BERJAGA-JAGALAH

Sebagai orang Kristen kita diminta untuk selalu berjaga-jaga (baca: waspada). Berjaga-jaga terhadap dosa. Berjaga-jaga terhadap pencobaan. Berjaga-jaga terhadap keinginan daging. Berjaga-jaga terhadap kedatangan Tuhan yang kedua. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa berjaga-jaga?

Jawabannya ada di Matius 25, dalam perumpamaanlimagadis bijaksana danlimagadis bodoh. Kita semua pasti sudah hapal luar kepala cerita ini. Tapi sudahkah kita menjadi seperti gadis yang bijaksana? Atau kita malah menjadi seperti gadis yang bodoh? Apa perbedaan di antara keduanya?

Gadis-gadis yang bijaksana tahu apa yang akan mereka lakukan dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Gadis-gadis yang bodoh tahu apa yang akan mereka lakukan dan tidak mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Keduanya tahu mereka akan menyongsong sang mempelai. Keduanya tahu mereka harus menyiapkan pelita mereka. Tapi yang satu menyiapkan pelita plus minyak cadangannya. Yang satu lagi menyiapkan pelita tanpa minyak cadangannya.

Kedua kelompok gadis ini menggambarkan orang-orang Kristen. Kita semua tahu kita harus berjaga-jaga. Kita semua tahu hidup Kekristenan adalah sebuah pilihan. Kita semua tahu kalau kita harus berjuang dalam hidup ini. Tapi sama seperti ada dua kelompok gadis itu, ada dua kelompok orang Kristen juga. Orang Kristen yang bijaksana dan orang Kristen yang bodoh.

Orang Kristen yang bijaksana tahu apa yang akan mereka hadapi dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Orang Kristen yang bodoh tahu apa yang mereka hadapi tapi mereka bersikap bagaimana nanti. Kita bisa tahu bagaimana akhirnya.

Untuk bisa berjaga-jaga kita harus menjadi bijaksana. Tahu apa yang akan kita hadapi dalam hidup ini saja tidak cukup. Untuk tahu adalah hal mudah. Cukup baca banyak buku, dengar banyak khotbah, buka mata, buka telinga, kita akan tahu apa yang harus kita hadapi dalam hidup Kekristenan kita (yang tidak lain dan tidak bukan adalah: godaan dosa, masalah sehari-hari, godaan daging).

Kita harus memperlengkapi diri kita untuk menghadapi semua itu. Berjaga-jaga bukan berarti sekedar tahu. Berjaga-jaga berarti siap dengan perlengkapan untuk menghadapi apa yang mungkin terjadi.

Apakah kita sudah mempersiapkan diri kita untuk menghadapi dosa, masalah, daging? Atau kita hanya sekedar tahu bahwa kita harus menghadapi semuanya itu? Sudahkah kita membangun suatu kesadaran dalam diri kita untuk selalu siap setiap saat menghadapi dosa dan masalah yang bisa datang tiba-tiba?

Saat dosa datang. Saat daging menggoda. Saat masalah tiba. Sudahkah kita siap menghadapinya? Mengerti apa bahayanya? Persiapan selalu dilakukan sebelumnya. Itulah yang disebut berjaga-jaga. (denny pranolo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: