Pasanganku…

Setelah kenal Tuhan sungguh2, dan memasuki umur 20, saya mulai berdoa untuk pasangan hidup. Pengennya ketemu pacar, yang seiman, sepadan, yang jelas mendapatkan saya sebagai pasangan hidupnya dari Tuhan. Itu cita cita saya waktu itu.

Setelah menjalani masa2 sendiri ternyata banyak godaan. Ada cowok ganteng lewat, ada cowok perhatian yang naksir, ada cowok yang berkesan rohani yang menyatakan cinta. Hmm…saya bingung.. sebenarnya mana sih, yang dari Tuhan? Mau cap-cip-cup kembang kuncup, rasanya gak mungkin (gak rohani doong).

Saya coba jalani persahabatan dengan beberapa cowok tadi, sambil terus berdoa dan ngeliat, apakah keadaan rohani saya makin baik atau merosot. Setelah bergaul dengan mereka, apakah saya masih mempertahankan kata2 saya yang bersih, masih menjaga kekudusan dan masih mengutamakan Tuhan diatas segalanya. Setelah saya cek… Ternyata enggak tuh! Kerohanian saya malah merosot dan membuat saya jauh dari Tuhan. Jadi, saya putuskan komitmen sungguh-sungguh untuk berdoa mendapatkan pasangan dari Tuhan. Kalau gak seiman, langsung saya coret dari “list”.

Kenyataannya, mencari pasangan hidup itu gak segampang membalikkan tangan, gak segampang “gue naksir loe, loe naksir gue, berarti kita pasangan dari Tuhan!” Atau misalnya loe putih, gw putih, loe pinter, gw pinter, loe batak, gw batak, loe tinggi, gw tinggi, loe hobinya sport, gw juga. Atau  loe hobi masak, gw hobby makan. Hmm.. rasanya pasangan dari Tuhan gak sesimpel itu yaa. Seperti kehendak Tuhan, ada yang baik, berkenan dan sempurna, saya memilih untuk mencari kehendakNya yang sempurna.

Setelah bergaul dengan teman-teman di gereja sampai teman-teman pelayanan di kampus, akhirnya… saya menemukan seorang pria yang “special” buat saya. Dia gak hanya membuat saya terkesima dengan fisik/penampilannya, karakternya yang gak banyak ngomong dan simpel, tapi diatas semuanya itu, saya melihatnya sebagai orang yang mencintai Tuhan sungguh-sungguh. Ini  poin sangat penting dalam mencari pasangan hidup. Tapi untuk memutuskan komitmen diantara kami, juga gak cukup hanya rasa suka, cinta, dan sama-sama cinta Tuhan. Kami mau perkenanan Tuhan atas hubungan ini, saya adalah pasangan dia, dan dia adalah benar-benar pasangan saya.

Setelah pria tadi menyatakan cintanya, saya belum berani melangkah. Kami lalu memutuskan ambil waktu berdoa puasa untuk hubungan kami, minta peneguhan dari Tuhan, tanda dari Tuhan. Saya percaya Tuhan gak tinggal diam. Kalau kita cari Tuhan terus menerus, Tuhan pasti kasih jawaban doa. Dan kami pun mendapat peneguhan lewat mimpi, Firman Tuhan, dan lewat pemimpin rohani yang puji Tuhan selalu mengcover kami, sehingga kami tetap mengandalkan Tuhan..

Setelah yakin kami benar benar pasangan dari Tuhan, akhirnya kami berani mengambil komitmen untuk memasuki fase pacaran yang juga kami lewati dengan terus mengandalkan Tuhan. Kami ambil waktu sekali seminggu berdoa puasa untuk hubungan kami. Sehingga pada waktu proses datang, kami tetap kuat berdiri, karena kami yakin kalau hubungan ini datangnya dari Tuhan. Kami memulai hubungan kami dengan dasar yang kuat dari Tuhan. Jadi sekalipun ada yang berusaha untuk menghancurkan hubungan ini, kami cukup kuat untuk melewatinya, karena kami memulainya bersama Tuhan.

Proses berpacaran selama 5 tahun kami lewati, keadaan kerohanian kami semakin bertumbuh dan puji Tuhan kami memasuki fase pernikahan (ini tahun ke-10 buat kami) semua karena kemurahan Tuhan..! (Vera Tobing, wiraswasta)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: