SELALU BARU?

Alkitab mengatakan kasih Allah selalu baru setiap pagi (Ratapan 3:22-23). Tapi berapa banyak dari kita yang benar-benar mengalami penggenapan ayat ini? Berapa banyak dari kita yang ketika bangun pagi berpikir, “Aduh kerja lagi. Ketemu orang itu lagi. Bosaaaan…butuh liburan.”

Bahkan hari Sabtu-Minggu yang harusnya menjadi hari akhir pekan, di mana kita bisa beristirahat atau menghabiskan waktu dengan keluarga pun tidak luput dari keluhan ini. “Wah sudah hari Sabtu lagi, berarti harus pergi ke…. Bosan ih, tiap minggu harus kesana.” “Hari Minggu lagi? Wah sibuk lagi deh.Capepelayananterus. Ingin liburan.”

Jadi dimana yang barunya? Bukankah setiap hari sama saja? Setiap minggu selalu berputar-putar seperti itu. Setiap bulan juga sama. Bukankah Salomo juga mengatakan Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.” (Pengkhotbah 1:9)? Jadi apanya yang baru?

Sebenarnya yang jadi masalah utama kita adalah masalah cara pandang. Kita selama ini selalu diajar untuk jadi orang yang mandiri. Dari kecil kita diajar untuk belajar yang rajin, cari kerja yang bagus. Untuk apa? Supaya bisa hidup layak, enak, tidak menyusahkan orang lain.

Tapi sikap seperti ini secara tidak langsung menghalangi kita untuk merasakan anugerahNya yang selalu baru, karena pada akhirnya kita tumbuh menjadi orang yang self sufficient, selalu merasa bisa memenuhi kebutuhan kita sendiri. Ya memang, kita menyadari kita butuh orang lain, tapi sebisa mungkin, kitalah yang menolong orang lain, bukan kita yang ditolong.

Bahkan sikap ini pun terbawa dalam kehidupan rohani kita. sering kali yang menjadi doa kita agar supaya kita lebih kuat dalam menjalani hidup, menang atas pencobaan. Fokusnya selalu bagaimana kita bisa lebih mampu. Tidak heran kita sulit melihat kasih Tuhan selalu baru, karena untuk mengalami kasih-Nya yang selalu baru ini, kita harus miskin di hadapan Allah.

Miskin di Hadapan Allah

Kita mungkin sering mendengar tentang ucapan bahagia, tapi apakah kita sudah mengerti maknanya? Menarik sekali kalau kita melihat Yesus memulai pengajaran-Nya dengan mengatakan “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah (Matius 5:1).”

Perhatikan Dia tidak mengatakan orang yang miskin saja, tapi miskin di hadapan Allah. Tuhan tidak melarang kita menjadi kaya. Tapi sekaya apapun kita, Dia meminta kita miskin di hadapan-Nya. Miskin di hadapan Allah bukan berarti kita menjual semua harta kita. Miskin di sini adalah miskin secara sifat, bukan keadaan. 

Untuk lebih bisa memahami “miskin di hadapan Allah” coba kita perhatikan orang yang hidupnya di bawah garis kemiskinan, yang hidupnya bergantung pada kebaikan orang lain. Buat orang-orang seperti ini bisa hidup satu hari lagi saja sudah anugerah. Kenapa? Karena mereka tidak punya jaminan, seperti apa hidup mereka besok. Semuanya tergantung kebaikan orang.

Sikap seperti orang miskin inilah yang perlu kita punya dalam hubungan dengan Tuhan. Selama kita menempatkan diri sebagai orang yang mampu, punya, kita akan sulit menghargai anugerah Tuhan. Sebaliknya kalau kita selalu memandang diri kita miskin secara roh, kita akan bisa menghargai anugerah-Nya dan kita akan merasakan kalau kasih-Nya memang baru setiap hari.

Memiskinkan Diri di Hadapan Allah

Masalahnya kita tidak terbiasa melihat diri kita sebagai orang miskin. Karena itu kita harus belajar “memiskinkan” diri di hadapan Allah dengan cara berdoa dan berpuasa (Mazmur 35:13). Karena dengan berpuasa kita merendahkan diri di hadapan Allah. Dengan berpuasa kita akan melihat diri kita yang sebenarnya. Yang bukan siapa-siapa. Dengan berpuasa kita akan menyadari kalau kita sangat membutuhkan Dia, dan dengan begitu kita akan melihat bahwa kasih-Nya memang selalu baru setiap hari. (denny pranolo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: