Jodoh di tangan siapa?

Kita selalu bilang jodoh di tangan Tuhan. Tapi kalau kita mau jujur jodoh tidak selalu di tangan Tuhan. Jodoh bisa jadi di tangan kita. Di tangan orang tua kita. Di tangan sahabat kita.

Coba kita jujur dengan diri sendiri, kalau sudah menyangkut masalah cinta, apakah kita akan melibatkan Tuhan? Bukannnya kita lebih sering berbaik hati “membantu Tuhan” mencarikan jodoh buat kita? Kita beralasan “Kan Tuhan kasih kehendak bebas untuk memilih orang yang kita suka.” Benar. Kita punya hak penuh untuk menentukan siapa orang yang akan kita suka, bahkan nikahi sekalipun. Tapi kita harus sadar kalau tidak semua orang yang kita suka, yang kita anggap jodoh kita, itu berasal dari Tuhan. Bisa jadi dia berasal dari orang tua kita. Bisa jadi dia berasal dari teman kita. Atau yang paling sering dia berasal dari usaha kita sendiri, karena kita mencarinya.

Kalau kita lihat di Alkitab, kita akan melihat kalau yang namanya jodoh dari Tuhan itu benar-benar Tuhan yang membawanya. Tanpa kita cari pun orang itu akan datang pada kita (karena Tuhan yang bawa dia pada kita).

Lihat Adam, dia cuma tidur, dan Hawa “dibawa-Nya kepada manusia itu (Adam)” (Kejadian 2:22). Ishak sedang “keluar untuk berjalan-jalan di padang” (Kejadian 24:63), dan Tuhan membawa Ribka kepadanya. Boas sedang “datang(lah)…dari Betlehem” (Rut 2:4) untuk mengawasi ladang gandumnya, ketika Tuhan membawa Rut.

Itu baru namanya jodoh yang dari Tuhan. Kita tidak berusaha mencari, tidak minta bantuan orang sana-sini supaya dijadikan dengan si anu, tapi Tuhan yang membawanya sendiri kepada kita. Memang caranya bisa bermacam-macam. Hawa dibawa langsung oleh Tuhan pada Adam. Ribka dijodohkan oleh Abraham lewat perantaraan Eliezer. Rut tidak sengaja sedang ada di ladang Boas. Semuanya kelihatan alami sekali ‘kan? Tapi semuapunya satu kesamaan. Mereka tidak sedang sibuk mencari jodoh. Mereka bahkan mungkin sudah lupa dengan urusan jodoh. Tapi Tuhan membawa orang yang akan jadi pasangan mereka.

Tapi ini bukan berarti kita lalu diam saja menunggu Tuhan membawa “si dia” kepada kita. Lalu kita setiap hari cuma berdoa, dan berharap Tuhan membawa orang yang tepat. Tidak. Kita juga harus lakukan bagian kita. Kita berteman dengan sebanyak mungkin orang. Kita tetap buka mata, siapa tahu ada orang yang menarik perhatian kita. Tapi pastikan sebelum benih-benih cinta ditabur dalam hati, kita sudah lebih dulu menyerahkan hati kita pada-Nya sehingga kita peka pada suara-Nya. Apakah “si dia” ini jodoh yang dari Tuhan atau bukan. Dan pastikan sebelum kita bilang “I love you”, Dia sudah setuju dengan pilihan kita. Kalau Dia tidak setuju, lebih baik kita cari lagi yang lain.

Beranikah kita menyerahkan masalah jodoh kita pada-Nya? (denny pranolo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: