Gagap Tapi Bisa Kuliah Master di UCLA, United States

Nama saya Veli Sungono. Sekarang ini saya mengajar di bidang riset kesehatan dan biostatistik di Universitas Pelita Harapan. Selain itu saya juga sedang melakukan penelitian di bidang HIV/AIDS. Dua tahun lalu saya mengikuti kuliah S2 di School of Public Health, UCLA (University of California Los Angeles), USA, di bidang penyakit epidemik dan kesehatan masyarakat dengan beasiswa penuh dari Institusi Kesehatan Amerika (National Institute Health-USA).

Dulu sewaktu kuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (2001-2004), saya mendapat beasiswa/full-scholarship dari Singapore Airlines. Setelah lulus, saya bekerja di bidang medical-group Lippo di Karawaci  yang bergerak dalam penelitian kesehatan tentang  kanker. Bulan Mei 2005, saya dikirim ke Shanghai Cancer Institute untuk mengikuti training selama 6 bulan. Semua ini terasa menakjubkan, tetapi ada begitu banyak tantangan yang harus saya lewati bersama Tuhan.

Sejak kecil, saya gagap. Rasanya sulit sekali berbicara dengan lancar. Saya merasa sangat minder, ditambah lagi sering diejek oleh teman maupun guru. Saya sering putus asa. Saya sudah membayangkan selesai sekolah nanti saya akan berkerja sebagai pemain pantomim, karena pekerjaan ini hanya memerankan adegan bisu, tanpa perlu bicara. Saya sering menghindari pekerjaan yang membutuhkan banyak bicara.

Tahun 1992, usaha keluarga saya bangkrut, dan akhirnya kami harus pindah dari Pontianak ke   Jakarta .  Awalnya saya adalah anak paling nakal. Dulu kalau butuh sesuatu, saya tinggal meminta dan selalu tersedia. Sekarang setiap pagi pukul 5 kurang, saya sudah harus bangun dan membantu mama membuat kue. Saya melihat mama bangun pukul 3, membuat adonan kue.  Kemudian pk. 6.45 sudah harus membawa banyak kue dan berjualan di pasar. Keadaan ekonomi yang sulit ini justru memotivasi saya untuk bangkit. Di Pontianak, ranking saya pernah mencapai 30, tetapi waktu sekolah di  Jakarta, saya sadar bahwa saya tidak bisa seperti dulu. Saya mulai rajin, dan akhirnya mendapatkan ranking 1 sekaligus beasiswa.

Setiap pergi ke sekolah, saya harus berjalan kaki sambil membawa kue untuk dititipkan di kantin sekolah. Saya juga bekerja di kantin selama 3 tahun (kelas 3 SMP sampai SMA kelas 2). Jika melihat guru, saya sering menyembunyikan diri karena kuatir dikenali sebagai siswa tapi ikut berjualan, rasanya malu sekali. Teman-teman mengira saya adalah anak pemilik kantin.

Di saat seperti itu, Roh Kudus sering mengingatkan bahwa Ia tidak pernah malu, karena saya harus berjualan ataupun berjalan kaki ke sekolah. Roh Kudus berkata bahwa saya seharusnya merasa malu, jika saya menyontek, mencuri, iri hati, atau berbuat dosa. Sejak saat itulah saya mulai belajar untuk tidak merasa malu dengan keadaan saya. Saya pertama digaji sebesar 30 ribu oleh pemilik kantin. Saya merasa sangat senang bisa memberikan perpuluhan, walaupun cuma 3 ribu.

Roh Kudus Membuat Saya Berani Bermimpi

Saya takut bermimpi besar, tetapi setiap kali merenungkan Firman Tuhan, Roh Kudus sering memberi gambaran/penglihatan sekilas bahwa saya akan menjadi saksi bagi bangsa-bangsa dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Awalnya saya berpikir bahwa Roh Kudus hanya menghibur saya saja, supaya tidak terlalu sedih. Akan tetapi, semakin saya membaca dan merenungkan FirmanNYA, kepercayaan diri saya mulai dipulihkan Tuhan. Saya mulai disembuhkan dari kegagapan, walau tidak instan.

Belajar Lebih Keras dari Teman-Teman dan Berani Melangkah

Saya sadar bahwa saya gagap, dan orang tua tidak memiliki dana untuk kuliah saya. Oleh sebab itu saya berkomitmen untuk belajar lebih tekun daripada teman-teman. Sewaktu kuliah di Universitas Indonesia/UI saya sadar saya tidak pandai bicara. Akan tetapi setiap kali ada kesempatan dalam tugas presentasi, saya aktif menawarkan diri menjadi wakil kelompok untuk bicara di depan. Biasanya teman-teman menolak, dan selalu menunjuk orang lain. Saya ambil kesempatan itu untuk berlatih. Memang, pada waktu berdiri di depan kelas, saya bicaranya sangat berantakan. Ada kalanya saya gagap di depan kelas, berbicara dengan tidak sistematis dan banyak kesalahan yang bisa saya temukan saat presentasi. Yang pasti, saya selalu mengevaluasi diri dan belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Prinsip saya, lebih baik mencoba, walaupun gagal, namun akhirnya belajar sesuatu yang baru, daripada tidak mencoba sama sekali dan tidak belajar apapun. Itu artinya stagnasi/tidak mengalami kemajuan apapun.

Bencana Keterlambatan Beasiswa Justru Membawa Keuntungan

Dua tahun berturut-turut, terjadi keterlambatan pemberian beasiswa. Saat itu saya harus segera membayar uang kuliah. Keadaan ini mendesak saya untuk mengikuti lomba mahasiswa berprestasi dan lomba karya tulis. Motivasi saya ikut lomba hanya untuk mendapatkan hadiah uang untuk membayar biaya kuliah. Puji Tuhan saya menjadi juara mahasiswa berprestasi 2 tahun berturut-turut dan mewakili UI dalam lomba karya tulis mahasiswa. Prestasi-prestasi dan penghargaan tersebut membuat saya mendapat poin lebih untuk persyaratan beasiswa.

Justru masa-masa sulit tersebut terjadi pada saat saya aktif melayani sebagai pengerja di Youth (Pemuda Remaja) GBI Kota. Lelah rasanya, Senin-Jumat setiap pagi hari, harus naik kereta ekonomi dari Jakarta ke Depok, setelah itu sore harinya saya harus mengajar les privat, membantu mama membuat kue di rumah, dan pelayanan. Di saat tersebut saya belajar akan pentingnya mengatur waktu secara efektif.

Sekarang saya sadar bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk kita semakin terbatas dan tidak bergerak, tetapi justru supaya kita berusaha lebih keras.  Kalau bukan karena tekanan, saya pasti akan tenang-tenang saja, dan malas untuk berprestasi.

Saya menyadari bahwa ketika saya melakukan bagian saya, belajar tekun, melayani sungguh-sungguh, Tuhan memberkati segala sesuatu yang saya kerjakan. Seperti Yusuf sebelum peristiwa dalam semalam Tuhan mengangkat Yusuf menjadi perdana menteri Mesir, ada ribuan malam Yusuf harus tidur sebagai tahanan di penjara. Janji Tuhan tidak pernah gagal karena Yusuf harus masuk penjara. Ia harus mengalami banyak tekanan, dan menderita akibat hidup sebagai orang benar. Akan tetapi penyertaan Tuhan sangat nyata. Yusuf menjadi kepala sewaktu menjadi budak Potifar, dan menjadi orang kepercayaan yang bisa diandalkan di penjara.

Demikian juga, saya menyadari walaupun saya harus berjualan kue, gagap, tidak mampu membayar kuliah; penyertaan Tuhan sangat nyata. Tekanan dan kesulitan yang saya alami membuat saya lebih kuat dan berani menghadapi tantangan. Sampai hari ini, keluarga dan teman-teman bahkan yang belum percaya Tuhan sekalipun, harus mengakui adanya campur tangan Tuhan Yesus dalam hidup saya.

Marilah kita hidup dalam anugerahNya, percayai setiap Janji FIRMANNYA. Jangan merasa malu dengan kekurangan yang ada, sebab Tuhan tidak merasa malu dengan kita. Hanya ketika kita hidup dalam dosalah, seharusnya kita merasa malu. Mengucap syukurlah untuk setiap keadaan. Sewaktu kita melakukan bagian kita, Do The Best, maka Tuhan akan melakukan bagianNYA. Beranilah melangkah dan keluar dari keterbatasan kita. Kalau Tuhan bisa mengubahkan hidup saya yang dulu gagap, Tuhan yang sama yaitu Yesus Kristus juga sanggup mengubahkan hidup teman-teman!  Remember: Grace under Pressure… (Veli Sungono : velisungono@yahoo.com/Dosen UPH dan Peneliti di bidang HIV/AIDS)

Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.” Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup. (Ibrani 10:38-39)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: