org lain..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: