Indah pada waktuNya

Pada 2002 saya bergabung dengan persekutuan Youth GBI di Jakarta Barat Karena membutuhkan wadah untuk punya lebih banyak teman. Saya senang hidup berkomunitas bersama saudara-saudari seiman karena banyak sekali hal yang saya pelajari dan lakukan sebagai orang percaya.

Hampir lebih dari 2 tahun kami hidup berkomunitas tanpa dicampuri keinginan anak muda untuk cepat-cepat pacaran dan eksklusif. Ada beberapa anak muda yang menurut saya menonjol saat itu, khususnya dalam kecintaan mereka kepada Tuhan dan jiwa-jiwa. Salah satunya adalah yang akhirnya menjadi pasangan hidup saya sekarang.

Setelah lewat dari 2 tahun, saya percaya Tuhan yang memberikan kesempatan untuk kami bisa menyadari ada hubungan khusus di antara kami. Sebelumnya saya tidak pernah berpacaran dan memang menginginkan hanya satu kali berpacaran lalu menikah. Itu sebabnya saya sangat berhati-hati dalam hal pasangan hidup. Terkadang juga tidak dipungkiri ingin mendapat yang ideal dari Tuhan, kerohaniannya baik, mapan dan fisiknya seperti keinginan saya.

Tapi pasangan saya secara fisik jauh dari bayangan saya. Saya menginginkan pria yang lebih tinggi, tetapi dia sebaliknya. Tapi dia selalu percaya diri, ini yang saya suka. Dan lewat perjalanan rohani bersama Tuhan, saya punya iman bahwa pasangan saya akan diberkati melimpah-limpah (walaupun waktu itu belum mapan seperti yang saya inginkan). Lalu saya meminta konfirmasi dari Tuhan yaitu orang tua saya akan menyukai pilihan saya, dan ini TUHAN jawab. Akhirnya kami berpacaran, selama hampir 4 tahun.

Banyak hal yang dibentuk TUHAN dalam hubungan kami. Termasuk karakter dan standar hidup serta pola pikir yang bisa membahayakan kami di dalam pernikahan kami sadari sebelum menikah. Saya bersyukur karena gembala kami menyatakan dengan tegas bahwa kami punya banyak perbedaan secara usia, gender, tingkat kerohanian, latar belakang pendidikan (dokter dan manajemen), serta temperamen. Pertanyaannya sederhana apakah kami dapat menerima satu sama lain apa adanya sekalipun ada yang tidak dapat diubah. Saya rasa itu adalah salah satu prinsip yang saya pegang dalam menguji ketulusan hubungan pacaran kami.

Sempat kami alami menjelang tahun pernikahan di Desember 2008 masa-masa kritis karena tekanan  yang ada dan ketidaksesuaian harapan masing-masing. Tetapi satu hal yang kami percaya adalah ketika kita melangkah dengan iman, kasih dan pengharapan serta terus mengakui Tuhan dalam jalan kita, maka Tuhan akan terus meluruskan langkah kita sampai semua indah pada waktunya.

Akhirnya kami menikah di 7 Des 2008 dengan tema pernikahan “Indah Pada Waktunya”. Kami bahagia sekali bisa melihat kedua keluarga besar kami bisa saling mengenal dan menerima. Hadiah terbesar di awal tahun 2009 setelah pernikahan adalah kami dipercayakan membuka wadah komsel pasutri (pasangan suami istri). Kami melihat bagaimana keberhasilan dan kegagalan kami dalam membangun hubungan bisa jadi kesaksian dan dorongan bagi mereka yang membutuhkan. Not just sharing success, but also sharing suffering. (Merry-DM GBI Tanjung Duren)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: