Semua karena Tuhan

Beberapa tahun lalu, saya mulai suka menulis diary setelah dipaksa oleh sahabat untuk mencatat pelajaran yang saya dapat dari TUHAN lewat keseharian hidup. Lalu dalam satu kesempatan, saya harus menulis liputan acara yang seharusnya dibuat oleh seorang teman baik lain yang jago nulis. Saya berusaha memberikan yang terbaik. Dan hasilnya? “Tulisannya jelek!” adalah komentar atasan yang saya terima. Haduuhh! Hati saya rontok rasanya. Tapi coba saya reparasi dengan berkata ke diri sendiri, “Ya udah terima aja, memang tulisanmu jelek kok, masa mau dibilang bagus?!” Dan saya agak lega setelah mengakui tulisan saya memang “tidak memenuhi harapan atasan”.

Puji Tuhan, saya tetap (berlanjut) menulis diary yang tidak perlu dikomentari oleh siapapun. Dan seiring berjalannya waktu, entah kapan, saya merasa ada perubahan dalam gaya menulis. Lebih rapi dan sistematis. Saya mulai berani mengetiknya dan mengirimkan lewat email ke beberapa teman baik. Komentar mereka mengagetkan! “Bagus!” katanya (walaupun dari sisi melankolis saya merasa komentar mereka “berlebihan”. Masa sih bagus?” Saya masih kurang yakin).

Hmm… tapi… “Saya nggak bisa nulis panjang-panjang!” kata saya ke seorang penulis yang TUHAN pertemukan dengan saya lewat sahabat.  “Nggak apa-apa, setiap orang kan talentanya beda-beda!” jawab penulis tersebut.  Dan saya pun terus menulis, lebih bersemangat lagi.

Satu ketika, saya punya keinginan lebih. Kepingin diary saya dijadikan buku. “Siapa yang mau terima tulisan saya ya?”, “Punya nilai jual nggak nih?” dll pikiran yang bikin saya tambah pusing. Sampai akhirnya Tuhan memberikan saya dorongan semangat lewat sahabat saya, “Kan motivasinya untuk jadi berkat! Kenapa harus takut?” Saya mencoba memberanikan diri bertanya ke beberapa teman dan mengirimkan email atau menelepon beberapa penerbit menanyakan prosedur pengiriman naskah. Tapi tetap saja saya takut…takut ditolak.

Sampai akhirnya saya benar-benar berani dan ternyata hasilnya mengejutkan! Ada dua penerbit yang menerima, dan dua penerbit yang menolak. Dan setelah melewati proses yang buat saya “berat” tapi sangat berharga, TUHAN mengajari saya bahwa hidup ini tidak pernah lepas dari campur tanganNYA! TUHAN membuat saya tidak putus asa untuk terus menulis walaupun hanya lewat sebuah diary pribadi. TUHAN telah memberikan sahabat terbaik yang selalu mengelilingi saya seperti pagar, terutama ketika sedang menghadapi “perasaan campur aduk” dalam masa-masa menunggu naskah saya diterima dan diterbitkan. TUHAN juga mempertemukan saya dengan orang-orang yang tepat termasuk penerbit yang tepat pilihanNYA! Dan Puji Tuhan, pada awal Desember 2009, buku yang telah saya nanti-nantikan, didukung doa oleh para sahabat, akhirnya terbit juga. Semua karena TUHAN Yesus! (Erna Liem, penulis buku “God, me and my diary”-Penerbit PT Shofar Global Media)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: