“FIRST THING FIRST (MANAGEMENT)”

Amsal 4:7, “Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat dan dengan segala yang kau peroleh, perolehlah pengertian.”

Ada sebuah kutipan yang sungguh apik, dalam bahasa Inggris-“It is always the best course for us to let GOD choose and to follow HIS direction, knowing as we do that all our heavenly Father’s choice are prompted by infinite wisdom and love.”

Sebagai anak-anakNYA, kita harus membiasakan dan mengikatkan diri kepada “apa yang TUHAN mau dan kehendaki”, bahkan beberapa orang secara lebih radikal, berkata dan berdoa, “Lord, You must choose for me. I will not choose for myself.” atau, “GOD, what You want me to be?” dalam setiap kesempatan yang ada.

Berdasarkan hal-hal diatas, maka sangatlah baik dan benar ketika kita (pertama-tama) selalu meminta hikmat dari Tuhan, untuk apapun yang akan kita lakukan, prioritas apa yang harus diambil, fokus apa yang harus diperhatikan, bahkan “every step that we make, we must invite HIM to lead our way.”

Tetapi apakah cukup sampai disana? Rasa-rasanya tidak! Bagaimana bila suara Tuhan tidak dapat kita dengar secara audible dengan indera telinga kita? Atau suaraNya tidak dapat dirasakan dan dihayati dalam hati kecil kita? Sesungguhnya, hikmat yang kita minta dari Tuhan adalah sesuatu yang seharusnya dimaknai dan dimengerti dengan “pengertian manusia”, melalui firmanNya dan melalui orang-orang disekeliling kita yang (mampu) menjadi teladan, sebagai nara sumber untuk bertanya, berdiskusi dan memperbincangkan segala sesuatunya, termasuk “baik-buruk & untung-ruginya.” Namun demikian, keputusan terakhir tetap di tangan kita; sehingga kitalah yang bertanggungjawab atas pilihan (hidup, karir, pekerjaan, pernikahan, bahkan kematian) kita, karena kitalah yang melakukan pemilihan akhir dari pilihan-pilihan yang tersedia.

Jadi langkah-langkah apa yang seharusnya diambil dan dilakukan?

  1. Analisalah diri sendiri: “Who we are, where we are, and where we will go?”
  2. Konsep diri tentang pemahaman “arti sukses yang paripurna.”
  3. Yang terakhir, jangan pernah menyerah (“jangan pernah malu untuk berjuang”), namun demikian yang terpenting dari semuanya “jadilah diri kita sendiri, dengan segala kelebihan dan kekurangan, dan jangan pernah berharap kita menjadi seseorang yang lain; karena Tuhan telah menciptakan setiap dari kita unik, spesial dan seperti gambar Allah sendiri, serta seperti “rencanaNya yang indah dan agung.”

Jadi, bila semua langkah-langkah diatas sudah OK dan dilaksanakan (tentang “hal yang paling utama dan pertama”), tapi ternyata (masih) gagal, apa yang harus dilakukan?

Sebuah pepatah Cina berkata: “I hear and I forget, I see and I remember, I do and I understand.” Faktanya, untuk bisa mengerti, kita tidak cukup hanya dengan mendengar dan atau melihat, tetapi juga harus terus melakukannya. Jadi, selamat melakukan first thing first management, karena “it is really difficult but it is not impossible.” (Gunawan Winata, Konsultan Manajemen dan SDM, http://www.dsc-ina.web.id)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: