TUHAN YESUS BAIK APAPUN YANG TERJADI

Nama saya Lisa Agustina, umur saya 30 tahun, saya anak ke-2 dan perempuan satu-satunya dari 3 bersaudara. Sudah menikah dengan 1 anak. Keluarga saya sederhana. Orang tua hanya membuka warung di rumah. Kedua saudara saya sudah bekerja tapi belum berkeluarga, sehingga mereka masih tinggal dengan orangtua. Karena rumah saya dan orang tua dekat, maka setiap kali saya berangkat kerja, maka saya menitipkan anak saya di rumah orang tua.

Hubungan kami sangat baik. Saling mengasihi, dan saya sangat bangga memiliki keluarga yang begitu luar biasa, penuh kasih, penuh kepedulian dan sangat bertanggung jawab. Pada saat saya menghadapi masalah, saya menceritakan kepada mama. Beliau suka menasehati saya dengan bijak. Papa saya lebih pendiam, tetapi beliau sangat bertanggung jawab menyekolahkan anak-anaknya sampai tingkat sarjana, walau hanya dengan membuka warung. Kakak saya pendiam, tapi pintar. Dia adalah seorang manajer di sebuah perusahaan. Adik saya hanya lulusan SMU, karena memang tidak terlalu suka bersekolah. Lulus SMU dia langsung bekerja. Dan lalu menyewa sebuah toko makanan di samping sebuah Universitas. Usia papa 72 thn, mama 64 thn, koko 30 thn, dan adik 27 thn.

Pada tanggal 5 November 2010, pukul 3 pagi, keluarga yang saya kasihi ditimpa musibah kebakaran. Tidak hanya harta benda, tapi saya juga harus kehilangan seluruh keluarga saya. Papa, mama, kakak dan adik saya meninggal sekaligus.

Saya diberitahu lewat telepon oleh kakak ipar saya pukul 04.00 pagi. Saya yang sangat terkejut mendengar itu, langsung lari menuju ke rumah orangtua saya. Dalam bayangan saya, orang tua dan saudara-saudara saya pasti sibuk mengeluarkan barang-barang dari rumah. Tetapi sesampainya disana, saya melihat api sudah mulai padam, tetapi rolling door masih dalam keadaan tertutup!

Saya dihalang-halangi tetangga waktu mau mendekat ke lokasi. Saya bertanya ke mereka, “Mama mana?” Dan mereka menjawab, “Sedang ditolong.” Saat itu saya langsung berteriak, “Tuhan Yesus tolong!! Saya menangis dan hanya bisa menyimpan sedikit harapan.

Saya pesimis karena saya tahu rumah masih tertutup rapat. Ditambah lagi, sudah ada wartawan yang menanyakan nama dan umur keluarga saya. Tidak lama kemudian, saya mendapat kepastian bahwa nyawa mereka tidak tertolong lagi.

Hati saya hancur, saya hanya bisa menangis tanpa bisa berpikir apa-apa. Padahal semalam saya masih bertemu dan berbicara dengan mereka. Tapi dalam sekejap, tiba-tiba saya kehilangan mereka semua. Sedih, takut, trauma, dan terguncang, semuanya jadi satu. Saat itu saya dibawa pulang oleh kakak ipar saya karena tidak ingin saya melihat jenazah mereka, dan supaya terhindar dari wartawan.

Saya pulang dan hanya menangis, tidak percaya dengan apa yang saya alami. Tapi saya masih bisa berpikir bahwa urusannya masih panjang. Saya harus kuat. Saya mandi lalu bersiap pergi ke rumah duka. Saat itu, saya bilang, “Tuhan, saya kenal Engkau, Engkau baik, saya tahu Engkau baik, tapi kenapa saya mengalami kejadian seperti ini? Tuhan, saya memang minta diuji, tapi kenapa ujian ini begitu berat? Saya tidak kuat Tuhan, saya tidak kuat.” Jika kita kehilangan 1 orang yang kita kasihi saja kita pasti sedih, tapi saya kehilangan 4 orang dan dalam keadaan tidak siap, hati saya begitu hancur.

Selama proses di rumah duka sampai kremasi, saya bisa menjalani dengan kuat. Saya percaya pasti Tuhan yang memberi kekuatan dan atas dukungan doa banyak orang.

Seiring waktu berjalan, saya sangat merindukan mereka. Saya merasa sangat kehilangan. Tidak punya keluarga lagi. Banyak keinginan dan harapan yang ingin saya lakukan bersama-sama dengan mereka tidak bisa lagi dilakukan. Saya juga merasa belum membahagiakan orangtua saya dengan maksimal.

Kalau bukan karena Tuhan, saya tentu tidak ingin hidup lagi. Mungkin saat ini jiwa saya terganggu. Tapi puji syukur kepada Tuhan, saya percaya Tuhan Yesus tidak pernah meninggalkan saya. Kekuatan dan penghiburan berasal dari Dia, sehingga saya kuat menjalani kehidupan saya kembali bersama suami dan anak saya. Saya terus meminta Tuhan yang memberi kekuatan kepada saya. Tidak menjadi kecewa kepada Tuhan. Saya percaya semua yang terjadi ini atas seijin Tuhan, dan saya tetap fokus kepada Tuhan.

Saya berharap setiap kita bersyukur kepada Tuhan atas keluarga yang diberikan Tuhan, mengasihi dengan kasih Kristus apapun kondisi keluarga kita. Juga setiap kita ada masalah, besar atau kecil, bawalah kepada Tuhan. Percayalah Tuhan pasti menolong setiap kita. Tuhan Yesus memberkati. (Lisa Agustina)

One response to this post.

  1. kesaksian yang sangat menguatkan. Terima kasih

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: