DUA SAHABAT

Teman-teman yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. (1 Korintus 15:33 (KJV))

Baru-baru ini dunia hiburan Indonesia dibuat heboh oleh artis sinetron berinisial AB yang kabur dari rumah selama beberapa hari. Terlepas kenapa si AB bisa sampai kabur, kita selalu menemukan dalam kasus serupa (dan kasus kenakalan remaja lainnya) satu jawaban klise kenapa seorang remaja bisa berlaku demikian. Salah pergaulan.

Pergaulan memang penting. Orang bisa berubah jadi lebih baik atau lebih jahat dipengaruhi oleh dengan siapa dia bergaul setiap harinya. Atau dengan kata lain, siapa yang jadi sahabatnya setiap hari, seperti itulah nantinya dia.

Kebenaran klasik. Simpel. Klise. Tapi sejauh mana kita menghidupinya? Kenapa sampai sekarang angka kenakalan remaja semakin meningkat? Apa yang salah? Jawabannya jelas: KARENA mereka tidak punya sahabat baik yang bisa mengarahkan mereka ke jalan yang benar!

Ada dua ‘sahabat’ yang perlu dimiliki oleh setiap kita, yaitu:

Sahabat di Rumah

Orang tua dan anak memang beda secara generasi. Tapi bukan berarti tidak bisa bersahabat. Karena yang dibutuhkan untuk bisa bersahabat bukan umur, tapi kecocokan. Sama-sama suka kegiatan yang sama. Sama-sama suka makanan yang sama bisa jadi modal yang cukup untuk bersahabat dengan anak (atau orang tua) kita. Seperti kata C.S. Lewis, “Persahabatan lahir waktu seseorang berkata pada temannya, ‘Apa? Kamu juga? Saya pikir cuma saya saja yang suka ini…’”

Tapi ‘kan anak zaman sekarang seleranya beda dengan orang tua? Tidak juga. Namanya anak, pasti mewarisi DNA orang tuanya. Artinya pasti ada kesamaan. Tinggal kita cari apa kesamaan itu dan mulai ngobrol. Dan dari situlah persahabatan lahir.

Tidak peduli apakah peran kita sebagai orang tua atau anak, kita selalu bisa memulai persahabatan di rumah. Banyak penelitian yang membuktikan kalau seseorang di rumahnya ‘benar’ maka di luar juga bisa dipastikan hidupnya akan ‘benar’.

Sahabat secara Roh

Apa yang terpikir oleh Anda kalau kita membahas tentang sahabat? Wajah orang yang Anda sayang? Teman seperjuangan? Tapi pernahkah terpikir tentang Tuhan kalau kita membahas sahabat?

Kita sering kali mengasosiasikan sahabat dengan seorang manusia. Padahal kalau kita baca Alkitab, kita akan menemukan ayat-ayat yang mengatakan kalau Tuhan juga ingin bersahabat dengan kita. Contohnya di Imamat 10:3, Ayub 29:4, Mazmur 25:14. Bahkan Yesus sendiri menyebut murid-murid-Nya sahabat (Yohanes 15:15).

Bagaimana caranya bersahabat dengan Tuhan yang tidak terlihat? Yohanes 15:14 memberi tahu kita caranya, ‘Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.Kita menjadi sahabat Allah dengan taat kepada-Nya. Sesederhana itu.

Lalu, dari mana kita tahu apa yang Dia perintahkan? Dengan menyediakan waktu kita untuk membaca Firman-Nya, berdoa, supaya kita tahu apa yang Dia mau.

Tidak ada persahabatan yang terjadi dalam waktu semalam. Baik kita mau membangun persahabatan dengan orang tua (atau anak) kita dan dengan Tuhan, tetap ada waktu yang harus kita korbankan dan harga yang harus kita bayar. Tapi percayalah harga yang kita bayarkan tidak akan sebanding dengan hasil yang kita dapatkan. (denny pranolo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: