Produktif di Dalam Proses

Beberapa tahun lalu Tuhan berbicara kepada saya melalui firmanNya didalam kisah Abraham, dimana Tuhan menyuruh Abraham pergi dari sanak saudaranya dan pergi ke negeri yang akan ditunjukkan  Tuhan kepada Abraham. Abraham has no clue, but he chose to obey God anyway. Abraham keluar dari comfort zone-nya. Ketaatan Abraham menginspirasi saya.

Singkat cerita, Tuhan jelas menyuruh saya pergi ke negeri Paman Sam. Dan seperti seekor kura-kura meninggalkan rumah (tempurungnya) begitulah saya meninggalkan semua ‘kenyamanan’  saya. Apakah itu? Kenyamanan kita seringkali adalah: segala sesuatu yang jelas, terjangkau, nyata, dan pasti; dengan kata lain, sesuatu yang tidak menuntut iman untuk melakukannya.

Saya punya pekerjaan dan pelayanan; saya tahu apa yang saya lakukan dan capai; saya tidak kuatir dengan apa yang saya makan, minum, pakai.  Tetapi melayani ke Amerika adalah suatu  permulaan perjalanan. Jika banyak orang pergi ke Amerika karena satu tujuan yaitu mencari dollar, saya  pergi karena Tuhan menyuruh saya pergi. Yang saya tahu, ini adalah suatu perjalanan iman dan seperti yang Allah lakukan pada Abraham, saya percaya Dia menyediakannya. Tapi Dia tidak akan berbuat apa-apa sampai saya melangkah.

Ketika pesawat tinggal landas, saya merasa seperti mimpi-mimpi saya mati dan seperti  mengambang dalam ketidakpastian, karena ketakutan mulai mendatangi saya. Saya memegang Alkitab  saya erat-erat sambil menangis tanpa suara karena saya tidak ingin membingungkan penumpang di sebelah saya. Saat-saat itu merupakan momen yang indah karena Dia datang sebagai Bapa yang memeluk anaknya yang sedang ketakutan dan ragu.

Saya sering berkata bahwa berjalan dengan Tuhan adalah suatu petualangan. Yang namanya petualangan itu seringkali disertai dengan misteri. Namun, petualangan dengan Tuhan sedikit berbeda, karena saya tidak usah pusing memecahkan misteri-misteri itu karena Tuhan sudah punya
jawabannya dan saya hanya sebagai pelakon didalam salah satu bab/chapter dalam hidup saya. Tuhan  akan memberikan petunjuk demi petunjuk untuk menemukan ‘harta karun’ di tempat dimana saya diutus.

Proses yang saya alami selanjutnya adalah proses menjadi hamba yang setia, melalui  kondisi, keadaan, dan orang-orang di sekeliling saya. Saya tidak bisa memakai cara maupun ide-ide  yang biasanya saya pakai didalam pelayanan di masa lalu. Bayangkan jika Anda terdampar di satu pulau seperti film Cast Away dan Anda tidak punya apa-apa selain bola voliWilson. Kalau biasanya  Anda tinggal menyalakan kompor gas untuk memasak, di pulau ini Anda harus membuat api. Anda harus menangkap ikan untuk bisa makan. Anda harus membuat rumah untuk melindungi Anda dari hujan maupun terik matahari. Apa yang biasanya Anda lakukan di rumah, tidak bisa Anda lakukan di pulau asing ini. Apa yang tersedia di rumah Anda, tidak tersedia di pulau ini. Saya perlu mencari tahu  keadaan di negeri asing ini, bagaimana kulturnya dan orang-orangnya. Saya harus belajar mengenali pemimpin baru saya, bagaimanagayakepimpinannya dan karakternya. Tidak hanya pemimpin, tetapi juga rekan-rekan sepelayanan plus orang-orang yang harus saya layani. Inilah proses kehambaan.

Seringkali kita fokus dengan apa yang terjadi dengan diri kita; apa yang orang lain lakukan kepada kita. Namun, proses kerendahan hati sebetulnya lebih kepada reaksi kita. Apa yang akan kita lakukan, harga diri kita diinjak-injak, dimanfaatkan, hak kita dilupakan, diperlakukan dengan tidak adil.  Saya mengalami proses ini dengan cerita dan proses yang berbeda. Buat saya, kuncinya adalah jangan  lari, tetapi belajarlah menikmatinya dengan tetap menjadi produktif bagi Tuhan.

Seperti Yusuf, ketika dia diperbudak, difitnah dan dipenjara, proses tersebut tidak melumpuhkan dia. Yusuf adalah orang yang tetap produktif bagi Tuhan di tengah masa-masa yang tidak enak. Dibawah perbudakan  Potifar pun dia menjadi budak yang sukses. Di dalam penjara pun Yusuf menjadi narapidana yang berhasil. Dan tidak usah diragukan lagi, ketika dia menjadi orang kedua Mesir, tidak ada yang baru dengan Yusuf, dia tetap produktif bagi Tuhan, seperti biasa.

Perjalanan rohani saya di Amerika mengajar saya mengenal Yusuf dan meneladani
respon-nya terhadap proses apapun yang dia hadapi. Dan saya menemukan Tuhan secara lebih nyata dalam kondisi yang jauh dari “nyaman”… (jeannefer anastasia tinawati)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: