Hidup Dalam Komunitas

Di dunia ini ada dua jenis hubungan, yaitu hubungan mutualisme dan parasitisme. Yang pertama akan saling mendatangkan keuntungan, dan yang kedua sebaliknya, saling merugikan.

Dalam Kejadian 1:26 tertulis: “Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Dari ayat tersebut kita tahu bahwa Allah adalah Allah yang berkomunitas, sehingga IA menyebut “Kita” yang menunjukkan persekutuan lebih dari satu pribadi. Dan sebagai ciptaanNYA yang dikatakan “serupa dan segambar” dengan Allah, maka manusia diciptakan oleh Allah untuk hidup berkomunitas juga (baca: bukan sendirian). Tapi penting untuk diingat: hiduplah dalam komunitas yang akan membuat kita berubah menjadi pribadi lebih baik, dan bukan sebaliknya.

Satu penelitian menarik pernah diadakan untuk menyelidiki apakah manusia dapat hidup seorang diri. Seseorang dilarang keluar dari rumah atau berteman dengan siapapun, kecuali berhubungan melalui dunia maya. Apa saja yang ia butuhkan, akan terpenuhi melalui internet, entahkah itu memesan makanan, membeli barang tertentu, melakukan pembayaran, semuanya melalui internet, tanpa berinteraksi langsung dengan manusia lain. Hasil penelitian mengatakan bahwa dalam jangka beberapa bulan, orang tersebut mengalami gangguan mental. Penelitian ini mendukung teori bahwa manusia memang tidak dapat hidup seorang diri melainkan harus dalam komunitas yang sehat.

Mengapa manusia harus hidup dalam komunitas? Berikut 2 kenyataan penting untuk kita sadari sebagai jawaban dari pertanyaan tersebut:

#1: Manusia yang hidup dalam komunitas akan menjadi pribadi yang lebih baik, ketimbang bila ia hidup seorang diri.

Sebab dalam komunitas, kita akan dikoreksi, ditegur, dinasihati, diberi arahan oleh orang lain sehingga kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik.

Contoh kasus: seorang pemimpin dikatakan sebagai manusia yang paling kesepian karena dianggap oleh orang lain sebagai ”manusia super”. Dan akibatnya, tidak banyak orang yang berani mendekat/berteman dengan mereka (dengan berbagai alasan, segan, sungkan, dll). Itu sebabnya banyak pemimpin rohani yang mengalami “kejatuhan”. Setelah melayani Tuhan sekian tahun, akhirnya mereka jatuh dalam dosa, karena tidak hidup dalam komunitas/tidak memiliki teman.

Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. (Ibrani 10:25)

#2: Di dalam komunitaslah, masing-masing manusia akan mengerti panggilan hidup yang telah TUHAN tetapkan untuknya.

Orang lain akan melihat kelebihan, talenta dan kekurangan kita dengan lebih baik, dibandingkan kita sendiri. Itu sebabnya, di dalam komunitas yang sehat, teman kita adalah orang yang paling memungkinkan untuk memberitahukan kepada kita panggilan TUHAN yang harus kita hidupi.

Kesimpulannya: hiduplah dalam komunitas, karena manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah, yaitu untuk hidup berkomunitas! Oleh sebab itu, jalinlah hubungan baik dengan orang lain. Milikilah sahabat, teman, dan rekan kerja yang hidup dalam kebenaran Firman Tuhan, yang akan selalu membangun kita, dan bukan meruntuhkan. Maka kita akan berubah menjadi pribadi seperti yang TUHAN inginkan, dan menghidupi panggilan Tuhan! (Andy S. Setiawan-Pengusaha, Gembala GBI Setiabudi-Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: